Backpack ke Ujung Genteng Part 1

Ujung Genteng, 1- 3 Januari 2010 sebuah backpacking yang meninggalkan banyak cerita dan pengalaman untuk di share di blog ini. Selain sebagai nirwana pantai selatan, daearah yang ada di Kabupaten Sukabumi bagian selatan ini  tak ubahnya seperti surga traveller yang ditunjang dengan spot- spot wisata lain yang ada di sekitarnya.

Jalan- jalan bareng Amri kali ini diikuti 9 orang dari berbagai kalangan diantaranya  dari pojok kiri bawah ke kanan : Novi Muharrami sang wartawan Okezone, Ratu Sya dari blogger Bekasi, Lalas Sulastri sang penikmat backpacking, Kiki Kartini Phsikolog dari UI, Reza N Sanusi (icha) sohib kongkow, Aga Wahyu sohib kongkow, Hidayat Abdullah dari Indobackpacker, Dodi Mulyana sang ketua blogger Depok dan saya sendiri sang penggoda wanita… tsaaah!!!

DAY I, 1 Januari 2010

08.00 Meeting Point Pertama di Depan Giant Mampang Prapatan

Mata sepet akibat shift malam, tak menyurutkan semangat saya berangkat ke Ujung Genteng. Jam 8 pagi ketemu Kiki di depan Giant Mampang kemudian jalan kaki menuju perempatan fly over Kuningan untuk cegat bus P6. Keluarlah biaya pertama untuk bus tersebut Rp.3000 *cring*.

09.00 Meeting Point Kedua di Depan Alfamart Jalan Baru, Kampung Rambutan

Awal kekompakan tim backpacker yang bagus, seluruh peserta datang tepat waktu jam 9 pas tidak ada yang telat satupun. Sebelum berangkat, saya sempatkan untuk membreafing dan memimpin doa supaya selamat sampai tujuan, sesuai jadwal dan itinerary juga semoga budget tidak membengkak, Amiiin. Setelah berdoa, bus patas tujuan Sukabumi yang kami cegat selama setengah jam tidak kunjung lewat. Yang lewat hanyalah bus ekonomi, itupun penumpangnya penuh dan berdiri.Kami memutuskan naik angkot menuju terminal Kampung Rambutan untuk mencari bus yang masih kosong dengan tarif angkot Rp.2000 *cring*. Masuk terminal ditodong para penjaga terminal untuk dikenai retribusi Rp.500 *cring*.

10.30 Menuju Sukabumi, Kesialan

Berhubung waktu sudah semakin siang,dan bus patas/AC gak kunjung ada,terpaksa kami memilih bus ekonomi. Untung di Terminal Kampung Rambutan bus masih kosong, jadi kami dapat tempat duduk. “mak jreb…”, hati yang kaget ketika melihat bus tak bermerek ini pintunya mau copot dan diikat tali tambang kedalam badan bus! Fyuuuuh.. Kaca depan bus retak- retak, bahkan kaca samping di tempat duduk saya yang terbuka itu tidak bisa ditutup! Penderitaan di dalam bus bertarif Rp.16.000 *cring* ini semakin lengkap dengan semakin banyaknya penumpang yang dipaksakan naik. Full, panas, sesak dan bau keringat dimana- mana. Berhubung saya duduk di depan sendiri, maka dihadapan saya ada sedikit ruang untuk berdiri penumpang.. Ya, betul selama 2 jam hanya melototi pantat- pantat orang yang berdiri di depan saya, sekali lagi, pantat!!!. Sopirnya sudah tua, ugal- ugalan pula. Sesekali bus berhenti di pom bensin dan ternyata…. wahai pemirsa sekalian.. ternyata mesin depan bus panas dan harus disiram air 2 ember *paraah!!.. saya dan novi ngikik sembari tepok jidat*.

