<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>lathifulamri.com</title>
	<atom:link href="http://lathifulamri.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lathifulamri.com</link>
	<description>Jalan Jalan Bareng Amri</description>
	<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 21:55:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Backpack Penanjakan- Bromo part II</title>
		<link>http://lathifulamri.com/backpack-penanjakan-bromo-part-ii</link>
		<comments>http://lathifulamri.com/backpack-penanjakan-bromo-part-ii#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 21:55:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lathiful amri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[backpack]]></category>

		<category><![CDATA[Bandung]]></category>

		<category><![CDATA[bromo]]></category>

		<category><![CDATA[ciwidey]]></category>

		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<category><![CDATA[gunung bromo]]></category>

		<category><![CDATA[gunung pananjakan]]></category>

		<category><![CDATA[kawah putih]]></category>

		<category><![CDATA[penanjakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lathifulamri.com/?p=1625</guid>
		<description><![CDATA[Lembayung pagi hari mulai mekar, sang mentari segera terjaga dan berputar, sejuk segar seketika pudar, sinar keemasan dengan cepat berpendar, mutiara-mutiara padang pasir sekejap ditebar ( Asef Amani, 2007 )

DAY  III Minggu, 12 Juni 2010
00.00 Perjalanan Menuju Penanjakan
Melanjutkan postingan sebelumnya yaitu Backpack Penanjakan Bromo Part I, 2 mobil APV yang kami sewa beranjak dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Lembayung pagi hari mulai mekar, sang mentari segera terjaga dan berputar, sejuk segar seketika pudar, sinar keemasan dengan cepat berpendar, mutiara-mutiara padang pasir sekejap ditebar ( Asef Amani, 2007 )<br />
</em></p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>DAY  III </strong>Minggu, 12 Juni 2010</h1>
<p><strong>00.00 Perjalanan Menuju Penanjakan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Melanjutkan postingan sebelumnya yaitu <a href="http://lathifulamri.com/bacakpack-pena…n-bromo-part-ibacakpack-penanjakan-bromo-part-i">Backpack Penanjakan Bromo Part I</a>, 2 mobil APV yang kami sewa beranjak dari kota Malang menuju Wonokotri melewati jalur pasuruan. Sekitar jam 02.30 pagi kami tiba di Wonokitri dan siap oper dengan jip/hartop dengan harga sewa Rp. 350rb/ hartop *cring* bisa di isi 6-8 orang dan siap mengantarkan kami menuju Penanjakan dan Bromo. Cara sewanya langsung di Wonokitri sana saja pasti banyak orang nawarin. Berhubung ber 16, kami  menyewa 2 hartop. Subuh waktu itu dingin sekali hingga menyumsum tulang, bahkan saya sampai memakai 2 jaket, 2 kaos, 1 kaos dalam dan tentunya tak lupa celana dalam. Saking dinginnya, bibir saya juga pecah- pecah dan kata pak dokter sih musti dicium Asmiranda biar sembuh *lho*.  Perjalanan Wonokitri- Puncak Penanjakan sekitar 30 menit melewati tikungan- tikungan dan tanjakan yang curam.  Biaya tiket masuk Penanjakan -Bromo sebesar Rp.100rb *cring* untuk 15 orang. Jam 4 pagi kami sudah sampai puncak Penanjakan dan ternyata ruame banget !! Turis lokal sampai mancanegara tumpah ruah, bahkan berdesak- desakan untuk mencari posisi spot yang pas untuk pengabadian gambar.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/08/penanjakan.jpg"><img class="size-full wp-image-1629 aligncenter" title="penanjakan" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/08/penanjakan.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Mahligai pesona Jawa Timur tergambar di sini. Meskipun saat itu kami tidak dapat sunrise karena sedikit mendung, tapi setidaknya dari puncak Penanjakan setinggi 2770 Mdpl ini kami puas menikmati landscape Gunung Bromo, Semeru dan Gunung Batok yang luar biasa tiada duanya.</em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;"><strong>08.00 Berbatik di Bromo</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Karena waktu yang sangat mepet, kami harus segera bergegas menuju areal Gunung Bromo sesuai itinerary. Dari Puncak Penanjakan menuju Bomo masih tetap pakai jip/hartop dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Saat tiba di Areal Bromo, mata langsung berkaca- kaca *gelas kali, haha* melihat indahnya lembah luas  yang di apit tebing- tebing  tinggi lengkap dengan beberapa gunung. Selain itu, hamparan pasir dan savana bewarna hijau juga turut melengkapi keindahan alam Bromo yang memukau ini. Saat tiba di gerbang pintu masuk, terlihat banyak pedagang makanan dan penjual bunga edelweiss yang menjajakan barang dagangannya. Selain itu, terlihat juga poter- poter kuda yang menawarkan jasa naik kuda untuk di tunggangi sampai puncak gunung Bromo dengan harga relatif sekitar 20-30rb. Tapi kami memilih jalan kaki biar <em>nyummit</em> gunung Bromo benar- benar kerasa *padahal ngehemat duwit*.  Walaupun begitu, saya cukup ngos- ngosan manjat gunung Bromo dengan anak tangga sejumlah 250 itu.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/09/gunung-penanjakan-bromo.jpg"><img class="size-full wp-image-1632 aligncenter" title="gunung-penanjakan-bromo" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/09/gunung-penanjakan-bromo.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Wuih, waktu itu saya pernah mimpi pergi ke padang rumput/savana di Eropa, dan ternyata mimpi itu menjadi kenyataan saat tiba di area savana yang ada di Bromo. </em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/09/gunung-bromo.jpg"><img class="size-full wp-image-1633 aligncenter" title="gunung-bromo" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/09/gunung-bromo.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Berbusana batik, rencana ini memang sudah kami siapkan untuk menyambut pesona Bromo. Mungkin beberapa pengunjung lain menganggap ada rombongan mau kondangan tapi nyasar di Bromo hehe</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>11.00 Balik ke Malang, Kacamata Hilang </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dua mobil APV yang kami sewa lengkap dengan 2 sopirnya masih senantiasa menunggu kami di Wonokitri. Oleh karena itu hartop/jip segera di gas pol supaya cepat sampai Wonokitri. Saat tiba di Wonokitri saya mendadak kebakaran jenggot karena kacamata minus saya hilang. Duh, saya yang kebanyakan makan bokong ayam atau memang ceroboh kok barang vital itu sampai hilang.. Dicari- cari sampai sudut Hartop pun masih tidak ketemu, ah sudahlah ikhlaskan saja.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>13.00 Jekpot di Perjalanan </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mobil APV langsung meluncur kencang meninggalkan Wonokitri dan menuju kota Malang dengan melewati jalan yang berkelok- kelok disertai turunan. Kami baru sadar, bahwa terakhir kami makan yaitu kemarin malam, itupun cuma bakso. Jadi saat pagi di Penanjakan dan Bromo kami tidak sarapan. Alhasil, mayoritas dari kami mendadak mual dan pusing bahkan Zaki dan saya sampai Jekpot (muntah) di jalan. Akhirnya seketika itu saya putuskan untuk menghentikan mobil dan mampir di warung makan di jalur pantura di Pasuruan. Kami mampir di warung soto dan rawon tak bermerek dengan harga 5rb/porsi *cring*. Kemudian dilanjut mampir disebuah pom bensin untuk mandi. Ternyata dengan perut kenyang saya pun perkasa kembali hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>15.30  Perjalanan kereta Malabar Menuju Kota Bandung</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan dilanjutkan. Kami dapat kabar dari teman saya yang hunting tiket di stasiun Malang Kota Baru bahwa tiket kereta Matarmaja tidak bisa di pesan, dan infonya sih sudah habis tinggal tiket berdiri saja. Akhirnya kami putuskan cari alternatif kereta lain yaitu kereta Malabar dengan tujuan Kota Bandung  dengan tiket ekonomi seharga Rp. 80rb *cring* kemudian disambung lagi ke Jakarta. Jam 3 sore kami sampai di stasiun Malang Kota Baru, beberapa teman menyempatkan membeli oleh- oleh khas Malang seperti keripik tempe yang ada disebelah stasiun. Jam 15.30 WIB tepat kereta berangkat, serayu berangkatnya kereta dalam hati berbisik &#8220;selamat tinggal kota Malang, selamat tinggal Penanjakan, selamat tinggal Bromo, kenanganmu masih terukir di hati&#8221; *tsaaah*. Meskipun kelas Ekonomi, kerata api Malabar ini lebih manusiawi daripada kereta Matarmaja. Pasalnya, selain kereta masih baru  dan bersih, penumpangnya juga tidak terlalu penuh jadi serasa gerbong milik sendiri apalagi senja di ufuk barat sore itu seakan mengiringi perjalanan kami menuju Bandung. Seperti biasa kegiatan kami selama di kereta selalu unik, mulai dari ngorok, main kartu UNO, nyanyi, pipis, ngoceh sana- sini, pijit- pijitan, sholat, abcd lima dasar, jalan mengelilingi gerbong sampai tidur pingsan. Kami juga beli makan malam di gerbong makan dengan menu nasi goreng seharga 15rb/porsi *cring*. Oh iya, 3 peserta yaitu Jodi, Andri dan Aisyah memutuskan turun di Jogja karena ada urusan masing- masing.</p>
<p style="text-align: justify;">
<h1 style="text-align: justify;"><strong>DAY  IV </strong>Minggu, 12 Juni 2010</h1>
<p style="text-align: justify;"><strong>09.00 Tiba di Stasiun Bandung, Ugal- ugalan Itu Dimulai</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Welcome to Pasundan. Bukannya langsung balik ke Jakarta, eh kami malah memutuskan untuk melanjutkan trip ke Kawah Putih Ciwidey, hahaha inilah yang disebut trip ugal- ugalan. Satu peserta gugur lagi, yaitu si Danang karena ada urusan kantor yang mendesak, jadi pagi itu juga dia langsung naik travel ke Jakarta. Tersisa 10 orang yang kesemuanya memang penjahat trip. Tapi kami ketambahan 1 anggota lagi yaitu si Persona anak OOTers cabang Bandung yang datang menyambut kami dan siap mengantar ke Kawah Putih. Tepat di sebelah setasiun, ada sebuah warung bernama &#8220;gudeng kendil bang jo&#8221; yang menjadi tempat sarapan kami. Wuiiih, gudegnya makyos dan nendang, apalagi gratisan wkwkwk *ceritanya waktu itu ditraktir Ika Soe* jadi saya lupa harganya berapa.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>13.00 Tiba di Kawah Putih Gunung Patuha, Ciwidey</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menuju Kawah Putih, kami mencarter 1 angkot lengkap dengan sopir dan bensin seharga 300rb*cring* sudah PP juga lho, murah kan. Saat tiba di pintu masuk Kawah putih kami harus carter angkutan khusus lagi bernama ontang- anting. Harga tiket masuk + sewa ontang- anting per orang dikenai biaya Rp. 25rb *cring* untuk pulang- pergi.  Berhubung saya sudah berkali- kali ke Kawah Putih, jadi gak ada perasaan istimewa apa- apa sih saat sampai disana hehehe&#8230; Puas foto- foto di Kawah Putih, jam 3 sore kami pulang dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta.</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/09/kawah-putih-patuha-ciwidey.jpg"><img class="size-full wp-image-1634 aligncenter" title="kawah-putih-patuha-ciwidey" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/09/kawah-putih-patuha-ciwidey.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em><span style="color: #000000;"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;"><span style="font-size: 11pt; font-family: Georgia;">Kata internet,  Kawah  Putih adalah sebuah danau kawah dari Gunung Patuha dengan ketinggian  2.434 meter di atas permukaan laut. Di puncak  Gunung Patuha itulah terdapat Kawah Saat, saat berarti surut dalam  Bahasa Sunda, yang berada di bagian barat dan di bawahnya Kawah Putih  dengan ketinggian 2.194 meter di atas permukaan laut.</span></span></span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>18.00 Tiba di Terminal Leuwipanjang, Mendadak Artis</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kami memang harus segera menyudahi trip ugal- ugalan ini. Setelah melewati kemacetan di daerah Kopok, akhirnya jam 6 petang kami sampai di terminal Leuwipanjang. Kami menyempatkan makan di warung sate dekat terminal serharga rp. 15rb/porsi *cring* sekalian numpang sholat. Perut kenyang, ayo kita pulang. Tak terduga sebelumnya, saat memasuki area terminal kami mendadak jadi artis dengan puluhan pertanyaan serta wawancara dari para calo dan kenek bus. Tas kami ditarik- tarik seperti kucing berebut makanan. Sebel sih sebel, setelah kami rundingan akhirnya kami putuskan naik bus dengan tujuan terminal Lebak Bulus, Jakarta seharga Rp.45rb *cring* dengan kelas bisnis.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>22.00 Tiba di Jakarta, Tepar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya sampai juga di Ibukota, satu persatu rekan- rekan ada yang turun UKI, Pancoran dan Lebak Bulus. Saya dan Putri turun di terminal Lebak Bulus dan dilanjut naik taxi ( note : taxi di traktir putri, hehe) menuju Jagakarsa dan Depok. Jam 23.00 tiba di kos dan langsung pingsan.. Zzz</p>
<p style="text-align: justify;">Terimakasih Semuanya yang terlibat dalam trip ini mulai dari  Zaki and family tempat numpang mandi dan istirahat, Pak Bas for your guide, Tomy for tiket, Persona for your guide, Pak sopir, segenap warung AE, orang di jalan yang ditanyai arah, petugas penjual makanan kereta Malabar, management Stasiun Bandung tempat numpang ngecharge, Warung sate Leuwipanjang, Ika dan Putri atas traktirannya dan seluruh peserta.</p>
<p style="text-align: justify;">
<h2 style="text-align: justify;"><strong>Info dan Saran Ini Jangan Dilewatkan :</strong></h2>
<pre style="text-align: justify;">- Gunung Penanjakan suhu mencapai 5 derajat, bahkan saat matahari terbit
  bisa mencapai 0 derajat, jadi bawalah pakai yang tebal dan paling hangat
- Kalau backpackeran macam cara kami diatas, persiapkan fisik secara maksimal
- Siap2 menahan kencing, karena di kereta Matarmaja kamar mandi tidak berfungsi
  jadi kencing hanya bisa saat kereta berhenti lama di stasiun
- Contact Person
 * Yanto, sewa mobil di Malang : 08523479489

