Backpack ke Ujung Genteng Part 2
Cerita backpacker ke Ujung Genteng tidak selesai begitu saja, melanjutkan dari postingan sebelumnya postingan yang kedua ini banyak sekali kejadian- kejadian yang diluar dugaan.
15.30 Check In di Penginapan Pondok Adi
Dari Gua Sungging menuju penginapan Pondok Adi yang berada di depan persis pantai Ujung Genteng sekitar 1 jam. Tiba di penginapan cuma naruh bawaan, tanpa mandi tanpa apa kami langsung telp pak Adi yang punya penginapan, kemudian kami diketemukan dengan salah satu tour guidenya yang bernama mang Udin. Okey, oleh mang Udin kita ditawarin ojek menuju pantai pangumbahan untuk melihat pelepasan tukik. Setelah proses tawar menawar ala pasar induk, disepakati Rp.35rb *cring* PP. Eh iya sampai lupa, penginapan Pondok Adi sendiri berupa rumah panggung, bertembok kayu. Kebetulan kami menyewa yang tipe ombak tujuh, berfasilitaskan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tengah seharga Rp.400rb *cring*.
16.30 Pelepasan Tukik di Pantai Pangumbahan
Dari penginapan Pondok Adi ke pantai Pangumbahan sekitar 15 Menit menunggangi ojek. 9 sepeda motor beserta pengemudinya sudah menunggu kami di depan, terpaksa belum mandi langsung ke pantai. Jalanannya becek, menerobos semak- semak, ngepot- ngepot di pasir serrrrr… Tiba di pantai pangumbahan, kami hampir telat. Bersyukur kami masih dapat kesempatan pelepasan tukik aka anak penyu itu :
Tukik- tukik ini dilepas, bebas, berpetualang di dunia mereka sebenarnya. Konon menurut filem Ocean World 3D yang saya tonton, dari ratusan yang dilepas, hanya 1-5 saja yang selamat. Wow..
17.30 Berharap Sunset Pantai Pangumbahan
Usai melepas tukik, saya baru sadar ternyata pantai Pangumbahan bagus banget. Ombaknya berderu- deru. Suasana pantai Pangumbahan ramai, maklum tahun baru. Mendung, maklum musim hujan. Tampaknya sang surya memang betul- betul malu terhadap kami, nyatanya dia hanya bersembunyi dibalik mendung. Tapi tetep kami tidak mati gaya, ada pasir terbentang luas kok gak dimanfaatkan, ya langsung jepret sana- jepret sini.
Target kami di pantai Pangumbahan adalah sunsetnya, alhasil aksi mati gaya ditengah mendung lumayan bisa dijadikan oleh- oleh
18.15 Balik ke Penginapan, Dodi yang malang
Saking asyiknya foto loncat- loncat, gak kerasa sudah malam. Saat keluar pantai pangumbahan, kami di stop oleh petugasnya, e e e… ternyata melepas tukik tadi itu mbayar toh, kirain gratis *kekekeke* Rp. 5rb/orang *cring*. Rombongan ojekers berangkat, beberapa ojek lampunya tidak ada.. Lah?? nanti kalau nyungsep di pasir dan semak- semak gimana pak!! Well, adalah korban bernama Dodi Mulyana yang ternyata ojeknya mogok alias busi motor mampus ketika awal- awal meninggalkan pantai Pangumbahan. Sialnya lagi, ojek dia dibelakang sendiri dan hilang kontak. Sepertinya Dodi dan ojeknya nyangkut di semak- semak, hahaha. Ketika kami ber 8 sudah sampai penginapan, baru dapat sms dari dodi kalau ketinggalan, akhirnya bantuan dikirimkan.