14.30 Tiba di Terminal Sukabumi, Makan Siang

Setibanya di terminal Sukabumi, kami jalan kaki 100 meter meninggalkan terminal dan mendapatkan warung makan ajib dan enyaaak, beli sate ayam Rp.9000 *cring* ditambah jus alpukat seharga Rp.5000 *cring*. Berdasarkan informasi peta mulut (alias tanya2) kami diharuskan naik angkot warna kuning seharga  Rp.5rb *cring* menuju terminal Lembur Situ supaya bisa menuju Surade.


15.30 Sensasi Naik ELF

ELF, merupakan kendaraan khas daerah Sukabumi semacam angkot tapi duduk menghadap depan. Setiba di terminal Lembur Situ kami langsung disambut calo bak selebritis, diwawancarai ini- itu “Mau kemana ? Surade? Ujung Genteng? Sini- sini.. ayo naek”. Kami sempat berantem dengan salah satu calo ELF tersebut, karena ELF yang sudah penuh tinggal 4 orang lagi, kok dipaksain untuk kami yang bersembilan, cih.. dikira kasur bisa dilipet- lipet! Akhirnya kami memilih ELF yang janggol di belakangnya seharga Rp. 27.000  *cring* melewati Surade, bahkan diturunkan langsung di depan resort Amanda Ratu. Di terminal ini saya juga beli rambutan seharga Rp.9rb *cring*. Luaaaar biasa, sepanjang perjalanan sopirnya ugal- ugalan, melewati jalan sempit, naik gunung turun gunung dan berkelok kelok. Saking kencengnya, sesekali bokong bergeser ke kanan dan kiri, badan tergoncang ke atas seperti naik kuda lengkap dengan kepala kejedot di pegangan mobil. Wahana extream DUFAN ? kalaaah.. lebih extream naik ELF ini, pantes di samping mobil tergantung plastik yang disediakan untuk muntah.

20.00  Bermalam di penginapan/ Resort Amanda Ratu

Resort paling bagus dan dibangun di areal perkebunan kelapa ini tempat bermalam kami. Yang namanya backpacker ya tetep backpacker, meski nginap di resort mahal ya tetep disiasati supaya murah. Hahaha, kami menyewa 1 malam dengan villa tipye penyu seharga Rp. 500rb *cring*  dengan 1 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 kamar mandi shower, AC, dan TV kecil. 1 kamar di share bersembilan donk biar murah, untung spring bed dari kasur tersebut double dua, jadi bisa buat tidur rame- rame.Yang lain pada antri mandi, malamnya saya dan dodi berenang di kolam renangnya yang bagus itu. Kemudian jam 21.00 makan malam di restorannya dengan menu nasi goreng ati Rp. 12rb *cring* dan lemon tea Rp. 7rb *cring* itu belum termasuk pajak service 25%.. Semuanya langsung tercengang melihat service tax semahal hotel berbintang 5 itu, ya lupakan sajalah! Jam 11 kami segera tidur dan mengumpulkan tenaga untuk esok hari.

Saat pagi hari di resort Amanda ratu, kita bisa melihat pemanjat pohon kelapa untuk diambil airnya yang akan di jadikan gula kelapa dan nira. Fasilitas yang disediakan di resort Amanda Ratu diantaranya restaurant, convention hall, karaoke, kolam renang, heli pad dan masjid.

DAY II, 2 Januari 2010

05.30 Berburu Sunrise di Tanah Lot Amanda Ratu

Di Amanda Ratu terdapat pulau kecil (pulau Karang) yang mirip Tanah Lot di Bali, yang merupakan ujung dari muara sungai Cikarang.Ya ya ya, meski gak sebagus tanah lot di Bali, setidaknya ketika sunrisenya lumayan bagus :