- Laporan Biaya (untuk 15 orang)
  * Tiket kereta Matarmaja      : Rp.   780.000
  * Tiket kereta Malabar        : Rp. 1.200.000
  * Tiket masuk kawah putih     : Rp.   375.000
  * Tiket bus Bandung- Jakarta  : Rp.   675.000
  * Makan 10 kali               : Rp. 1.000.000
  * Sewa 2 mobil APV/2 hari     : Rp. 1.000.000
  * Carter angkot bandung       : Rp.   300.000
  * All bensin                  : Rp.   350.000
  * Tiket masuk Coban Rondo     : Rp.   110.000
  * Sewa 2 Jip/hartop           : Rp.   700.000
  * Tiket masuk Penanjakan/Bromo: Rp.   100.000
  * Tiket masuk BNS             : Rp.   150.000
  * Wahana rumah hantu BNS      : Rp.   150.000
  * Wahana otang-anting BNS     : Rp.   150.000
  * Jagung Bakar di Payung      : Rp.    60.000
  * Persediaan Aqua             : Rp.   100.000

  TOTAL                         : Rp. 7.200.000/15 (15 Orang)
                                  <strong>Rp.   480.000/ orang

</strong></pre>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lathifulamri.com/backpack-penanjakan-bromo-part-ii/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Backpack Penanjakan- Bromo part I</title>
		<link>http://lathifulamri.com/backpack-penanjakan-bromo-part-i</link>
		<comments>http://lathifulamri.com/backpack-penanjakan-bromo-part-i#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 21:48:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lathiful amri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[backpack]]></category>

		<category><![CDATA[Batu Night Sepctachuler]]></category>

		<category><![CDATA[BNS]]></category>

		<category><![CDATA[bromo]]></category>

		<category><![CDATA[Coban Rondo]]></category>

		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<category><![CDATA[gunung bromo]]></category>

		<category><![CDATA[gunung pananjakan]]></category>

		<category><![CDATA[kota Malang]]></category>

		<category><![CDATA[Payung]]></category>

		<category><![CDATA[penanjakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lathifulamri.com/?p=1595</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana caranya mensiasati suatu trip menjadi semurah mungkin ala backpacker? bagaimana caranya mengemas suatu itinerary yang padat supaya efektif? bagaimana ceritanya perjalanan panjang selama 19 jam dengan kereta ekonomi diwujudkan menjadi perjalanan yang menyenangkan dan berkesan? semuanya akan saya tuangkan dan ceritakan dalam tulisan edisi Penanjakan-Bromo ini.
Kali ini saya bersama ke 16 teman Odong-odong Travellers [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bagaimana caranya mensiasati suatu trip menjadi semurah mungkin ala backpacker? bagaimana caranya mengemas suatu <em>itinerary</em> yang padat supaya efektif? bagaimana ceritanya perjalanan panjang selama 19 jam dengan kereta ekonomi diwujudkan menjadi perjalanan yang menyenangkan dan berkesan? semuanya akan saya tuangkan dan ceritakan dalam tulisan edisi Penanjakan-Bromo ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini saya bersama ke 16 teman <em>Odong-odong Travellers</em> mengadakan trip heboh dan ugal- ugalan selama 4 hari, mulai dari Jakarta- Matarmaja- Malang - Batu- Coban Rondo- Payung- Batu Night Sepctachuler- Gunung Penanjakan- Gunung Bromo- Malabar- Bandung- Kawah Putih Bandung dengan biaya cuma 480rb sudah termasuk makan, transport dan segala macam deh hehehe *ceritanya kere tapi rame*.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/06/introducing-team.jpg"><img class="size-full wp-image-1597 aligncenter" title="introducing-team" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/06/introducing-team.jpg" alt="" width="454" height="303" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><em>Odong-odong Travellers edisi ugal-ugalan : saya, Yayuk, Aisyah, Ika, Jody, Danang, Tabita, Arya, Fadli, Andi, Putri, Zakia, Andri, Nira, Ade dan Persona yang menyusul dari Bandung.</em></p>
<p style="text-align: center;">
<h1 style="text-align: justify;"><strong>DAY I </strong>Jumat, 11 Juni 2010</h1>
<p><strong>11.00 Meeting Point di Stasiun Senen</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jumat adalah <em>office day</em>, oleh karena itu seluruh peserta ada yang cuti, masuk setengah hari, pura- pura sakit dan ribuan alasan lainnya *perbuatan tercela, jangan ditiru*. Rombongan selatan (saya, Fadli, Ika, Aisyah) kumpul di kos saya di Jagakarsa jam 9 pagi dan langsung menuju Setasiun Senen via taxi seharga 100rb *cring*. Tiba di Setasiun Senen kami sempatkan sholat jumat  dan makan siang rujak cingur dekat setasiun seharga Rp.. 8500 *cring* sembari menunggu teman yang lain datang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>14.00 Kisah 19 jam bersama kereta api Ekonomi Matarmaja</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pemirsa sekalian yang saya hormati, ini dia harga tiket kereta api Matarmaja yang hanya Rp. 51rb *cring* itu ternyata lebih murah daripada ongkos naik taxi dari kos saya ke stasiun, hahaha sangat tak sepadan dengan waktu 30 menit Vs 19 Jam. Jam 2 sore tepat kereta kami perlahan meninggalkan Ibukota, sore yang indah untuk mengawali perjalanan bersama kawan sejawat. Suasana di dalam kereta lumayan penuh, para pedagang asongan kerata api lewat silih berganti dengan kicauan khas mereka : &#8221; mijon2, aqua2, yang laper yang laper, sayang anak sayang emak, air-air..&#8221;, hahaha rame dan berisik sih, tapi justru inilah kesannya naik kereta ekonomi. Untungnya kami semua dapat tempat duduk, meski kaki dilipat, bokong serong kanan- serong kiri supaya tidak pegel, atau sesekali saling pijit- pijitan. Kereta terus melaju melewati kota- kota di jawa barat, tengah sampai jawa timur. Kalau urusan tidur mah gak usah ditanya, ada yang kaki di atas, saling bersandar, ada yang tidur di kolong kursi, kaki saling tumpang menumpang hahahaha, ya beginilah kalau pengen murah. Tapi jujur, saya sangat menikmati perjalanan dan sangat berkesan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/06/kereta-api-matarmaja.jpg"><img class="size-full wp-image-1611 aligncenter" title="kereta-api-matarmaja" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/06/kereta-api-matarmaja.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Kereta api Matarmaja adalah transportasi yang tepat ala backpacker, hanya 51rb siap mengantarkan kita berpetualang dari Jakarta sampai  kota Malang, Jawa Timur.  Supaya tidak mati gaya selama 19 jam perjalanannya, cobalah bercengkrama dengan teman, nyanyi- nyanyi ,  senyum- senyum atau main kartu UNO</em></p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>DAY  II </strong>Sabtu, 11 Juni 2010</h1>
<p><strong>09.00 Rombongan tiba di kota Malang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tut tut tut&#8230;.Akhirnya kereta sampai juga di stasiun Malang Kota Baru. Udara terasa sejuk, terlihat hirup- pikuk angkot warna biru dan terdengar sautan- sautan bahasa khas arek Malang mengingatkan saya akan waktu yang lampau *ceritanya saya pernah tinggal di Malang selama 3 tahun*.  Rombongan kami langsung disambut oleh 2 mobil APV yang sudah saya sewa sebelumnya lengkap dengan sopirnya seharga 250rb/ hari *cring* dengan bensin beli sendiri. Oh iya, mobil APV ini kami sewa selama 2 hari untuk mengelilingi Malang, Batu sampai Bromo. Bukannya langsung  mandi, kami justru menuju Warung AE di Sawojojar untuk memanjakan perut yang sudah keroncongan pagi itu. Menu makanan di warung itu dahsyat dan nendang, diantaranya pecel Madiun, lele urap 7rb /porsi *cring* , rawon dan masih banyak lagi. Lele urapnya tersenyum manis seakan siap saya santap, lalu saya balas dengan muka saya yang manis pula *gubrak*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>13.00 Jelajah Kota Malang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dingin dan suegeeer&#8230; Kami akhirnya mandi juga di rumah saudara Zaki yang ada di Sawojajar. Sudah wangi dan sudah rapi, perjalanan dilanjutkan menuju bunderan Tugu yang tepat berada di depan kantor Walikota Malang. Di Bunderan Tugu ini, kami di suguhkan pemandangan bunga teratai yang ada di tengah kolam, juga banyak pohon beringin besar yang mengelilingi area yang ada di jantung kota Malang ini. Jalanan di kota Malang masih rapi, bersih dan sedikit macet. Tak terasa kami sudah sampai Kampus putih megah, Universitas Muhammadiyah Malang. Disini kami numpang pepotoan dengan<em> landscape </em>kampus yang menjulang tinggi tepat di belakang sungai Brantas.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/08/kota-malang-batu.jpg"><img class="size-full wp-image-1617 aligncenter" title="kota-malang-batu" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/08/kota-malang-batu.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Kota Malang terkenal kulinernya, diantaranya bakso, cwe mie, soto, pecel dan rawon. Waktu itu kami mengunjungi salah satu kuliner di sekitar kampus UMM yaitu steak and shake lesesan dengan menu sate bebek. Wuih, texture dagingnya lembut dan nyubit ketika di mulut !</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>16.30 Mengunjungi Coban Rondo ( air terjun ) dan Payung. </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Puas berkuliner, tujuan selanjutnya adalah ke kota Batu yang ditempuh 30 menit dari kota Malang. Wisata di kota Batu banyak sekali, salah satu yang kami kunjungi adalah <a href="http://cobanrondo.com/" target="_blank">Coban Rondo</a> (coban = air terjun, rondo = janda ) jadi artinya air terjunnya janda yang sedih karena batal syuting filem air terjun pengantin di kepulauan seribu, wkwkwk.. Mitos punya mitos, kalau membasuh muka dengan air di Coban Rondo bisa awet muda, setelah saya coba membasuh muka disana ternyata bukan awet muda yang saya rasakan,  tapi malah awet menjanda *aiiih, mendadak feminim*. TIket masuk untuk 15 orang sebesar 110rb *cring* ( sudah ditawar ). Oh iya, tepat di sekitar air terjun ini terdapat salah satu kawasan terkenal yang bernama &#8220;Payung&#8221;. Kawasan Payung terdapat banyak penjual makanan yang berada di sektiar lereng- lereng bukit (mirip di puncak, Bogor). Di Payung, kami numpang sholat maghrib sekalian makan jagung manis bakar seharga 3rb *cring* dengan <em>view</em> gemerlap lampu kota Malang yang ada di bawah bukit.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/08/coban-rondo-batu.jpg"><img class="size-full wp-image-1619 aligncenter" title="coban-rondo-batu" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/08/coban-rondo-batu.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Di sekitar air terjun setinggi 84 meter ini masih banyak terdapat monyet liar berkeliaran yang siap mengganggu anda. Diantara banyak monyet tersebut sedang asyik foto-foto dengan berbagai gaya, hehe&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>20.00 Gemerlap BNS, Batu Night Sepctachuler</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Rasanya tidak puas berkunjung di kota Batu kalau tidak mampir Jatim Park atau BNS. Berhubung sudah malam Jatim Park sudah tutup kami akhirnya kami memilih ke BNS yang memang bukanya malam hari. BNS merupakan wahana bermain mirip DUFAN di Jakarta, yang menyuguhkan berbagai permainan menarik degan tiket masuk cuma 10rb *cring* tapi jika ingin mencoba wahana tertentu masih bayar lagi sebesar 10rb *cring*.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/08/bns-dan-jatim-park-2.jpg"><img class="size-full wp-image-1621 aligncenter" title="bns-dan-jatim-park-2" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/08/bns-dan-jatim-park-2.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Lampu- lampu menyala, gemerlap malam itupun dimulai. Keceriaan kami tumpah ketika mencoba berbagai wahana diantaranya kicir- kicir dan rumah hantu. Sungguh tak terlupakan.</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>22.30 Hunting Kuliner Bakso Tengah Malam</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata teriak- teriak di wahana ekstream yang ada di BNS bikin lapar juga ya, hehe.. Kamipun meninggalkan kota Batu dan balik lagi ke kota Malang untuk cari kuliner. Pengennya sih nyobain bakso Cak Man atau berbagai bakso di jalan Kawi yang terkenal itu, tapi sudah tutup semua karena sudah malam. Alhasil, bakso pinggiran seharga 8rb/porsi *cring* dekat setasiun Kota Baru kami serbu!.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>23.30 Persiapan Menuju Pananjakan- Bromo</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menyantap Bakso, kami balik lagi ke bekas sekolah saya yang ada di Sawojajar ( SMK Telkom ) untuk numpang cuci muka dan ganti baju persiapan menuju Pananjakan dan Bromo. Tepat jam 00.00 kami berangkat melalui jalur Pasuruan- Wonokitri- Pananjakan. Mau tau cerita lengkapnya? Tenang, di postingan part 2 nanti anda akan dihibur dengan cerita dinginya Pananjakan, berbatik di  Bromo, ugal- ugalan sampai Ciwidey, Bandung. Silahkan dibuka link di bawah ini :</p>
<h2 style="text-align: justify;"><a href="http://lathifulamri.com/backpack-penan…-bromo-part-ii">Backpack Penanjakan Bromo Part II</a></h2>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lathifulamri.com/backpack-penanjakan-bromo-part-i/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UJUNG KULON Part II</title>
		<link>http://lathifulamri.com/ujung-kulon-part-ii</link>
		<comments>http://lathifulamri.com/ujung-kulon-part-ii#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 06:30:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lathiful amri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Road the Trip]]></category>