19.00 Makan Malam Yang Lama
KELAPARAN, karena siangnya kami hanya makan bakso. Berhubung mengejar waktu untuk melihat penyu bertelur, kewajiban mandi kami skip dan langsung nyari makan dengan jalan kaki 1 kilometer di sebuah rumah makan, kalau gak salah namanya Bahari. Tepat di depan rumah makan ini, berjejer- jejer warung remang- remang lengkap dengan anuan dan disko- diskoannya. Walaaaaah… pantes, lha disono anginnya kuenceeng, *seeer*. Sambil menunggu makanan yang dipesan, kami sharing soal resolusi 2010. Gak jauh- jauh, resolusinya ya cinta, kerjaan, masa depan, jodoh dll. Tak terasa setengah jam sharing resolusi selesai, makanan belum datang. Setelah ditanya, sepertinya belum dimasak. Haah!!. Akhirnya kami siasati dengan menu yang sama, yaitu nasi goreng semua deh tanpa seafood-seafoodan. Setelah nunggu 1,5 jam akhirnya nasi goreng datang. Dengan muka manyun kami mencoba mencicipi dan ternyata rasanya anyep kurang garam kurang bumbu. Nunggu 1,5 jam tidak sebanding dengan kualitasnya bok!!!. Okey, kami segera nyelonong pergi dengan bayar Rp. 19rb + teh manisnya *cring*.
21.00 Penyu- Penyu itu Bertelur di Pantai Pangumbahan
Para tukang ojek sudah kami suruh menunggu di depan rumah makan, berangkaaaat… Eits, ojeknya bayar lagi sebesar Rp.35rb *cring*PP. Setelah 20 menit perjalanan melewati semak- semak dan berpasir tibalah di pintu masuk pantai Pangumbahan. Dan ternyata.. rame banget bok, liburan tahun baru memang banyak dimanfaatkan para pelancong untuk melihat penyu bertelur. Tidak lupa bayar tiket masuk ke petugas, Rp. 5rb/orang *cring*. Ternyata penyu- penyu itu bertelur jam 11 malam pemirsa, jadi kami nunggu sekitar 1,5 jam. Mati gaya? tidak juga. Sedangkan para pengunjung lain yang bengong alias melamun karena antri menunggu giliran, kami malah ketawa-ketiwi asyik sendiri. Duduk melingkar, menseting slow speed pada kamera dan menyalakan handphone sehingga terlihat silau di kamera, membuat suatu tulisan, bangun dan lain2. Serentak para anak- anak kecil itu mengerumuni kami yang asyik duduk melingkar bermain slow speed kamera, bahkan ada bapak2 dan ibu2 yang pengen tau apa yang kami asyikkan, bwahaha makanya join tim kami donk pak!!!.
Jenis penyu hijau ini panjang 1,5 meter dengan berat 250 kg bisa bertelur hingga 100-200 butir. Bermain lampu handphone dan membuat tulisan u.genteng dengan menset slow speed kamera adalah salah satu cara anti mati gaya, sembari menunggu 1,5 jam penyu bertelur
Akhirnya jam 11 kami medapat giliran masuk, dengan tiket sip 1 ( padahal maksudnya shift, sunda mode on). Pantai pangumbahan ternyata terang, lha wong ada bulan di langit. Sial, ternyata penyunya gak mau bertelur di dekat- dekat pintu masuk, malah bertelur di ujung jauh. Jadinya jalan kaki 2 km, hufff. Berhubung ramai, kami gak bisa narsis- narsis di depan penyu bertelur, tapi gak papa lah. Melihat penyu bertelur sangat berkesan.
Day III
01.00 Balik ke Penginapan
Tiba di penginapan, gak ada yang mandi karena sudah malam. Kamar mandi cuman satu, males ngantri mending tidur, ngantuk *alesyan*. Paginya bangun jam 6 dan ternyata hujan deras, tidur lagi sampai jam 7. Berhubung jam 12 harus check out, kami harus pintar- pintar memafaatkan waktu, karena berencana ke pantai Ombak Tujuh yang katanya fenomenal itu. Okey, saya langsung telp tukang ojek dan nego harga ojek menuju kesana. Awalnya si pimpinan ojeknya gak berani ngantar naik ojek, karena jalannya sulit, apalagi habis hujan. Ditawarin naik perahu saja menuju Ombak Tujuh, berhubung cuaca buruk dan ada yang gak bisa renang, kami tetep ngeyel naik ojek. Okey, tawar- menawar sudah deal, sepakat menuju pantai Ombak Tujuh dengan harga Rp.130rb *cring*. Yang lain pada sarapan nasi uduk, tapi saya masih kenyang jadi gak sarapan.