08.00 Check Out, Menuju Curug Cikaso

Setelah check out, kami berjalan kaki keluar Amanda Ratu menuju jalan raya yang menghubungkan Ujung Genteng- Amanda Ratu- Surade. Disinilah kami ditakdirkan ketemu dengan sopir angkot yang baik hati bernama mang Udui. Setelah tawar- menawar akhirnya kami sepakat sewa angkot dari pagi sampai sore sesuai rencana trip kami seharian yaitu dari Amanda Ratu- Curug Cikaso- Curug Cigangsa- Goa Sungging- Ujung Genteng seharga Rp.300rb *cring* 1 angkot, kekekeke  murah sekali!!! Angkot kami berangkat diselimuti semangat para penumpangnya yang saling bercanda di dalamnya. Dari Amanda Ratu menuju Surade kemudian belok di pertigaan yang menuju curug Cikaso selama 1,5 Jam. Sebelum masuk curug Cikaso, diwajibkan naik kapal menyeberang sungai selama 5 menit seharga Rp. 6rb/ orang *cring* plus tiket masuk seharga Rp. 2rb/ orang *cring*. Sebenarnya bisa tanpa naik kapal dengan menyusuri tepi sungai melewati pematang sawah, tapi berhubung kami suka yang formal-fomal… ya naik perahu deh.

Bak Lukisan, Curug Cikaso memang luar biasa. Kombinasi dari hijaunya lumut, putihnya air dan birunya langit membuat curug yang berjejer 3 ini mempesona.

11.00 Menuju Curug Cigangsa

Belum sarapan pagi maupun makan siang, perjalanan dilanjutkan. Berbagai makanan ringan ternyata masih bisa mengganjal perut yang kosong. Angkot mang Udui segera di starter menuju Curug Cigangsa. Perjalanan Cikaso- Cigangsa sekitar 1 jam melewati jalan makadam berbatu dan berlobang yang merupakan proyek pemerintah yang tak kunjung selesai. Tiba di Cigangsa, angkot dititipkan salah satu rumah penduduk. Dan kami diantar ke curug Cigangsa oleh penduduk sekitar ( semacam guide ) dengan uang tip Rp.25rb *cring* karena saat musim hujan air sungai yang kami seberangi cukup deras, jadi perlu guide. Beberapa orang dari tim kami sempat kepleset, bahkan sandal Novi hanyut disungai terjun bersama air, hahaha justru inilah serunya.

Curug dengan tinggi sekitar 20 meter ini airnya deras,  licin, dihiasi bebatuan sebagai landasan air mengalir.

12.30 Makan Siang

Puas dengan curug Cigangsa, perjalanan di lanjutkan. Kami berhenti di alfamart surade untuk beli berbagai makanan ringan. DIlanjut makan siang bakso dan teh botol seharga Rp.12rb *cring*. Setelah kenyang, langsung berangkat ke gua Sungging memakan waktu 45 menit dari Surade.

13.30 Mistis di Gua Gunung Sungging

Gua Sungging, gua yang katanya ada di gunung Sungging ini ternyata tidak terlalu gunung- gunung amat, wong letaknya aja di sawah- sawah. Angkot di parkir di sekitar rumah penduduk. Oleh mang Udui kami diketemukan dengan juru kunci Gua Sungging kalau gak salah namanya engkong Entab yang turun temurun telah mejaga gua. Busyet marusyeeet, pintu gua tersebut cuman berukuran 1×1 meter dan bisa dikunci pula, seperti almari saja. Bersama 1 buah lampu petromax, rombongan kami menerobos gelapnya gua. Di dalam goa ternyata luas, licin, sedikit kerikil, becek dan berlorong- lorong. Tiba di pemberhentian pertama di lorong gua, pak Entab menunjukkan sebuah patung 2 harimau yang saling berpelukan. Adalah Kiki satu- satunya rombongan kami yang saat di goa Sungging memiliki kepekaan mengenai hal- hal gaib. Ya betul, saat pemberhentian pertama di patung 2 harimau, mendadak kiri berteriak histeris ” mbak.. mbak ada mayat mbak ada mayat” …. Hah??? rombongan kami langsung merinding, karena memang selain Kiki, kami memang tidak melihat apa- apa disekitar situ. Menurut Kiki, dia melihat bapak- bapak tidur telentang di bawah patung harimau, grrrr…Kami mencoba mengalihkan perhatian Kiki supaya tidak panik dan terus melangkah menuju lorong- lorong gua yang lain. Sesekali setiap melewati belokan atau sebuah ruangan di dalam gua, pak Entab membunyikan isyarat ” Ehem, ehem”.. Astaga, ini ternyata isyarat pak Entab untuk izin kepada sesuatu bahwa rombongan kami lewat, errrr.  Tiba disebuah batu gede mirip lidah kami berfoto- foto :