		<category><![CDATA[cidaon]]></category>

		<category><![CDATA[Citerjun]]></category>

		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<category><![CDATA[Pulau Peucang]]></category>

		<category><![CDATA[Taman Jaya]]></category>

		<category><![CDATA[ujung genteng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lathifulamri.com/?p=1533</guid>
		<description><![CDATA[Melanjutkan postingan sebelumnya yaitu Ujung Kulon Part I , perjalanan kembali dilanjutkan dengan meninggalkan pantai Ciramea untuk menuju Tanjung Layar dengan menyusuri pantai, hutan dan karang- karang besar selama 2 jam. Terik matahari siang itu benar- benar tidak bersahabat, panasnya aduhay deh. Jika serial kera sakti menuju ke barat mengambil kitab suci, kalau tim OOTers [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Melanjutkan postingan sebelumnya yaitu <span id="sample-permalink"><a href="http://lathifulamri.com/ujung-kulon-part-i">Ujung Kulon Part I</a> , perjalanan kembali dilanjutkan dengan meninggalkan pantai Ciramea untuk menuju Tanjung Layar dengan menyusuri pantai, hutan dan karang- karang besar selama 2 jam. Terik matahari siang itu benar- benar tidak bersahabat, panasnya aduhay deh. Jika serial kera sakti menuju ke barat mengambil kitab suci, kalau tim OOTers menuju ke barat ( Ujung Kulon- Tanjung Layar) untuk mencari air minum *hehehe* karena bekal minum kami sudah kehabisan di Ciramea. Kami juga melewati karang- karang besar di tepi samudera hindia dengan tantangan berupa ombak yang sedang pasang. Adalah Ika rangan dan Andi yang jadi korban tergebyur ombak, tapi Alhamdulillah mereka masih selamat.<br />
</span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>12.00 Tiba di Tanjung Layar, Tanah Terbarat Pulau Jawa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di Tanjung Layar tidak ada manusia lain kecuali pak Bengbeng dan satu temennya untuk menjaga pos/rumah di tanah paling barat pulau Jawa ini. Makanan di <em>drop</em> dari luar setiap 3 bulan sekali. Pertama kami sampai di rumah pak Bengbeng, bukannya ngobrol tapi kami minta minum karena memang sangat kehausan bak onta pingsan di padang pasir. Baru setelah haus hilang kami langsung ngobrol- ngobrol sok nge <em>interview</em> pak Bengbeng. Tepat disebelah pos Tanjung Layar terdapat sebuah <em>tower</em> peninggalan Belanda berfungsi untuk sarana komunikasi dan tandon air.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/tower-tanjung-layar1.jpg"><img class="size-full wp-image-1539 aligncenter" title="tower-tanjung-layar1" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/tower-tanjung-layar1.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Tower peninggalan Belanda ini tingginya 20 meter, dibutuhkan keberanian untuk memanjat. Ketika sampai di puncak, sungguh menakjubkan sekali pemandangannya. </em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Puas memanjat <em>tower</em>, kami berpamitan pulang ke pak Bengbeng dan tak lupa uang <em>tips</em> sebesar 100rb *cring*. Eiiits, sebelum meninggalkan tanjung layar kami mampir dulu di padang rumput yang ada di Tanjung Layar yang terkenal dengan tebingnya itu. Sumpah deh, pemandangannya keren abis seperti diluar negeri gitu *kek pernah ke luar negeri aja*.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/tanjung-layar.jpg"><img class="size-full wp-image-1543 aligncenter" title="tanjung-layar" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/tanjung-layar.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Ini dia, tanah terbarat pulau Jawa alias ujungnya Ujung Kulon. Di tempat ini juga bisa digunakan untuk camping, tetapi tidak ada sumber air. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>15.00 Tiba di Cibom, ISOMA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Tanjung layar balik kembali ke lokasi <em>camping</em> ( Cibom ) dekat sekali ternyata, cukup 30 menit sudah sampai. Sepanjang perjalanan <em>trekking</em> tersebut kami menjumpai pohon yang besar sekali berusia ratusan tahun menghadang di tengah jalan. Setelah tiba di Cibom pak Marwoto langsung masak dan kami istirahat *kasihan banget pak Marwoto*. Makan siang setengah sore kali ini enak banget bok,  lauknya ikan dan sayuran ala koki Marwoto *nyam nyam*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>16.30 Tiba di Cidaon, Padang Savana Tempat Pengembalaan Banteng</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Cibom ke Cidaon dekat, 15 Menit menggunakan kapal sudah sampai. Awalnya kami ingin mendirikan tenda di Cidaon, tapi saat izin ke petugas Taman Nasional Ujung Kulon di Peucang tidak diizinkan karena memang Cidaon tidak di orientasikan untuk camping, selain itu juga supaya tidak menggangu hewan- hewan yang ada di savana Cidaon. TN Ujung Kulon terkenal dengan badak jawanya, tetapi jumlah badak tersebut kurang lebih hanyak 50 ekor dan hanya orang beruntung yang bisa menjumpainya. Meski tidak bisa melihat Badak, dengan melihat banteng di savana Cidaon ini sudah membuat hati senang.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/padang-pengembalaan-cidaon.jpg"><img class="size-full wp-image-1547 aligncenter" title="padang-pengembalaan-cidaon" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/padang-pengembalaan-cidaon.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em> Mata langsung berbinar- binar melihat padang savana yang terbentang luas disambut dengan banteng yang sedang merumput. Mirip acara di tv international dicovery channel.</em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/savana-cidaon.jpg"><img class="size-full wp-image-1549 aligncenter" title="savana-cidaon" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/savana-cidaon.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Di Cidaon juga ada tower setinggi 6 meter untuk mengintai banteng dan hewan lain yang sedang merumput mencari makan. Kami juga menyempatkan untuk hunting sunset di dermaga Cidaon. </em></p>
<p style="text-align: left;"><strong><br />
</strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>18.00 Kembali ke Cibom, Malam kedua</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Petang sudah tiba, kapal kembali merapat dari Cidaon ke Cibom. Oh iya perlu diketahui bahwa Cibom tidak memiliki dermaga dan kapal tidak bisa merapat sampai bibir pantainya, jadi kami harus naik perahu karet untuk <em>canoing</em> seharga Rp. 150rb *cring* untuk beberapa kali penyeberangan. Malam kedua di Cibom kami habiskan untuk bercengkrama, istirahat, bernyanyi bersama dan bermain <em>slowspeed</em> kamera yang gagal. Malam itu koki Marwoto kembali beraksi, makan malamnya sungguh dahsyaaat, Ayam goreng asin biasa tapi enggak tau kenapa kok enak banget, apalagi makannya sambil gelap- gelapan bersama cuman diterangi sesorot lampu senter *berasa kebersamaannya*. Sekitar jam 12 malam kami terlelap dan tidur..</p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>DAY IV </strong>MiNGGU, 11 April 2010</h1>
<p><strong>05.00 Hujan </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu sekitar  habis subuh ketika posisi badan sedang pw tidur pulas di dalam tenda, tiba- tiba saya merasa kedinganan. Mau merapat ke kanan ada Dodi, merapat ke kiri ada Jodi *Arrrrrrgh cowok semua, Asmirandaaaa kemana kamu*. Kedinginan itu berlanjut dengan rembesan air yang mengepung pinggir tenda. Saya terbangun dan baru sadar kalau sedang hujan deras diluar. Lama kelamaan air masuk ke dalam tenda, semua basah, tas basah, baju basah, kamera pun turut basah. Kacau pokoknya, semuanya berlarian ke saung yang ada di Cibom untuk menyelamatkan barangnya masing- masing *duh ilustrasinya kayak bencana apaan aja mri*. Alhamdulillah sekitar jam 7 pagi hujan sudah reda, kami sudah mandi dan siap menyantap sarapan pagi berupa sarden dan nasi.Tak lupa repack tenda dan bersiap ke Pulau Peucang.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>08.00 Tiba di Pantai Pulau Peucang, Paradise</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ini dia saat yang di tunggu- tunggu dan juga tujuan utama kami, Pulau Peucang. Dari Cibom- Peucang cuma 15 menit. Sip, asoy, amboy, aduhay, tidak lebay.. ini pantai bagus bangeeet.  Keren gila pokoknya, saya keren kalian gila *wakakaka*. Disalah satu sisi berwarna biru, di sisi lain sana berwarna hijau tosca. Langsung saja saya pamerin aksi kami :</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/pantai-pulau-peucang.jpg"><img class="size-full wp-image-1553 aligncenter" title="pantai-pulau-peucang" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/pantai-pulau-peucang.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Pantai Pulau Peucang airnya tenang tidak ada ombak, pantainya datar sehingga cocok untuk berenang. Selain itu, pasirnya bewarna putih dan lembut sekali seperti bedak.</em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/pulau-peucang.jpg"><img class="size-full wp-image-1554 aligncenter" title="pulau-peucang" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/pulau-peucang.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Narsis, banci kamera apapun itu whatever. Perjalanan capek 13 jam dari Jakarta semua terbayar LUNAS oleh pulau Peucang.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>11.00 Snorkling di Sekitar Pulau Peucang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tak jauh dari pantai tempat kami cibang- cibung, terdapat salah satu spot snorkling yang lumayan bagus. Karang- karangnya pendek (menjulang keatas) hingga berjarak 1 jengkal dari dada. Biota lautnya juga lumayan banyak.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>12.00 Perjalanan Balik ke Taman Jaya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Petualangan kami akhiri dengan meninggalkan pulau Peucang menuju Taman Jaya ( rumah pak Komar). Untuk makan siang sudah siap dibawa dari Cibom dan di makan diatas kapal. Makan siangnya cukup dengan nasi, telor goreng dan kerupuk. Muka- muka tim OOTers terlihat puas kecapekan, tapi salut kami semua masih semangat. Buktinya saat perjalanan 3 jam di dalam kapal kami main games &#8220;abcd lima dasar&#8221;, benar- benar kompak dan anti mati gaya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>16.00 Perjalan Pulang ke Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jam 3 sore kami tiba di rumah pak Komar Tanam Jaya untuk numpang mandi, <em>repack</em> dan lain lain. Setelah semuanya beres saatnya berpamitan dengan pak Komar, berterimakasih atas segala bantuannya ya pak. Kami juga mohon maaf ya pak telah membicarakan bapak diam- diam sepanjang perjalanan *ada maksud terselubung*. Masih ingat pak Hari kan? itu lho sopir elf yang kami sewa. Saat kami berkenalan di Ujung Kulon 3 hari, pak hari tidak pulang ke Jakarta dan memilih menginap di rumah Pak Komar *mungkin kapok kali ya, ngelihat jalan  ancur dari Sumur- Taman Jaya*. Jam setengah tujuh kami tiba di Sumur, dan berhenti sebentar untuk menyerbu warung bakso karena lapar akut. Kemudian perjalanan dilanjutkan melewati  jalur Sumur- Anyer- Jakarta. Tak disangka elf yang dikemudikan pak Hari betul- betul berjalan lambat seperti keong&#8230; Selambat- lambatnya gak kerasa sih, karena saya tidur melulu di dalam elf *hehehe* tau- tau sudah pagi sampai Jakarta. Iya, betul jam 3 pagi nyampe jakarta *maaf ya temen- temen, kalian jadi cinderella semua*.</p>
<h2 style="text-align: justify;"><strong>Info dan Saran Ini Jangan Dilewatkan :</strong></h2>
<pre style="text-align: justify;">- Wajib minum obat anti malaria 1 minggu sebelum berangkat, saat
  di Ujung Kulon, dan 3 minggu berturut- turut sepulang dari UK
- Bawa lotion anti nyamuk
- Jalan dari Sumur- Taman Jaya Susah, mending sewa kapalnya dari
  Sumur menuju Taman Jaya, untuk hal ini bisa berkoordinasi
  langsung dengan pak Komar
- Di pulau Peucang ada penginapan, tapi kalau lebih seru enaknya
  ya camping di Cibom, Ciramea atau Tanjung Layar
- Disarankan tidak camping di Cidaon karena disana adalah tempat
  pengembalaan hewan, ikutilah aturan pengelolanya
- Bawa alat snorkling sendiri dari Jakarta, karena di Ujung Kulon
  tidak ada persewaan alat snorkling, ada sih tapi cuma 5 biji
  milik pak komar seharga 35rb/ hari.
- Pak Komar juga menyediakan sewa lifevest seharga 5rb/hari
- Contact Person
 * Pak Komar      : 0818 0618 1209

- Laporan Biaya (untuk 14 orang)
  * Sewa elf 3 hari             : Rp. 2.600.000
  * Sewa kapal 3 hari           : Rp. 2.500.000
  * Sewa tenda 3 hari           : Rp.   530.000
  * Sewa tukang masak 3 hari    : Rp.   225.000
  * Bahan makanan 3 hari        : Rp.   760.000
  * Guide  3 hari               : Rp.   300.000
  * Registrasi seluruh wisata   : Rp.   125.000
  * Canoing Cibom               : Rp.   150.000
  * Tips penjaga Tanjung Layar  : Rp.   100.000
  * Sewa lifevest               : Rp.   210.000
  * Tol                         : Rp.    70.000
  * Tips sopir elf              : Rp.    50.000
  TOTAL                         : RP. 7.620.000/14 (14 Orang)
                                  <strong>Rp.   545.000/ orang