09.00 Empat Jam Offroad Menuju Pantai Ombak Tujuh
Bismillah, perjalanan nekat ini dimulai! Start jam 9 dengan 9 ojek. Nomalnya perjalanan memakan waktu 1,5 jam, nyatanya? lihat saja ntar. Trip pertama kami melewati jalanan bermakadam (belum diaspal, masih batu-batu) yang cukup membuat perut mual. Kemudian dilanjut melewati kebun kelapa, licin sekali. Motor yang saya tumpangi kepleset 3 kali. Lumpur menempel semua di roda, ngepot, selip. Mang ojek yang mbonceng saya sialnya sudah agak tua, kasihan juga jatuh melulu. Ojek terus berjalan perlahan, disanggah dengan 2 kaki biar tidak jatuh, sesekali saya harus turun untuk mendorong motor yang selip. Tak ketinggalan bokong geser kanan-kiri depan-belakang. Apa iya bisa sampai tujuan kalau kondisi jalan seperti ini ?, khawatir dalam hati. Ahsudahlah, ojek kembali digeber melewati semak belukar, padang ilalang, kuburan dan genangan- genangan air. Sesekali saya bertanya ke mang ojeknya, “pak, masih jauh kah?” dan dijawab ” masih seperempat nih.. tenang aja, nanti ada jalan lebih susah lagi juga belum lewat 2 sungai”, haah!!!! seperempat? masih ada yang lebih susah? ampuuun. Iya kalau motor yang kita tumpangi motor cross yang dikhususkan buat jalur offroad, lha ini motor bebek, sekali lagi bebek offroad!!. Tiba di sungai yang pertama, semua turun motor dituntun, kami saling berpegangan menyeberang sungai. Saya pikir teman- teman pada kecewa akan tripnya, eh justru mereka malah senang dan merasa tertantang. Tak diduga motor Dayat ban-nya bocor dan lepas hahaha. Untung para ojekers sudah mempesiapkan peralatan tambal ban lengkap dengan pompanya yang dibawa dari Ujung Genteng.
Medan yang sulit, becek dan berlumpur juga melewati semak- semak, hutan, 2 sungai, kuburan, sawah dan perkebunan kelapa mewarnai serunya aksi extream menuju pantai Ombak Tujuh
Ketika menerobos hutan, suasana hening, rada gelap, dingin, gerimis turun. Lagi- lagi saya bertanya ke mang ojek, ” bagaimana pak? masih jauh?” dijawab ” masih setengah dek”. Mampus dah!!! Sudah jam 11 siang, dan harus check out jam 12 siang. Gak peduli, sudah setengah jalan kami tidak menyerah. Melanjutkan perjalanan melewati rumput- rumput ilalang, kaki beset semua. Tiba di penghujung jalan, terdengar debiran ombak. Seketika saya berteriak, ” pak, apa itu pantai? itu pantai kah?” ternyata benar, kurang 1 Km lagi sampai.
13.00 Tiba di Pantai Ombak Tujuh, Surganya Peselancar
Seluruh perjuangan menuju pantai Ombak Tujuh yang katanya ombaknya tergulung sampai tujuh baris itu terbayar LUNAS. Tak usah banyak cakap, langsung saya pameri foto- fotonya :
Meski tidak bergulung- gulung sampai tujuh kali, tapi ombak di pantai ini tergolong besar hingga 4 meter. Turis luar negeri biasanya ke pantai Ombak Tujuh memang tujuannya berselencar di ombak yang menurut tukul, BOMBASTIS!!