Ornamen stalaktit dan stalakmit menghiasi Gua Sungging, semakin masuk ke dalam gua udara semakin pengap, keringatpun bercucuran. Gua ini masih asli dan alami, belum ada perubahan/ renovasi dari tangan manusia.

Lampu petromax terus digiring, beberapa teman kami kepalanya kejedot atap gua yang rendah, bahkan si Aga kepleset.. Sepanjang perjalan ternyata Kiki masih dibayang- bayangi penampakan, entah yang berwujud manusia seperti orang- orangan sawah tinggi gede maupun anak kecil mirip tuyul.. Astajiiiim *dilangsir cerita Kiki ketika sudah keluar gua*. Sebenarnya Kiki masih bertahan dan ngotot masih bisa melanjutkan perjalanan padahal dengan kondisi ketakutan dan muka ditutupin topi, tapi kami memutuskan berhenti dan keluar gua melihat kondisi Kiki yang tidak memungkinkan. Akhirnya belum 1/4 dari total trip menelusuri Gua Sungging kami keluar gua dengan prinsip apabila salah satu diantara kami ada yang tidak memungkinkan, jangan dipaksakan dan harus segera keluar demi keselamatan bersama. Ya, inilah terasa kebersamaan kami.. *tsaaah*.

Ketika sudah keluar dari gua, kami berbincang- bincang dengan pak Entab selaku juru kunci sekaligus curhat tentang kejadian- kejadian di dalam gua. Nasehat dari pak  Entab gak usah takut, memang tidak semua orang bisa melihat hal- hal gaib dst…Okey, kami berpamitan ke pak Entap tanpa ketinggalan uang tips + petromax yang sudah disepakati sebelumnya sebesar Rp.130rb *cring*.

Well well, berhubung tulisan diatas sudah terlalu panjang, maka saya bagi kedalam 2 part. Tapi tenang, di postingan yang kedua nanti makin banyak cerita seru, anda akan merasakan  dan mengikuti bagaimana menjadi saksi hidup  pelepasan tukik, mengikuti proses penyu bertelur, perjuangan menuju pantai Ombak Tujuh sampai rafting di samudera hindia dan tak ketinggalan informasi, saran lengkap dengan perhitungan biayanya. Silahkan dibuka :

Backpack ke Ujung Genteng Part 2

About the Author

Tinggalkan komentar sebagai wujud apresiasi anda! Ingin kenal atau jalan bareng? add facebook di lathifulamri@gmail.com

4 Responses to “ Backpack ke Ujung Genteng Part 1 ”

  1. kaya’a seru tuh…

    gw n temen2 rencana’a mau k’ujung genteng tanggal 17 sep ini…

    minta saran’a donk apa aja yang d’butuhkan n info2 lain’a…

    transportasi’a menggunakan motor…

    thank u…

    [Reply]

  2. Seruu trip nya.
    Rencana mo ke ujung genteng juga, baru survey lokasi, infonya sangat membantu. mksh.

    [Reply]

  3. mas amri..ijin sharing yah.. ;)

    [Reply]

  4. nice website…

    [Reply]

Leave a Reply

You can use these XHTML tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <blockquote cite=""> <code> <em> <strong>