</strong></pre>
<p style="text-align: justify;">Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semua saja yang terlibat di trip kali ini, terutama mas Handoko yang memberikan info trip. Juga saya minta maaf jika itinerary sedikit berantakan karena kesasar, ban bocor dll sehingga tidak jadi mengunjungi handauleum, badul, panaitan dan karang copong. Its oke, sebagai penutup berikut adalah video berupa slide Ujung Kulon yang dipersembahkan rekan saya ( Alfariz Hadi ) dari bandung :</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="500" height="405" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/w5vtODhPMXU&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0&amp;border=1" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="500" height="405" src="http://www.youtube.com/v/w5vtODhPMXU&amp;hl=en_US&amp;fs=1&amp;rel=0&amp;border=1" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lathifulamri.com/ujung-kulon-part-ii/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UJUNG KULON Part I</title>
		<link>http://lathifulamri.com/ujung-kulon-part-i</link>
		<comments>http://lathifulamri.com/ujung-kulon-part-i#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 06:30:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lathiful amri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Road the Trip]]></category>

		<category><![CDATA[Cibom]]></category>

		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<category><![CDATA[Pantai Ciramea]]></category>

		<category><![CDATA[sunrise cibom]]></category>

		<category><![CDATA[sunset peucang]]></category>

		<category><![CDATA[Tanjung Layar]]></category>

		<category><![CDATA[Ujung Kulon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lathifulamri.com/?p=1493</guid>
		<description><![CDATA[Setelah ditunggu banyak pembaca setia blog ini *kek ada yang baca saja mri*, akhirnya update juga. JIka para pujangga bilang &#8221; bagaimana aku bisa kenyang kalau kamu menyuapiku setiap hari? &#8220;. Begitu pula jika anda sudah pernah ke Ujung kulon, gak bakalan kenyang deh lihat keindahannya hehehe.


Tim OOTers (Odong-Odong Travellers)  kali ini diikuti beberapa teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah ditunggu banyak pembaca setia blog ini *kek ada yang baca saja mri*, akhirnya <em>update</em> juga. JIka para pujangga bilang &#8221; bagaimana aku bisa kenyang kalau kamu menyuapiku setiap hari? &#8220;. Begitu pula jika anda sudah pernah ke Ujung kulon, gak bakalan kenyang deh lihat keindahannya hehehe.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/introducing-ujung-kulon-team.jpg"><img class="size-full wp-image-1503 aligncenter" title="introducing-ujung-kulon-team" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/introducing-ujung-kulon-team.jpg" alt="" width="454" height="303" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Tim OOTers (Odong-Odong Travellers)  kali ini diikuti beberapa teman dekat dan tidak sedikit juga teman dari pembaca <a href="http://lathifulamri.com">blog hitam ini</a>. Ke-14 orang yang ikut tersebut adalah Dodi Mulyana, Sandi Sumargo, Andi Lestomo, Rakhmad Fadli, Joedy Jeeleska, Putri Rizki, Yayuk Nursih, Hanindita Galuh, Tabita Sasuwe, Ika Rangan, Ika Soewadji, Septiani Dwi Astila, Zakiah situ dan saya sendiri sang &#8230;&#8230;.. wanita *silahkan diisi sendiri titik-titiknya ya, hahahaha*.</p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>DAY I </strong>Kamis, 8 April 2010</h1>
<p><strong>21.00 Meeting Point Ala Warga Ibukota</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1 minggu sebelum pemberangkatan, kami mengadakan kopdar untuk minum obat anti malaria ( resochin dan pil kina ) karena Ujung Kulon adalah salah satu kantung malaria paling ganas di Indonesia. Saya <em>start</em> dari kantor naik ojek turun Pasar festival Kuningan Rp. 7rb *cring*. Di Pasfes telah menunggu elf yang kami sewa selama 3 hari lengkap dengan bensin dan supirnya yang bernama pak Hari, sewa elef tersebut seharga Rp. 2,6 Jt *Criiiiiiiiiing*. Moloooor, yang estimasi waktu awalnya jam 9 malam, para pelaku telat mengolor waktu jadi jam 22.30 baru meninggalkan Pasfes dan menuju Kemang sebentar untuk jemput Yayuk dan ambil tenda di rumah Marina.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>23.00 Perjalanan Menuju Taman Jaya,Kesasar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Elf yang dikemudikan pak Hari berjalan santai melewati jalur Anyer- Ujung Kulon. Saat itu sekitar pukul 02.00 pagi semua tertidur, kecuali pak Hari dan saya yang duduk dibelakang terus mengamati jalur menuju Ujung Kulon. Kesasar, pertigaan yang terdapat plang &#8220;lurus Tanjung Lesung, belok kiri Pulau Umang&#8221; itu memang sialan. Mana kami tau harus belok mana yang arah Ujung Kulon, karena memang gak ada keterangan Ujung Kulon. Alhasil, kami memilih arah yang Tanjung Lesung dan celakanya itu jalur yang salah. Mau menggunakan jurus peta mulut (tanya- tanya) tapi gak ada orang lewat, akhirnya ada bapak- bapak yang memberitahu kami bahwa kami salah jalan, puter balik deh.</p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>DAY II </strong>Jumat, 9 April 2010</h1>
<p style="text-align: justify;"><strong>05.30 Ban Bocor</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Belum cukup kesasar di Tanjung Lesung, eh mendadak kedua ban elf bagian belakang  bocor *entah siapa ini yang keberatan, atau kami kebanyakan dosa kali ya haha*. Ban serep cuma ada 1, sedang ban yang satunya lagi tak tertolong. Beberapa teman numpang sholat salah satu rumah penduduk. Singkat cerita pak Hari naik ojek membawa ban yang bocor untuk di tambal dan kami nunggu di belakang elf sambil main kartu UNO.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>08.30-13.00 Sensasi Sumur- Taman Jaya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Itinerary yang kami susun berantakan, yang seharusnya sampai Taman Jaya 6 pagi, malah jam 1 siang baru sampai. Perjalanan dari Sumur- Taman Jaya sungguh luar biasa.. Mau tau luar biasa kenapa? hehehe &#8220;luar biasa jeleknya&#8221;.<strong> </strong>Entah <span style="text-decoration: line-through;">pemerintahnya</span> yang mabok atau kenapa, yang jelas jalan bermakadam tersebut tidak kunjung selesai lengkap dengan lobang- lobang tergenang air. Sepanjang perjalanan perut terkocak-kocak, jidat kepentok pegangan elf, agak mual dan pusing karena belum sarapan. Oh iya, satu- satunya <em>contact person</em> yang melegenda di Ujung Kulon adalah pak Komar, pokoknya <span style="text-decoration: line-through;">semuanya</span> bisa minta tolong pak Komar. Kami sempat tanya orang saat menempuh perjalanan dengan tipe jalan <em>offroad </em>ala elf itu &#8220;Bu, permisi.. kalau rumah Pak Komar masih jauh ya?&#8221; kemudian dijawab &#8221; Pak komar Taman Jayak? masih 2 kilo lagi mas&#8221;, Alhamdulillah sebentar lagi kami sampai. Perlahan elf terus berjalan melewati jalan berpasir pantai dan sesekali ban selip. Setelah sekian lama kok gak sampai- sampai, kami heran dan tanya lagi kepada seorang remaja di jalan &#8221; dek, arah rumah pak Komar masih jauh? &#8221; kemudian dijawab &#8220;ooo, Komar Taman Jayak? 2 kilometer lagi ke arah sana mas&#8221; wakakaka, yang ibu- ibu jauh disono tadi bilang kurang 2 kilo, ini bocah bilang 2 kilo juga hahaha *kami semua 1 elf langsung ketawa kocak*.  Ketika elf terperosok di dalam lobang, kami semua turun.. dan ternyata pemirsa, bemper belakangnya copot wakakaka.. Dari lubuk yang terdalam kami sebenarnya tidak enak hati dengan pak Hari selaku sopirnya, tapi pak Hari orangnya baik, mulai ban bocor sampai bemper copot pun cuma dibalas dengan senyuman manisnya *ceileeeh*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>13.00 Tiba di Rumah Pak Komar, Taman Jaya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya fatamorgana itu hilang. Tiba dirumah pak Komar langsung menyantap nasi uduk  Rp.  5rb *cring* yang seharusnya untuk sarapan pagi. Perut kenyang, uang pun hilang hehehe enggak, maksud saya setelah kenyang beberapa temen ada yang sholat, mandi dan <em>repack</em> untuk persiapan snorkling. Untuk menuju kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dibutuhkan waktu 3 jam dengan naik kapal yang kami sewa dari pak Komar semahal 2,5 jt *criiiing*. Untuk keperluan makan selama <em>camping</em>, kami sewa juga tukang masak yang diajak <em>camping</em> selama 3 hari dengan tarif Rp. 75rb/ hari *cring*. Tak lupa sewa <em>guide</em> perharinya Rp. 100rb*cring*. Untuk bahan makanan selama <em>camping</em> 3 hari, kami sudah dibelanjakan bahan mentah oleh pak Komar tinggal bayar aja, total pengeluaran bahan makanan Rp. 760rb *cring* sudah termasuk beras, sayur, ikan, ayam, telor, minum, bumbu masak dan banyak lagi tidak bisa saya sebutkan satu-satu *pokoknya sewarung deh, hehe*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>17.00 Tiba di Citerjun, Snorkling</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah 3 jam perjalanan dari Taman Jaya naik kapal, kami sampai di Citerjun dan hasrat nyebur sudah tidak terbendung. Bongkahan karang disini tidak terlalu besar, tapi jenis ikan- ikannya lumayan <em>variatif</em>. Secara garis besar sih tidak sebagus di kepulauan seribu. Sayang, kamera <em>underwater</em> Ika Rangan pas dicoba buat foto snorkling gak bisa, duh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>17.30 Sunset selat Peucang itu&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Puas snorkling, haluan kapal diarahkan pindah menuju pulau Peucang untuk registrasi dan izin camping dengan tarif Rp. 125rb *cring* sudah termasuk biaya ke semua wisata yang ada di Ujung- Kulon. Berhubung sudah agak petang, kami langsung saja menuju Cibom untuk <em>camping </em>dengan waktu cukup 15 menit dari pulau Peucang. Bagai kejatuhan duren, saat menuju Cibom kami dihadapkan dengan <em>sunset</em> yang sangat cantik *bahasamu mri, sunset dibilang cantik wakaka*.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/sunset-peucang.jpg"><img class="size-full wp-image-1519 aligncenter" title="sunset-peucang" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/sunset-peucang.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Pojok kanan atas : Dermaga Taman Jaya, dan sunset di selat pulau Pueucang mengeluarkan semburan- semburan jingganya. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>18.00 Mendirikan Tenda, Makan Malam</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Cibom merupakan tempat yang sering dipakai untuk <em>camping</em>, tidak berpasir dan terdapat sungai kecil berair payau jadi bisa untuk ambil minum dan mandi. Tenda didirikan satu persatu, sebagian mandi, sebagian lagi mencari kayu bakar. Setelah semua beres, api unggun pun menyala disambut dengan hidangan ayam goreng dan krupuk yang telah masakin oleh pak Sumarwoto (<em>guide</em> sekaligus juru masak).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/camping-di-cibom1.jpg"><img class="size-full wp-image-1529 aligncenter" title="camping-di-cibom1" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/camping-di-cibom1.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Malam pertama <em>camping</em> di Cibom itu malam seru, malam gila, semuanya gila kecuali saya. Acaranya mulai dari <em>games</em>, joget- joget, melihat  bintang sampai lenongan dahsyat dari Tabita Sasuwe. <em>Games</em>nya banyak sekali dan seru, mulai dari suit dengan gerakan tubuh, ngiiik greng greng, ada apa sekarang dan lain lain  pokoknya asyik deh. Ditambah lagi aksi kocak si Tabita, semua ceria semua ketawa.. Kami benar- benar larut dalam kegembiraan malam itu, bintang- bintang pun bertaburan diangkasa seakan mengiringi malam kami yang tak terlupakan itu. Sekitar jam 12 malam kami semua tidur.</p>
<h1 style="text-align: justify;"><strong>DAY III </strong>Sabtu, 10 April 2010</h1>
<p style="text-align: left;"><strong>05.00 Bangun Pagi, Sunrise Luar biasa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dimana-mana yang namanya pagi ya cerah, tapi di Ujung Kulon sini cerah dan indah *yaoloh lebay sangat*. Dengan PD-nya kami semua belum mandi langsung ambil gambar jepret sana- jepret sini mumpung <em>sunrise</em>. Zakiyah siti atau populer dipanggil bu duren memanfaatkan momment ini untuk beryoga.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/sunrise-di-ujung-kulon.jpg"><img class="size-full wp-image-1521 aligncenter" title="sunrise-di-ujung-kulon" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/sunrise-di-ujung-kulon.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Camping di Cibom lokasinya menarik, langsung menghadap laut dan disambut sunrise dikala pagi. Sholat di alam seperti ini tastenya juga lebih dapat.</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>08.00 Trekking Hutan Menuju Pantai Ciramea</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sarapan pagi menunya nasi goreng dibaluti telur, sangat enak untuk <em>standard</em> makan di alam. Setelah makan dan mandi, dengan semangat 45 tim OOTers berangkat menuju pantai Ciramea dengan <em>trekking</em> hutan selama 1 jam, sedangkan tenda dan barang- barang di tinggal di Cibom dan yang menjaga adalah anak buah pak Marwoto.  Jalur <em>trekking</em>nya gampang, tidak sesusah <a href="http://lathifulamri.com/rahasia-baduy-dalam">di Baduy</a>. Dan ini dia foto- foto bukti jika pantai Ciramea memang benar- benar bagus :</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/pantai-ciramea2.jpg"><img class="size-full wp-image-1525 aligncenter" title="pantai-ciramea2" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/pantai-ciramea2.jpg" alt="" width="500" height="333" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Pantai Ciramea sungguh amazing, komposisinya lengkap mulai dari birunya laut dan langit, hijau bukit, debiran ombak, bebatuan dan pasir putih terhampar luas. </em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/pantai-ciramea.jpg"><img class="size-full wp-image-1524 aligncenter" title="pantai-ciramea" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/04/pantai-ciramea.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Baiklah para pembaca yang terhormat, yang saya cintai dan saya yakini baik hati *hehehe* postingan pertama ini cukup sekian dan disambung di postingan kedua. Tapi tenang, di postingan kedua nanti anda akan dihidangkan cerita yang lebih seru, foto- fotonya juga lebih luar biasa mulai dari nuansa Tanjung Layar, <em>explore</em> pengembalaan Cidaon dan tujuan utama pantai pulau Peucang. Lengkapnya anda bisa membuka <em>link</em> berikut ini :</p>
<h2 style="text-align: justify;"><a href="http://lathifulamri.com/ujung-kulon-part-ii"><strong><span id="sample-permalink"><span id="editable-post-name" title="Click to edit this part of the permalink">UJUNG KULON Part II</span></span></strong></a></h2>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lathifulamri.com/ujung-kulon-part-i/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pulau Kayu Angin dan Pulau Tidung</title>
		<link>http://lathifulamri.com/pulau-kayu-angin-dan-pulau-tidung</link>
		<comments>http://lathifulamri.com/pulau-kayu-angin-dan-pulau-tidung#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 12:58:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lathiful amri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Road the Trip]]></category>