Dresscode putih, sun glass, selendang pantai dan topi sudah kami siapkan untuk mempersembahkan keindahan pantai Ombak Tujuh.
14.30 Pengamalan extream, Rafting di Samudera Hindia
Pulang dari pantai Ombak Tujuh kami kapok naik ojek dengan bebek offroadnya dan waktu tidak memungkinkan. Akhirnya disepakati pulang naik perahu motor, ya perahu motor nelayan bisa cuman 1,5 jam sampai Ujung Genteng. Untung ada signal, jadi pimpinan ojeknya nat nit nut sms para nelayan di Ujung Genteng. Perahunya sangat kecil, pas untuk kami bersembilan plus 2 orang nelayannya. Ketika kapal berangkat, apa yang terjadi ???? busyeeeet, ternyata melawan Ombak Tujuh yang 4 meter itu! saya yang duduk di depan sendiri terdiam, berpegangan erat- erat di kapal, ombaknya benar- benar gede dan kenceng. Perahu miring kanan- miring kiri bahkan nge jump ke depan. “Ya Alloh, saya belum nikah belum apa”, doa dalam hati diiringi ayat kursi. Saya mencoba memejamkan mata ketakutan, sesekali mencoba membuka mata eh ombah datang gede dari arah kanan, mak byuuuur… Baju basah semua, hp juga basah. 1,5 jam terombang- ambing ombak di samudera hindia ini terasa lama sekali, bahkan seperti 1 abad. Masih mending rafting di sungai kalau jatuh masih dangkal, lha ini?? rafting ala samudera hindia tak terlupakan seumur hidup.
16.00 Tiba di Penginapan Adi, Check Out, Kelaparan
Ketika perahu berlabuh di pantai Ujung Genteng tepat di depan penginapan hanya 1 kata yang terucap, “Alhamdulillah” kami semua selamat. Pantai Ujung Genteng sendiri tidak terlalu bagus, kami hanya menyempatkan foto sekali dua kali dan langsung nyelonong packing. Langsung telp mang Udui selaku sopir angkot yang sudah kami kenal untuk antar ke Surade seharga 7rb/orang *cring*. Setelah check out angkot langsung berangkat dan ternyata seluruh angkutan umum dari Surade yang ke Sukabumi paling terakhir jam 17.30, angkot pun ngebuuut. Kami semua belum sempat mandi dari pagi, belum sempat makan siang bahkan saya belum makan dari pagi, sampai2 masuk angin. Bersyukur masih ada ELF pemberangkatan terakhir seharga 22rb*cring*. Berencana mencari warung makan tapi tidak bisa, ELF sudah mau berangkat. Ketika sudah di dalam ELF saya memohon ke mang kernetnya untuk diturunin sebentar beli makan dan dibungkus. Akhirnya hampir maghrib kami diturunkan di sebuah warung nasi. Sambil berlari ada pisang langsung di telen saking laparnya. Pop mie langsung disedu air, dan beli nasi + ayam Rp. 9rb *cring* semuanya dibungkus dan dimakan di mobil karena gak enak ama penumpang lainnya. Hahaha, kerasa bener backpacker gelandangannya. Oh iya, penderitaan belum berakhir. Sialnya tempat duduk saya tidak ada sandarannya, jadi 4 jam naik ELF punggung serasa bengkong!!!