		<category><![CDATA[backpack]]></category>

		<category><![CDATA[camping]]></category>

		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<category><![CDATA[pulau bira]]></category>

		<category><![CDATA[pulau kayu angin]]></category>

		<category><![CDATA[pulau sepa kecil]]></category>

		<category><![CDATA[pulau tidung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lathifulamri.com/?p=1427</guid>
		<description><![CDATA[Sea, sand, sun and salt.. Kali ini saya akan membuat iri setengah mati bagi para pembaca blog ini. Semuanya ada, semuanya lengkap. Mulai dari Pantainya, spot- spotnya, kekompakan tim, pengalamannya, ceritanya dan tak ketinggalan keuangannya.

Jalan- Jalan bareng Amri maret ini diikuti 11 orang dari berbagai daerah, diantaranya Andri dari Depok, Ria  dari Bekasi, Adhi dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Sea, sand, sun and salt</em>.. Kali ini saya akan membuat iri setengah mati bagi para pembaca blog ini. Semuanya ada, semuanya lengkap. Mulai dari Pantainya, spot- spotnya, kekompakan tim, pengalamannya, ceritanya dan tak ketinggalan keuangannya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/pulau-tidung-kepulauan-seribu.jpg"><img class="size-full wp-image-1428 aligncenter" title="pulau-tidung-kepulauan-seribu" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/pulau-tidung-kepulauan-seribu.jpg" alt="" width="343" height="243" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Jalan- Jalan bareng Amri maret ini diikuti 11 orang dari berbagai daerah, diantaranya Andri dari Depok, Ria  dari Bekasi, Adhi dari Balikpapan, Putri dari Depok, Yayuk dari Pamulang, Sandy dari Kelapa Gading, Septi dari Tangerang, Jody dari Pulomas, Ama dari Cawang dan saya sendiri dari Jepang *boong banget*. Sebenernya yang ikut 15 orang, 2 orang cancel di hari H, 2 orang telat saat kapal sudah berangkat dari Muara angke.</p>
<h2 style="text-align: justify;">Day I, Sabtu 13 Maret 2010</h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>06.00 Meeting Point di depan Gedung Cyber</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sembilan orang kumpul di depan <em>lobby</em> gedung Cyber, satu orang cegat di pluit, dua orang langsung ketemu di Muara angke, pokoknya serasa memberangkatkan rombongan haji. Dari Cyber- Muara angke keluar biaya pertama naik taxi Rp. 20 rb/ orang *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>07.00 Tiba di Pelabuhan Muara angke, kepanikan itu&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di Muara angke langsung kaget melihat kapal tujuan pulau Tidung penuh. Sekitar 125 orang dipaksa naik dalam 1 kapal. Nyawa nomor sekian, yang penting sampai tujuan. Kepanikan melanda ketika jangkar kapal sudah dilepas, tapi 3 teman saya belum sampai juga. Saya sempat memohon ke nahkoda supaya kapal jangan diberangkatkan dulu. Detik- detik terakhir Septi tiba, sedangkan Zamroni dan Devy tertinggal. Lain kali bikin <em>meeting point</em> habis subuh deh, biar aman hehehe. Kapal berangkat, jangan mengharapkan PW alias posisi wenak, selonjor saja susah. Lagi- lagi Kartu UNO menyelamatkan kami dari mati gaya. Hampir seluruh penumpang bengong, tidur, ada yang sok pencet- pencet hp tapi tim kami asyik sendiri main kartu UNO. Oh iya, harga tiket kapal ke pulau Tidung sebesar 35rb/ orang *cring*.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/biking-paradise-pulau-tidung.jpg"><img class="size-full wp-image-1440 aligncenter" title="biking-paradise-pulau-tidung" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/biking-paradise-pulau-tidung.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>10.00 Tiba di Pulau Tidung</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pak Wardi selaku <em>contact person</em> yang sudah saya kenal di pulau Tidung langsung menyambut di anjungan *kirain sambutan berupa kalungan bunga, ternyata cuma senyuman, ckckck ngarep*. Kami menuju rumah beliau sebentar numpang ganti baju dan tak lupa oles- oles<em> sunblock</em> setebal mungkin supaya tidak hitam. Sepeda yang kami pesan sebelumnya sudah disedikan oleh pak Wardi seharga 10rb/orang *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>10.30 Biking Paradise di Pulau Tidung, Jeprat- Jepret di jembatan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berangkat!!!. Teriknya matahari tidak menyurutkan semangat kami bersepeda menuju jembatan yang menghubungkan Tidung besar dengan Tidung kecil. <a href="http://lathifulamri.com/snorkeling-sunset-sunrise-dan-trekking-di-pulau-tidung">Waktu pertama kali saya ke Pulau Tidung</a>, jembatannya masih rusak dan sekarang sudah diperbaiki.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/kepulauan-seribu-pulau-tidung.jpg"><img class="size-full wp-image-1442 aligncenter" title="kepulauan-seribu-pulau-tidung" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/kepulauan-seribu-pulau-tidung.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Pulau Tidung terkenal dengan jembatannya yang sangat menarik. Dari jembatan kita bisa melihat ikan- ikan kecil dan terumbu karang. Dua kali ketempat ini bagi saya tetap luar biasa.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>12.30 SOMAI, Sholat- Makan- Istirahat</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Puas berfoto dengan segala gaya, sepeda kembali dikayuh menuju rumah pak Wardi sekitar 15 menit. Dirumah pak Wardi sudah disediakan makan siang dengan menu ikan lengkap dengan sayur asem, tempe, sambel, kerupuk dan pisang seharga 15rb/orang *cring*. Pak Wardi juga membantu mencarikan kapal untuk dicarter/sewa mengantar kami <em>camping </em>ke Pulau Kayu Angin seharga 900rb *cring* (dihitung 2 hari, sabtu dan minggu). Selain itu kami juga minta tolong untuk dibelikan 2 galon aqua seharga 17rb/galon *cring* untuk bekal <em>camping</em> di Pulau Kayu Angin.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>14.00 Menuju Pulau Kayu Angin, disambut lumba- lumba</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh perlengkapan <em>camping</em> sudah diangkut di dalam kapal yang kami carter, tak lupa mengambil alat <em>snorkling</em> yang sudah kami <em>booking</em> sebelumnya di rumah pak Amsir seharga 45rb/set *cring* dihitung 2 hari lengkap dengan <em>lifevest, google</em> dan <em>fin</em>. Di perjalanan disambut rombongan lumba- lumba *saya juga heran, di kepulauan seribu ada lumba- lumba juga toh*. Oh iya,  kapal yang kami sewa lengkap dengan sopirnya bernama pak Tony dan Ardy, mereka berdua juga ikut bersama rombongan kami <em>camping</em> semalam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>16.30 Tiba di Pulau Kayu Angin, Langsung Cibang- Cibung</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Luar biasa, mata langsung berkaca- kaca kagum melihat pulau yang kecil mungil ini. Bibir pantai sisi timur bewarna hijau tosca, sisi barat bewarna biru, sungguh menakjubkan. Sepertinya tidak perlu berlebay- lebay dengan kata- kata, langsung saja saya pameri fotonya :</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/pulau-kayu-angin.jpg"><img class="size-full wp-image-1447 aligncenter" title="pulau-kayu-angin" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/pulau-kayu-angin.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Pulau Kayu Angin dengan keliling sekitar 500 meter ini tidak berpenghuni, serasa milik sendiri.  Mendirikan tenda disini aman, air laut tidak terlalu pasang.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>17.30 Mendirikan tenda, Toilet buatan </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perlu diketahui kami telah membawa tenda dari Jakarta sebanyak 5 buah tipe dom citarik isi 3 orang yang kami sewa di <a href="http://teamgoa-campingrent.blogspot.com/">Saung GOA</a> Ciputat, Jakarta Selatan. Harga sewa tenda tersebut rp. 22.500rb/hari *cring*. Mendirikan tenda dom gampang sekali, 10 menit sudah jadi. Justru yang paling lama yaitu mendirikan toliet buatan. Yak,  bermodalkan kayu dan parasit anti hujan yang digunakan untuk tenda, toliet asal- asalan itupun dibuat. Sesekali toliet buatan tersebut roboh tertiup angin pantai *bwahaha, kalau lagi ada cewek yang sedang kencing trus roboh.. hm, jangan dibayangkan*. Selain itu kami juga membuat tempat sampah, tempat sholat, jemuran baju dll.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>18.00 Mengejar Sunset </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah seluruh pemasangan tenda selesai, langsung ber<em>sunset</em> ria.  Kemudian saat petang tiba dilanjut berendam di pantai untuk mandi dan wudlu. Berkumpul melingkar sambil berendam bersama teman- teman disaat petang benar- benar membuat hati damai, tenang serta melepas penat kerjaan.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/sunset-pulau-kayu-angin.jpg"><img class="size-full wp-image-1452 aligncenter" title="sunset-pulau-kayu-angin" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/sunset-pulau-kayu-angin.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>19.00 Semalam di Pulau Kayu Angin yang berkesan, ceria </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Api unggun di bakar, suasana sekitar area <em>camping</em> jadi terang. Saatnya telah tiba, makan malam bersama di depan api unggun. Makan malam ini dibawa dari pulau Tidung yang telah disediakan oleh pak Wardi seharga 15rb/ orang *cring* dengan menu nasi, udang, oseng kacang panjang, kerupuk, sambel dan jeruk *rasanya nendang bok*. Rangkaian kegiatan belum selesai, selanjutnya yaitu duduk melingkar di api unggun sambil perkenalan satu persatu, kemudian nyanyi- nyayi bareng dengan lirik &#8220;kemesraan ini, janganlah cepat berlalu, kemesraan ini pasti ku kenang selalu&#8221; bwahaha lagu jadul. Masih kurang puas? dilanjut<em> games</em> seru. <em>Game</em> pertama yaitu berupa rebutan tempat dengan bercerita menggunakan kata kunci, kami benar- benar larut dalam keceriaan malam itu. Kemudian ditambah lagi <em>game</em> suit dengan bahasa tubuh yaitu cewek cantik- macan- pemburu, wah pokoknya fun fun dan fun! Eeits dilanjut lagi oleh aksi mama loreng membaca sidik jari, eh yang bener mama Marina. Ckckckck. Wih, gak cuman itu.. ternyata pak Tony dan Ardy sang pemilik kapal mendapat ikan hasil memancing yang siap untuk di bakar. Ikan yang <em>fresh</em> tersebut luar biasa enaknya, disantap rame- rame dalam keadaan <em>hot</em>,  nyam nyam nyam! Akhirnya sekitar jam 12 malam kami terlelap bersama alam.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/camping-di-pulau-kayu-angin.jpg"><img class="size-full wp-image-1456 aligncenter" title="camping-di-pulau-kayu-angin" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/camping-di-pulau-kayu-angin.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Saat kami camping di pulau Kayu Angin cuaca bersahabat. Merebahkan badan di depan tenda sambil melihat angkasa dengan bertaburan bintang sungguh amazing!</em></p>
<p style="text-align: center;">
<h2 style="text-align: justify;">Day II, Minggu 14 Maret 2010</h2>
<p style="text-align: left;"><strong>05.00 Bangun pagi, SOMAI, gagal sunrise</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di sini gak ada ayam berkokok, hehe. Malang nasib kami, tidak bisa melihat <em>sunrise </em>karena sang surya bersembunyi di balik awan. Bangun pagi langsung bagi tugas. Ada yang<em> repack</em> tenda, sholat, masak dan bersih- bersih area. <em>Mie instant</em> sudah dikumpulkan dan siap dimasak dengan kompor <em>portable</em> yang saya bawa. Sarapan cukup dengan<em> mie instant</em> dan roti.</p>
<p style="text-align: justify;">06.30 Berkunjung ke pulau Sepa kecil dan pulau Kayu Angin 2</p>
<p style="text-align: justify;">Jangkar kapal dilepas, petualangan siap dilanjutkan. Menurut pak Tony pulau Kayu Angin ada 3. Tapi kami yakin yang kami buat <em>camping</em> semalam adalah yang asli. Tiba di pulau Sepa kecil hanya cibang- cibung sebentar, pun begitu di pulau Kayu Angin 2 hanya snorkling sebentar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>09.00 Snorkling di Pulau Bira, bulu babi bertebaran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di acara paling favorit yaitu <em>snorkling</em> di sekitar pulau Bira. Karena sudah pernah <em>snorkling </em>di pulau Semak daun dan pulau Air, kali ini saya pilih di pulau Bira * maaf ya teman-teman, saya egois hehehe*.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/snorkling-di-pulau-bira.jpg"><img class="size-full wp-image-1462 aligncenter" title="snorkling-di-pulau-bira" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/03/snorkling-di-pulau-bira.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Bersnorkling si sekitar pulau Bira memiliki bungkahan- bangkahan terumbu karang yang relatif kecil. Akan tetapi untuk variasi ikannya lebih lengkap di sini.</em> <em>Selain itu juga harus hati- hati, banyak bulu babi.</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>11.30 Tiba di Pulau Pramuka, sedikit terlambat&#8230;</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Snorkling </em>1 jam sudah cukup membuat capek, kami langsung mengejar pemberangkatan kapal ke Muara angke dari pulau Pramuka. Setelah berpisah dengan pak Tony dan pak Ardy, beberapa teman berlari- lari nyari toilet umum dan akhirnya dapat disalah satu rumah penduduk. Untuk menghemat waktu, sebagian lagi numpang ganti baju dan sholat di masjid. Saat semua sudah siap, kami langsung menuju anjungan yang ada di pulau Pramuka, dan ternyata permirsa&#8230; Kapalnya sudah full berisi 140 orang dan kami tidak boleh naik. Wah wah, mulai panik. Untungnya masih banyak penumpang lain sekitar 60 orang juga tidak terangkut, akhirnya kapal pemberangkatan kedua di adakan. Kapalnya gede, lumayan <em>pw</em>, bisa selonjoran, bisa main UNO sepuasnya. Tiketnya Rp. 30rb/orang *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>15.30 Tiba di Muara Angke</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pulau Pramuka- Muara angke pulangnya lebih cepet, kurang dari 3 jam. Dari Muara angke sewa angkot seharga 45rb/angkot *cring* untuk sebelas orang turun di terminal Grogol. Di terminal Grogol, perpisahan itu terjadi, perpisahan dengan tim yang sangat kompak *halal, lebay berlinang air mata*. Semua pulang ke daerah masing- masih. Saya sendiri melanjutkan naik <em>transjakarta</em> ke arah Harmoni- Blok M dengan tarif 3500 *cring*. Kemudian naik taxi sampai kos- kosan di Mampang sebesar 20rb *cring*, padahal dibayari Andri hehe.</p>
<h2 style="text-align: justify;"><strong>Info dan Saran Ini Jangan Dilewatkan :</strong></h2>
<pre style="text-align: justify;">- Kapal dari Muara angke ke pulau Tidung hanya 1 kali itupun pagi sekali jam 7,
  bahkan kalau musim liburan jika kapal sudah penuh langsung berangkat saja,
  daripada anda terlambat, sebaiknya jam 6 pagi sudah standby di TKP
- Selama 3 jam naik kapal ke pulau Tidung, selalu sedia obat anti mabok,
  juga kartu UNO dan kartu2 lain supaya tidak mati gaya
- Untuk camping di sebuah pulau, idealnya air bersih yang dibutuhkan
  per orang ± 3 liter. Atau bisa bawa 2 galon untuk 11 orang sudah cukup
- Jika camping di Pulau Kayu Angin, pilih di area pantai yang menghadap timur
  karena lumayan datar. Jangan lupa bawa kompor portable, dan makanan sebanyaknya
- Tenda yang paling cocok untuk camping di pantai adalah tipe dom isi 3 orang
  karena ukurannnya yang kecil, memungkinkan tidak tertepa oleh angin laut
- Sewa alat snorkling sebenarnya 35rb/ hari. Tapi setelah ditawar,
  didapat harga murah yaitu 45rb/2 hari
- Setau saya, kapal reguler paling siang dari kepulauan seribu hanya ada
  di pulau pramuka yaitu jam 12 siang. Tapi daripada anda tidak terangkut,
  sebaiknya jam 11 sudah di TKP
- Sebaiknya peserta max 15 orang, karena kapal yang disewa dari Tidung
  menuju Pulau Kayu Angin dan pramuka berkapasitas max 15 orang
- Contact Person :
  * <strong>Pak Wardi</strong>, yang menyediakan makan, galon, kapal, sepeda semua kebutuhan bisa
    minta tolong ke beliau dengan nomor : 085693565464
  * Pak Amsir, yang menyediakan persewaan alat snorkling : 081511892078
  * Saung Goa, tempat persewaan tenda di Ciputat : (021) 7498780
- Jangan lupa bilang ke contact person diatas kalau atas rekomendasi Amri,
  Semoga mendapatkan harga khusus lho...

- Laporan Biaya per orang :
  * Kapal Muara angke- Pulau Tidung                       = Rp. 33.000
  * Makan siang dan makan malam                           = Rp. 30.000
  * Sewa sepeda                                           = Rp. 10.000
  * Sewa kapal dihitung 2 hari, Total 900rb/11 orang      = Rp. 82.000
  * 2 Galon Aqua, Total 35rb/ 11 orang                    = Rp.  3.000
  * Sewa alat snorkling dihitung 2 hari, Total 45rb       = Rp. 45.000
  * Kapal Pulau Pramuka- Muara angke                      = Rp. 30.000
  * Sewa Tenda dihitung 2 hari,Total 5 tenda 225rb/11 org = Rp. 21.000
  * Uang tip buat pak Wardi 50rb/ 11 orang                = Rp.  4.500
  * Carter Angkot ke Grogol, Total 45.000                 = Rp.  5.000
 <strong> TOTAL                                                   = Rp 263.500 </strong>
<strong>

</strong></pre>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lathifulamri.com/pulau-kayu-angin-dan-pulau-tidung/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Baduy Dalam</title>
		<link>http://lathifulamri.com/rahasia-baduy-dalam</link>
		<comments>http://lathifulamri.com/rahasia-baduy-dalam#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 02:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lathiful amri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Road the Trip]]></category>

		<category><![CDATA[baduy]]></category>

		<category><![CDATA[baduy dalam]]></category>

		<category><![CDATA[baduy luar]]></category>

		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lathifulamri.com/?p=1317</guid>
		<description><![CDATA[Mereka beda, mereka bersimphony dengan alam, mereka bebas, mereka damai, mereka kaya, mereka ramah, mereka  putih, mereka merona, mereka kuat dan mereka arsitek hebat, bagaimana bisa?