20.00 Tiba Di Sukabumi, Kehabisan Bus, Box Obat- Obatan Tertinggal
ELF berhenti di terminal Lembur situ dan dilanjut angkot kuning lagi menuju terminal Sukabumi seharga 5rb*cring*. Tiba di terminal Sukabumi, eh ternyata bus ke jakarta sudah habis. Akhirnya kami istirahat sebentar mencari toilet sambil berpeta mulus alias tanya2. Kami beruntung, masih ada angkutan mirip ELF dengan tujuan CIAWI. Okey, langsung naik saja seharga Rp. 15rb *cring* dan ternyata setelah angkot berangkat baru sadar kalau box obat- obatan saya tertinggal di terminal Sukabumi, apes… apes. Setelah 3 jam perjalanan, tiba di Ciawi. Entah kenapa kami beruntung lagi, ada orang nawarin naik avanza dia diantar ke Depok sampai Bekasi seharga 15rb *cring* murah sekaliii. Tiba di terminal Depok langsung di jemput ayahnya Kiki naik mobil bahkan saya diantar sampai kos- kosan (Mampang), terimakasih banyaaaak. Tiba di kos jam 1 malam dan langsung pingsan……
Informasi dan saran ini jangan dilewatkan :
- Perhitungan waktu : * Jakarta- Sukabumi 3 jam,Sukabumi- Surade 4 jam * Surade- Ujung Genteng 45 menit, Ujung Genteng- Ombak Tujuh 1,5 Jam (normal) - Untuk laporan biaya, saya buatkan halaman khusus yang bisa dibuka disini - Lebih baik naik bus MGI dari Depok yang langsung ke Surade, jadi tidak nyambung menyambung seperti kami via Sukabumi - Hindari musim hujan, kalau tidak mau mengalami pengalaman extream diatas - Barang bawaan yang wajib dibawa : Jas hujan, makanan mengenyangkan, Pakaian secukupnya, perlengkapan sholat, perlengkapan mandi, obat- obatan pribadi, uang sebanyaknya karena tidak ada ATM - Contact Person : * Resort Amanda Ratu, pak Donny +62 85722111365 * Penginapan Pondok Adi, pak Adi +62 8101155 * Kalau mau sewa angkot mang Udui +62 85863388306 - Berpandai- pandailah tawar menawar untuk segala sesuatu dengan bahasa sunda, entah angkutan, ojek, makan dll - Jangan takut masuk Gua Sungging, pokoknya kita niat tidak macam- macam disana melainkan menikmati keindahan di dalamnya. -
SALAM BACKPACKER !






[...] Backpack ke Ujung Genteng Part 2 [...]
Amri, seru banget yah perjalanan lo….. (www.ngiri.com)
Kebayang dhodie yang nyangkut di semak-semak (lmao)
[Reply]
Ebuseng gue kira gue bakalan dipitnah nyangkut di warung `remang-remang` malahan diceritain nyangkut di `semak-semak` (taser).
Woi jangan lupa diceritain lu molor kan pas di tengah-tengah laut. Bisa yak loe molor gitu padahal laut bener-bener lagi kayak nari ck ck ck
[Reply]
lathiful amri Reply:
January 14th, 2010 at 5:43 am
tetep ye, pake pitnah. Itu di perahu gue gak molor tau, saking ketakutan dengan ombak segede itu jadi mejamkan mata
[Reply]
fadli Reply:
July 18th, 2010 at 12:02 pm
ngakak gue baca “nasib dodi yang malang” ^^V
[Reply]
si abang ojek : “udah deket neng tinggal sekilo lagi kok,tapi klo sekilonya disini sih 5 kilo”, gue : “gubraaaaak” dan lagii kok gk diceritain mri, kostuummm nya putih2 trackingnya kyk gitu alhasil nyampe tujuan jadi dalmatians bertotol coklat wkwkwk..amri-amriii *geleng-geleng*
[Reply]
kapan-kapan kesana
blom ada rencana dan duit buat ke jawa barat :))
[Reply]
eh eh pulang dari liat penyu bertelur langsung mandi tau!! ahaiakhiak.. badan basah keujanan gitu.. lo gak inget giliran mandinya disalip orang yak? (ninja)
[Reply]
amriii.. lupa ya kalo itu bukan suara debur ombak, tapi cuma ringtone?! huahahaha
btw, abis nonton penyu bertelor, yang jelas semua cewe pada mandi karena eh karena lu udah wanti2 besoknya kudu bangun pagi, jam 6 kudu cao, jadi kalo mo mandi ya malem ini biar besok ga ribed
tapi beneran yang ga terlupakan adalah 4 jam berjuang bersama tukang ojek, dimana gua disuruh turun n suruh nyusul *si abang jauh banget lagih ninggalin gua* dan gosong terpanggang di samudera hindia *kiki mode on*
makasih udah minjemin sendal gunungnya di hutan belantara yang tiada berujung tapi ber-ringtone
btw, bener kata lalas kalo dia suka ga tega nawar harga karena lu liat sendiri kan 130rb sedahsyat apa medannya?!