Well, jika biasanya kami ngebackpack alias nggembel kere rame, kali ini sedikit bernyaman ria membawa mobil sendiri dari Jakarta tapi tetap bertemakan dan berlandaskan kehematan sosial bagi seluruh raykat Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>Mereka beda, mereka bersimphony dengan alam, mereka bebas, mereka damai, mereka kaya, mereka ramah, mereka  putih, mereka merona, mereka kuat dan mereka arsitek hebat, bagaimana bisa?</em></p>
<p style="text-align: center;"><a style="cursor: pointer;" href="../wp-content/uploads/2010/02/perkampungan-baduy.jpg"><img class="size-full wp-image-1376 aligncenter" title="perkampungan-baduy" src="../wp-content/uploads/2010/02/perkampungan-baduy.jpg" alt="" width="490" height="289" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Well, jika biasanya kami nge<em>backpack</em> alias nggembel kere rame, kali ini sedikit bernyaman ria membawa mobil sendiri dari Jakarta tapi tetap bertemakan dan berlandaskan kehematan sosial bagi seluruh raykat Indonesia *dikira pancasila*. Saya perkenalkan dahulu para odong- odong yang ikut jalan- jalan kali ini diantaranya pemain lama Dodi Mulyana, Reza N Sanusi, Aby Herwendo, Ika Soewandi, Joedy dan saya sendiri sang perajut cinta *ehem*.</p>
<h2><strong>Day I, Sabtu 6 Februari 2010</strong></h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>07.00 Meeting point di depan Cricle K Pancoran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Naik ojek dari kos menuju <em>meeting point</em> keluar biaya pertama sebesar Rp. 7rb *cring*.  Para odong- odong satu persatu tiba di <em>meeting point </em>tepat waktu, kecuali Aby yang sedikit telat karena sedang memberi <em>warming up</em> untuk mobilnya. <em>Its okey</em>, jam 07.30 kami berangkat dan tak lupa saya pimpin doa terlebih dahulu.</p>
<p><strong>11.00 Tiba di Alun- Alun Lebak, Banten</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Route yang kami lewati adalah Jakarta- Tol Tangerang- pintu tol Balaraja Timur belok kiri- Rangkasbitung- Lebak- Aweh- Ciboleger. Singkat dan jelas kan? ya, semoga anda tersesat dengan bahagia. Sepanjang perjalan tersebut di dalam mobil canda dan tawa tumpah, cerita a sampai z. Mulai dari tebak lagu, saling spoileran filem sampai mitos pun ada. Bercadaan yang paling nge hitz adalah mitos  jika kita kena sabetan buntut kebo bakalan menjadi bodoh *dyeng, hahaha*. Jam 11.00 tiba di alun- alun kota Lebak Banten mampir di masjid agung Al A’raaf untuk kencing *bukannya sholat, malah buang hajat.. Ya Alloh ampuni teman- temanku ini*.  Kenarsisan kami datang begitu saja ketika melihat masjid yang megah dan langit yang biru itu.</p>
<p style="text-align: center;"><a style="cursor: pointer;" href="../wp-content/uploads/2010/02/tim-odong-odong.jpg"><img class="size-full wp-image-1373 aligncenter" title="tim-odong-odong" src="../wp-content/uploads/2010/02/tim-odong-odong.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dari pojok atas kiri : patung selamat datang di Ciboleger, Masjid Agung Al A’raaf Lebak, bercengkrama dengan anak Ciboleger, Pak Agus Bule, barang bawaan </em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>13.00 Tiba di Ciboleger</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di Ciboleger kami ditakdirkan dengan bertemu (padahal sudah saya kontak-kontak sebelum keberangkatan) dengan guide yang baik dan hampir semua orang di Ciboleger kenal dengan sosok orang ini, sebut saja Agus Bule sang kuncen Baduy. Di rumah pak Agus Bule numpang makan siang dan minum tapi tetap bayar lah wong makanannya emang di jual, Rp. 15rb *cring* dilanjut sholat dhuzur di masjid sekitar. FYI, saat kami kesana di Baduy dalam sedang ada upacara “<strong>kawalu</strong>” yaitu upacara semacam puasa di bulan ramadhan dari bulan Februari- April dan mereka tertutup dari dunia luar termasuk menerima tamu/ wisatawan kesana. Lho lho, saya dan kawan- kawan kok bisa masuk kesana saat kawalu? tenang.. tenang, kan kepala sukunya bapak saya *bercanda, hehe*. Supaya bisa masuk Baduy dalam saat kawalu, pak Agus bule mensiasati dengan cara pura- pura sampai sana kemalaman, jadi izin numpang nginap. Selain itu, disiasati juga pura- pura berziarah ke kepala suku (Pu’un). Dan berikut barang- barang aneh yang harus kami bawa per orang saat ziarah tersebut : kain putih, pisau, menyan dan minyak *jiyahahaha, ini mah nyari tuyul*. Barang- barang tersebut dibelikan oleh pak Agus di Ciboleger, jadi gak perlu susah- susah bawa dari Jakarta. <em>At least</em>, gak papa meski bawa barang- barang aneh tersebut yang penting tujuan kami tidak mencari wangsit atau kesaktian, melainkan mencari anaknya kepala suku yang katanya cantik itu *lho*.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>14.30 Tiba di Desa Gazebo, Baduy Luar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan 14 Km selama 6 jam dan melintasi 5 bukit itu dimulai *buat anda yang tidak siap, mending latihan dulu jalan Jakarta- Bogor,kekeke*. Jam setengah dua kami bertujuh (termasuk pak Agus) meninggalkan Ciboleger dan mampir dulu di rumah  pimpinan dari keseluruhan desa baik Baduy luar maupun dalam  yang disebut <em>Jaro</em> untuk daftar dan registrasi alias bayar Rp. 25rb *cring* satu rombongan. Setelah sedikit <em>treking</em>, tibalah kami di desa Gazebo (Baduy luar). Di desa ini belum terlalu primitif, mereka berpakaian warna hitam, bahkan kami sempat mampir di suatu rumah untuk beli teh botol sosro dan lilin senilai 4rb *cring*. Dan di desa inilah untuk pertamakali saya melihat jembatan bambu yang mengagumkan itu.</p>
<p style="text-align: center;"><strong></strong><a style="cursor: pointer;" href="../wp-content/uploads/2010/02/jembatan-bambu-baduii.jpg"><img class="size-full wp-image-1323 aligncenter" title="jembatan-bambu-baduii" src="../wp-content/uploads/2010/02/jembatan-bambu-baduii.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Jembatan bambu ini melintang dengan kokoh, tanpa paku, terikat oleh ijuk pohon enau merupakan sebuah arsitektur yang menakjubkan.</em> <em>Jembatan serupa dapat ditemukan di beberapa tempat di Baduy luar maupun dalam.</em></p>
<p><strong>15.30 Tiba di Desa Kaduketer, Kejadian Itu….<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan dilanjutkan dengan jalur <em>trek</em> yang tergolong ringan. Menurut saya desa Kaduketer memiliki <em>view</em> paling bagus. Dan di desa inilah merupakan desa terakhir dari Baduy luar. Sepanjang perjalanan dari Gazebo sampai desa ini kami masih terheran- heran dengan orang Baduy yang kami temui di jalan, karena mayoritas dari mereka kulitnya putih merona, cantik- cantik dan tampan. Ini masih Baduy luar, bagaimana dengan Baduy dalam? *semakin penasaran*. Menurut spoiler dari rombongan cewek, anak kepala suku di Baduy dalam ada yang mukanya mirip Tora Sudiro tinggal dipoles dikit *omaygat, semoga saja Asmiranda juga ada disana*. Setelah puas berfoto- foto di bawah desa, kami sedikit naik untuk berfoto dari ketinggian dengan gaya andalan gaya loncat. Dan apa yang terjadi pemirsa sekalian…. Ketika saya loncat <em>single </em>sekuat tenaga dan difoto oleh Dodi juga Ika, tiba- tiba terdengar suara “weeek”, huaaaa.. setan giling setan alas, ternyata celana saya sobek selebar 4 jengkal !!!. Seketika semua pada ketawa puas, dan saya balas dengan muka malu *padahal di dalam hati ikutan ngakak*. Mau ganti celana tapi males <em>repack</em>, akhirnya sepanjang perjalanan saya ngumpet paling belakang. Kalau badan masuk angin sih enak ada minyak kayu putih, lha ini yang masuk angin bagian dalam celana, apa yang mau diminyakin? *jangan dibayangin lho*.</p>
<p style="text-align: center;"><a style="cursor: pointer;" href="../wp-content/uploads/2010/02/desay-baduy.jpg"><img class="size-full wp-image-1374 aligncenter" title="desay-baduy" src="../wp-content/uploads/2010/02/desay-baduy.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Terlihat perempuan suku Baduy sedang menumbuk beras yang mereka simpan di sebuat tempat bernama leuwit. Sebagian desa- desa suku Baduy juga unik, bersembunyi dibalik bukit.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>16.00 Perjalanan Sesungguhnya<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan semangat 45 rombongan odong- odong meninggalkan Baduy luar, melintasi tanjakan tanah merah, bukit dan hutan. Sesekali kami beristirahat di jalan dan di gubug/ saung. Sekitar jam setengah 6 kami tiba di jembatan bambu yang merupakan batas antara Baduy dalam dan Baduy luar. Selama di Baduy dalam, dilarang menggunakan kamera dengan alasan mereka tidak mau di<em>expose</em> dunia luar. Saya pun mohon maaf jika tidak ada <em>screenshoot</em> atau gambar bagaimana keindahan Baduy dalam maupun orang- orang Baduy dalam karena kami menghormati pantangan yang ada *serius*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>17.30 Bertemu Anaknya Artis<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melewati jembatan bambu di depan kami menghadang sebuah tanjakan bukit yang sangat tinggi dan merupakan tanjakan paling sulit. Pokoknya capek banget dan ngos- ngosan seperti anjing. Ketika tiba di atas bukit, langit mulai gelap, senja di ujung barat berhamburan keluar. Ingin sekali mengeluarkan kamera dan berfoto- foto bersama <em>sunset</em>, tapi kami takut pantangan daripada besoknya tiba- tiba kelamin saya hilang? *jabang bayik*. Di jalan kami bertemu cucunya kepala suku berusia sekitar 12 tahun yang sedang turun. Jadi di sana ada Pu’un kepala suku, kemudian anaknya (yang katanya mirip Tora Sudiro) dan anaknya Tora Sudiro inilah yang kami temui di jalan. Menurut saya mukanya sangat <em>goodlooking</em> dan berikut obrolan rombongan cewek sepanjang perjalanan “wiiih, ganteng banget.. ganteng ya”, sambil ngeces sana- sini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>18.30 Durian Yang Sangat Nikmat </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan terus dilanjutkan menerobos gelapnya malam. Terbesit di depan kami sebuah rumah tanpa tetangga di tengah hutan. Rumah ini milik pak Sarwan beserta istri dan satu anaknya yang masih balita. Dengan bahasa Indonesia yang masih terpatah- patah pak Sarwan menawarkan durian kepada kami. Setelah diterjemahkan oleh pak Agus, ternyata harganya 10rb perbiji. Tanpa ditawar langsung kami iyain. Tiga buah durian kami embat tanpa sisa karena memang sedang kelaparan. Sialnya, gak ada satupun dari rombongan kami yang gak suka*penyesalan terselubung*. Kami juga ditawari pisang beserta minum dengan mangkok sebagai gelasnya. Entah rumah, pak Sarwan dan durian saat gelap sehabis maghrib ini hanyalah sebuah fatamorgana atau halusinasi, tapi yang jelas bau duriannya masih ada kok sampai Baduy dalam *hehe*. Kami pamitan ke pak Sarwan tak lupa bayar upeti durian Rp. 30rb *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>19.30 Tiba di desa Cibeo, Baduy Dalam<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Senter dinyalakan, melewati jalanan becek berbatu dan beberapa jembatan bambu. Akhirnya tibalah di desa Cibeo, salah satu dari tiga desa yang ada di Baduy dalam.  Rumah di desa Cibeo sangat sederhana, semua terbuat dari bambu, mirip kandang ayam ini mah. Kami menginap di salah satu rumah penduduk bernama pak Jasrif. Setelah menaruh barang bawaan, kami diantar oleh menantunya laki- laki dari Pak Jasrif ke sebuah sungai untuk kencing dan membasuh muka. Oh iya, suku baduy tidak mengenal listrik, jadi selamat datang di dunia kegelapan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>20.00 Makan Malam Yang Harmoni</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kami semua berkumpul bersama keluarga pak Jasfif terdiri istrinya, beberapa anak laki- laki nya yang dewasa dan balita, juga beberapa anak perempuannya yang bersembunyi di balik sekat kamar. Setelah saya lirik- lirik di sekat kamar, saya belum melihat anak perempuannya yang mungkin ada yang asoy *gelap kali ya*. Waktu itu kami menyerahkan <em>mie instant</em>, sarden dan makanan ringan untuk disantap bersama. Kami dibalas dengan suguhan minum dan rambutan. Nasi liwetnya sudah matang, langsung kami santap bersama dengan lahap beserta <em>mie instant </em>dan sarden, enaknya luar biasa *entah lapar atau doyan*. Yang biasanya saya <em>diner </em>malem minggu di <em>Sky Dining</em> Pelangi ataupun di Exelso Kemang, kali ini malming cukup di sebuah rumah bambu ditemani lilin yang semakin redup. Sejenak melupakan hirup pikuk ibukota, klakson mobil karena macet dan gemerlapan panggung hiburan dengan bermalam di Baduy dalam tanpa lampu, tanpa MP3, tanpa sinyal handphone apalagi laptop. Malam itu kami sedikit melakukan perbincangan dengan pak Jasrif yang lumayan fasih berbahasa Indonesia itu. Bahkan mendadak saya terkonclang ketika pak Jasrif tanya “eh.. itu bagaimana tentang kasus bank Century? banknya ada dimana saja”, bwahahaha ini orang gak ada teknologi gak ada tv atau koran kok tau aja kasus bank Century. Malam itu juga kami langsung melontarkan sebuah pertanyaan yang jawabannya sangat kami tunggu- tunggu “Gini lho pak, kami lihat dari Baduy luar maupun dalam kenapa ya kok orang Baduy mayoritas kulitnya putih2, merona pula. Apakah ada rahasianya pak? adakah ramuan atau kiat- kiat khusus?”. Mendadak pak Jasrif ketawa. Dijawab oleh pak Jasrif “hahaha, gak ada.. memang sudah dari sananya”, busyeeet dah jawabannya menohok. <em>Well</em>, bersama terangnya rembulan dan nyanyian jangkrik jam 9 malam kami tidur.</p>
<h2><strong><strong>Day II, Minggu 7 Februari 2010</strong></strong></h2>
<p style="text-align: left;"><strong>06.00 Menghadap Pu’un (Kepala Suku)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jam 5 pagi saya sudah bangun, pergi ke sungai ambil air wudhu. Setelah sholat, tiba- tiba kepala suku sudah di dalam rumah pak Jasrif. Dan saya mendapat giliran pertama menghadap kepala suku dan saya benar- benar tidak tau mau diapakan. Saya pun ditanya sudah menikah? saya jawab belum dengan nada kalem. Waktu itu masih pagi dan gelap, muka Pu&#8217;un kurang jelas, tapi terlihat mulutnya komat- kamit membaca mantra. Mendadak saya terkaget ketika tangan saya dipegang Pu&#8217;un dan dikasih sebuah botol menyan bau minyak nyong nyong sambil di mantrain. Astaghifurullah, saya  baru sadar ternyata banyak orang kesini sebagian besar minta jampi- jampian Pu&#8217;un. Dan ternyata barang bawaan aneh semacam kain putih dan menyan yang kami bawa dari Ciboleger saya kira buat ziarah, ternyata untuk seserahan jampi- jampian. Kalau urusan jejampian ini, saya serahkan pada kepecerayaan masing- masing deh. Karena memang kami kesana hanya bertujuan fun, refreshing, mengetahui budaya dan alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah dikorek informasi mengenai anaknya Pu&#8217;un yang mirip Tora Sudiro, ternyata doi-nya sedang turun ke Baduy luar, hahahaha pasti yang cewek- cewek langsung stroke.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>07.00 Sarapan, Mandi di Sungai, Pamitan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah satu persatu mengahadap Pu&#8217;un, saatnya mandi di sungai dengan mengikuti syarat tidak boleh pakai sabun, pasta gigi dll. Airnya suegeeer *sambil berdoa supaya kulit saya bisa putih seperti orang Baduy*. Sehabis mandi eh makanan sudah matang aja, menunya seperti kemarin mie instant dan sarden. Makan pagi kali ini di depan rumah, ditemani puluhan ekor ayam. Dilanjut dengan packing dan berpamitan juga tak lupa memberi uang tip kepada rumah yang kami inapi Rp. 100rb *cring*. Selamat tinggal Baduy dalam, terimakasih pak Jasrif dan keluarga, its a memorable experience.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>08.00 Perjalanan kembali ke Ciboleger</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Jalur pulang kali ini beda dengan saat berangkat ke Baduy dalam, cuma 5 jam melewati beberapa tanjakan dan hutan juga sih, tapi lebih becek dan berlumpur. Jam 11 siang kami sampai di perbatasan Baduy dalam dan luar, seketika itu langsung mengeluarkan kamera, sinyal hp juga ada *serasa kembali ke peradaban*. Di jalan kami bertemu anak Baduy dalam yang baru saja pulang dari Baduy luar dan kami coba tanya, siapa namanya ? dia menjawab &#8220;Aldy&#8221; *bwahaha, ternyata orang Baduy dalam namanya sudah keren- keren*.</p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong><a style="cursor: pointer;" href="../wp-content/uploads/2010/02/orang-baduy.jpg"><img class="size-full wp-image-1380 aligncenter" title="orang-baduy" src="../wp-content/uploads/2010/02/orang-baduy.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Caputure anak- anak Baduy. Salah satu anak yang matanya terlihat berkaca- kaca diatas ketakutan ketika saya foto, bahkan sampai menangis kenceng. Mungkin dikira setan, eh.</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>13.00 Tiba di Ciboleger, Pulang ke Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Betis rasanya mau copot saking capeknya. Tiba di rumah pak Agus (Ciboleger) langsung minum, makan, mandi, sholat dan pamitan. Tak lupa memberi uang tempel ke Pak Agus Bule sebesar Rp.200rb *cring*. Juga kena biaya parkir mobil semalam di Ciboleger rp.  25rb*cring*. Berhubung masih sore, perjalanan pulang kami buat santai dan mampir di alun- alun Lebak istirahat dan ditraktir makan bakso oleh Aby.  Jam 8 tiba di Jakarta dan mampir beli makan di lele Lela Rp. 15rb *cring* dan dilanjut naik ojek sampai kos Rp.7rb *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Informasi dan saran ini jangan dilewatkan :</strong></p>
<pre style="text-align: justify;">* Contact Person : Pak Agus Bule, 085710421217 or 0857161122124
                  (bilang saja dikasih tau amri, smoga dibantu maksimal)
* Barang bawaan yang paling wajib dibawa : jas hujan, senter, sendal gunung
* Syarat ke baduy dalam :
     - bukan WNA (bule), sudah sunat, dilarang memotret
     - dilarang menggunakan alat MCK dan bahan kimia
     - dilarang membawa gitar, mp3 atau membuat gaduh
     - berat badan proposional (dikarenakan jalur treking yang susah)
* Hindari ke baduy dalam saat Kawalu (Februari- April) dan musim hujan
* Jangan lupa bawa lilin untuk penerangan menginap di baduy dalam
* Bawalah makanan untuk dimakan bersama pemilik rumah yang diinapi di
  baduy dalam seperti : mie instant, sarden, roti dan makanan ringan
* Orang baduy tidak mengenal sendal, tidak mengenal listrik, tidak mengenal
  alat transportasi tapi mereka mengenal rupiah
* Bagaiamana jika kesana ngebackpack alias nyambung menyambung? tenang...
  Anda bisa membuka <a href="http://docs.google.com/View?id=ddbvjjbm_22dvtfntct">link itinerary ngebackpack berikut</a> yang sudah saya buat
* Laporan Biaya (untuk 6 orang)
  - Bensin mobil <span style="text-decoration: underline;">130rb</span>               : @ Rp.  21.000
  - Barang Ziarah (kain, menyan)     : @ Rp.  35.000
  - Biaya lapor Jaro <span style="text-decoration: underline;">25rb</span>            : @ Rp.   4.000
  - Uang nginap di baduy dalam <span style="text-decoration: underline;">100rb</span> : @ Rp.  17.000
  - Guide ke baduy dalam   <span style="text-decoration: underline;">200rb</span>     : @ Rp.  33.000
  - Parkir mobil 1 hari <span style="text-decoration: underline;">25rb</span>         : @ Rp.   4.000
    <strong>TOTAL                            :   Rp. 114.000</strong> (belum termasuk makan)</pre>
<p>Terimakasih kepada <em>All</em> team atas kebersamaannya. Bersyukur juga selama perjalanan <em>treking</em> ke Baduy dalam baik berangkat maupun saat pulang tidak turun hujan.</p>
<p style="text-align: justify;">Lho, trus rahasianya apa ? rahasia supaya putih merona?  berikut rahasianya:<em> tinggalah bersama orang baduy sampai beberapa bulan. Hidup di tengah hutan tanpa listrik, </em><em>bersimbiosis dengan alam, </em><em>tanpa hiburan, tanpa facebook, tanpa sendal, tanpa alat transportasi, tanpa polusi, hidup sederhana, tanpa bahan kimia. </em><strong>Apakah kisanak mau ? </strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lathifulamri.com/rahasia-baduy-dalam/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Backpack ke Ujung Genteng Part 2</title>
		<link>http://lathifulamri.com/backpack-to-ujung-genteng</link>
		<comments>http://lathifulamri.com/backpack-to-ujung-genteng#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jan 2010 19:05:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lathiful amri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[backpack]]></category>