kok jadi curhat?! hihihi…
makasih udah jadi EO acara ini, nalangin ini itu, juga bantuannya saat menyebrang sungai dsb dsb.
kapan2 jalan2 lagi ya *tapi kalo ke pantai lagi nunggu gua balik putih dulu ya?! :D*
[Reply]
eh ternyata cuma 2 part ya? (doh) gua tadi ga baca ampe abis.. maab keun (worship)
[Reply]
wah, mantab jalan-jalannya…
[Reply]
bener bener,,, yg ini lebih bikin jumpalitan ngakak bacanya… *lebay? gapapa..*
palagi waktu di perahu ituh, yg sampe bikin merem, yg sampe ngeluh “belom nikah” ya ampuun.. panik gituh masih sempat mikir kesono yak?.. ckckck..
jadi.. next trip kemana nih? ajak2 domz..
[Reply]
Wahahaha … udah baca Ujung genteng yang versi Dhodie dan Quinie, semua cerita dan foto2nya seru. Eh Amri ternyata nggak kalah seru, emang punya gaya tersendiri, itu loh *cring* nya selalu nongol hehehe
Asik banget ya jalan2nya, ditunggu laporan jejalan selanjutnya ya
[Reply]
tumben di infonya ga dijelasin habis berapa rupiah (money) *apa di part 1nya yah* (gym)
[Reply]
anno Reply:
January 29th, 2010 at 10:47 am
biasanya dijelasin habis berapa duit nih
[Reply]
amri Reply:
February 2nd, 2010 at 5:17 am
sudah di jelaskan kok, dikasih link khusus tuh, pasti gak dibaca deh
[Reply]
nah ini lebih ngakak lagi gue bacanya… seru
[Reply]
foto raftingnya mana nih…
huhu penasaran..
[Reply]
waahh keren booss!!gua jg pernah tahun lalu ksana tapi gua blm sempet ke ombak tujuh+curug cikasonya..wah asikbgt backpacker gt brg temen2 tp sayang temen2 gua kayanya ngga bisa yg kaya gt padahal gua pgnbgt..
wah ajib2..that’s cool!!!
[Reply]
makasiii banyaakk yaa infonyaa.
[Reply]
amry…….baru baca yg part 2 nya nih…huhuhu…
kangen dah…. 1 bulan yg lalu sedang di ombak tujuh yak….
hoho……menanti petualangan selanjutnya…
kangen Ujung Gentengers..
[Reply]
wuah keren yah… waktu akhir taun kesini juga, tapi amat disayangkan ga sampe ke tujuh ombaknya…
[Reply]
sayaaa sudah kesana dan TIDAK MENYESAAAAALLLLLLLLLLL
[Reply]
huwaaaa ekstrim banget salutttt ^^
nice blog sir, udah punya kenalan publisher? ;p
[Reply]
benar2 perjalanan yg menyenangkan,baca ceritanya aja seru bgt…. blh gabung ga??ajak2 donk, mas kl jalan2 lg..
thx infonya
[Reply]
Asik banget.. Kapan2 ikut bole ngga? hehe
[Reply]
harga kapal untuk ke ombak tujuh sampai ujung genteng bayarnya berapa ya PP????
tolong kirim aja ke ryukawa_mcdraven@yahoo.com
thanks banget
nice share
[Reply]
mau tanya donk klo inep d amanda sewa yg penyu 1 kamar rame2 gpp y?? tq:) bales k email saja avil_chubby@yahoo.com ,.. tq di tunggu balesanny
[Reply]