		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<category><![CDATA[gua sungging]]></category>

		<category><![CDATA[pantai ombak tujuh]]></category>

		<category><![CDATA[pantai pangumbahan]]></category>

		<category><![CDATA[pelepasan tukik]]></category>

		<category><![CDATA[penyu bertelur]]></category>

		<category><![CDATA[samudera hindia]]></category>

		<category><![CDATA[ujung genteng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lathifulamri.com/?p=1213</guid>
		<description><![CDATA[Cerita backpacker ke Ujung Genteng tidak selesai begitu saja, melanjutkan dari postingan sebelumnya postingan yang kedua ini banyak sekali kejadian- kejadian yang diluar dugaan.
15.30 Check In di Penginapan Pondok Adi
Dari Gua Sungging menuju penginapan Pondok Adi yang berada di depan persis pantai Ujung Genteng sekitar 1 jam. Tiba di penginapan cuma naruh bawaan, tanpa mandi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Cerita backpacker ke Ujung Genteng tidak selesai begitu saja, melanjutkan dari <a href="http://lathifulamri.com/backpack-ke-ujung-genteng">postingan sebelumnya </a>postingan yang kedua ini banyak sekali kejadian- kejadian yang diluar dugaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>15.30 Check In di Penginapan Pondok Adi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Gua Sungging menuju penginapan Pondok Adi yang berada di depan persis pantai Ujung Genteng sekitar 1 jam. Tiba di penginapan cuma naruh bawaan, tanpa mandi tanpa apa kami langsung telp pak Adi yang punya penginapan, kemudian kami diketemukan dengan salah satu tour guidenya yang bernama mang Udin. Okey, oleh mang Udin kita ditawarin ojek menuju pantai pangumbahan untuk melihat pelepasan tukik. Setelah proses tawar menawar ala pasar induk, disepakati Rp.35rb *cring* PP. Eh iya sampai lupa, penginapan Pondok Adi sendiri berupa rumah panggung, bertembok kayu. Kebetulan kami menyewa yang tipe ombak tujuh, berfasilitaskan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang tengah seharga Rp.400rb *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>16.30 Pelepasan Tukik di Pantai Pangumbahan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari penginapan Pondok Adi ke pantai Pangumbahan sekitar 15 Menit menunggangi ojek. 9 sepeda motor beserta pengemudinya sudah menunggu kami di depan, terpaksa belum mandi langsung ke pantai. Jalanannya becek, menerobos semak- semak, ngepot- ngepot di pasir serrrrr&#8230;  Tiba di pantai pangumbahan, kami hampir telat. Bersyukur kami masih dapat kesempatan pelepasan tukik aka anak penyu itu :</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/pelepasan-tukik-pantai-pangumbahan.jpg"><img class="size-full wp-image-1233 aligncenter" title="pelepasan-tukik-pantai-pangumbahan" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/pelepasan-tukik-pantai-pangumbahan.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Tukik- tukik ini dilepas, bebas, berpetualang di dunia mereka sebenarnya. Konon menurut filem Ocean World 3D yang saya tonton, dari ratusan yang dilepas, hanya 1-5 saja yang selamat. Wow.. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>17.30 Berharap Sunset Pantai Pangumbahan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Usai melepas tukik, saya baru sadar ternyata pantai Pangumbahan bagus banget. Ombaknya berderu- deru. Suasana pantai Pangumbahan ramai, maklum tahun baru. Mendung, maklum musim hujan. Tampaknya sang surya memang betul- betul malu terhadap kami, nyatanya dia hanya bersembunyi dibalik mendung. Tapi tetep kami tidak mati gaya, ada pasir terbentang luas kok gak dimanfaatkan, ya langsung jepret sana- jepret sini.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/pantai-pangumbahan.jpg"><img class="size-full wp-image-1237 aligncenter" title="pantai-pangumbahan" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/pantai-pangumbahan.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Target kami di pantai Pangumbahan adalah sunsetnya, alhasil aksi mati gaya ditengah mendung lumayan bisa dijadikan oleh- oleh </em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>18.15 Balik ke Penginapan, Dodi yang malang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saking asyiknya foto loncat- loncat, gak kerasa sudah malam. Saat keluar pantai pangumbahan, kami di stop oleh petugasnya, e e e&#8230; ternyata melepas tukik tadi itu mbayar toh, kirain gratis *<em>kekekeke*</em> Rp. 5rb/orang *cring*. Rombongan ojekers berangkat, beberapa ojek lampunya tidak ada.. Lah?? nanti kalau nyungsep di pasir dan semak- semak gimana pak!! Well, adalah korban bernama Dodi Mulyana yang ternyata ojeknya mogok alias busi motor mampus ketika awal- awal meninggalkan pantai Pangumbahan. Sialnya lagi, ojek dia dibelakang sendiri dan hilang kontak. Sepertinya Dodi dan ojeknya nyangkut di semak- semak, hahaha. Ketika kami ber 8 sudah sampai penginapan, baru dapat sms dari dodi kalau ketinggalan, akhirnya bantuan dikirimkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>19.00 Makan Malam Yang Lama</strong></p>
<p style="text-align: justify;">KELAPARAN, karena siangnya kami hanya makan bakso. Berhubung mengejar waktu untuk melihat penyu bertelur, kewajiban mandi kami skip dan langsung nyari makan dengan jalan kaki 1 kilometer di sebuah rumah makan, kalau gak salah namanya Bahari. Tepat di depan rumah makan ini, berjejer- jejer warung remang- remang lengkap dengan a<span style="text-decoration: line-through;">nuan</span> dan  disko- diskoannya. Walaaaaah&#8230; pantes, lha disono anginnya kuenceeng, <em>*seeer*</em>. Sambil menunggu makanan yang dipesan, kami sharing soal resolusi 2010. Gak jauh- jauh, resolusinya ya cinta, kerjaan, masa depan, jodoh dll. Tak terasa setengah jam sharing resolusi selesai, makanan belum datang. Setelah ditanya, sepertinya belum dimasak. Haah!!. Akhirnya kami siasati dengan menu yang sama, yaitu nasi goreng semua deh tanpa seafood-seafoodan. Setelah nunggu 1,5 jam akhirnya  nasi goreng datang. Dengan muka manyun kami mencoba mencicipi dan ternyata rasanya anyep kurang garam kurang bumbu. Nunggu 1,5 jam tidak sebanding dengan kualitasnya bok!!!. Okey, kami segera nyelonong pergi dengan bayar Rp. 19rb + teh manisnya *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>21.00 Penyu- Penyu itu Bertelur di Pantai Pangumbahan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Para tukang ojek sudah kami suruh menunggu di depan rumah makan, berangkaaaat&#8230; Eits, ojeknya bayar lagi sebesar Rp.35rb *cring*PP.  Setelah 20 menit perjalanan melewati semak- semak dan berpasir tibalah di pintu masuk pantai Pangumbahan. Dan ternyata.. rame banget bok, liburan tahun baru memang banyak dimanfaatkan para pelancong untuk melihat penyu bertelur. Tidak lupa bayar tiket masuk ke petugas, Rp. 5rb/orang *cring*. Ternyata penyu- penyu itu bertelur jam 11 malam pemirsa, jadi kami nunggu sekitar 1,5 jam. Mati gaya? tidak juga. Sedangkan para pengunjung lain yang bengong alias melamun karena  antri menunggu giliran, kami malah ketawa-ketiwi asyik sendiri. Duduk melingkar, menseting slow speed pada kamera dan menyalakan handphone sehingga terlihat silau di kamera, membuat suatu tulisan, bangun dan lain2. Serentak para anak- anak kecil itu mengerumuni kami yang asyik duduk melingkar bermain slow speed kamera, bahkan ada bapak2 dan ibu2 yang pengen tau apa yang kami asyikkan, bwahaha makanya join tim kami donk pak!!!.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/penyu-bertelur.jpg"><img class="size-full wp-image-1252 aligncenter" title="penyu-bertelur" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/penyu-bertelur.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Jenis penyu hijau ini panjang 1,5 meter dengan berat 250 kg bisa bertelur hingga 100-200 butir.</em> <em>Bermain lampu handphone dan membuat tulisan u.genteng dengan menset slow speed kamera adalah salah satu cara anti mati gaya, sembari menunggu 1,5 jam penyu bertelur</em></p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya jam 11 kami medapat giliran masuk, dengan tiket sip 1 ( padahal maksudnya shift, sunda mode on).  Pantai pangumbahan ternyata terang, lha wong ada bulan di langit. Sial, ternyata penyunya gak mau bertelur di dekat- dekat pintu masuk, malah bertelur di ujung jauh. Jadinya jalan kaki 2 km, hufff. Berhubung ramai, kami gak bisa narsis- narsis di depan penyu bertelur, tapi gak papa lah. Melihat penyu bertelur sangat berkesan.</p>
<h2 style="text-align: justify;">Day III</h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>01.00 Balik ke Penginapan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di penginapan, gak ada yang mandi karena sudah malam. Kamar mandi cuman satu, males ngantri mending tidur, ngantuk <em>*alesyan*</em>. Paginya bangun jam 6 dan ternyata hujan deras, tidur lagi sampai jam 7.  Berhubung jam 12 harus check out, kami harus pintar- pintar memafaatkan waktu, karena berencana ke pantai Ombak Tujuh yang katanya fenomenal itu. Okey, saya langsung telp tukang ojek dan nego harga ojek menuju kesana. Awalnya si pimpinan ojeknya gak berani ngantar naik ojek, karena jalannya sulit, apalagi habis hujan. Ditawarin naik perahu saja menuju Ombak Tujuh, berhubung cuaca buruk dan ada yang gak bisa renang, kami tetep ngeyel naik ojek. Okey, tawar- menawar sudah deal, sepakat menuju pantai Ombak Tujuh dengan harga Rp.130rb *cring*. Yang lain pada sarapan nasi uduk, tapi saya masih kenyang jadi gak sarapan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>09.00 Empat Jam Offroad Menuju Pantai Ombak Tujuh</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bismillah, perjalanan nekat ini dimulai! Start jam 9 dengan 9 ojek. Nomalnya perjalanan memakan waktu 1,5 jam, nyatanya? lihat saja ntar. Trip pertama kami melewati jalanan bermakadam (belum diaspal, masih batu-batu) yang cukup membuat perut mual. Kemudian dilanjut melewati kebun kelapa, licin sekali. Motor yang saya tumpangi kepleset 3 kali. Lumpur menempel semua di roda, ngepot, selip. Mang ojek yang mbonceng saya sialnya sudah agak tua, kasihan juga jatuh melulu. Ojek terus berjalan perlahan, disanggah dengan 2 kaki biar tidak jatuh, sesekali saya harus turun untuk mendorong motor yang selip. Tak ketinggalan bokong geser kanan-kiri depan-belakang. Apa iya bisa sampai tujuan kalau kondisi jalan seperti ini ?, khawatir dalam hati. Ahsudahlah, ojek kembali digeber melewati semak belukar, padang ilalang, kuburan dan genangan- genangan air. Sesekali saya bertanya ke mang ojeknya, &#8220;pak, masih jauh kah?&#8221; dan dijawab &#8221; masih seperempat nih.. tenang aja, nanti ada jalan lebih susah lagi juga belum lewat 2 sungai&#8221;, haah!!!! seperempat? masih ada yang lebih susah? ampuuun. Iya kalau motor yang kita tumpangi motor cross yang dikhususkan buat jalur offroad, lha ini motor bebek, sekali lagi bebek offroad!!. Tiba di sungai yang pertama, semua turun motor dituntun, kami saling berpegangan menyeberang sungai. Saya pikir teman- teman pada kecewa akan tripnya, eh justru mereka malah senang dan merasa tertantang. Tak diduga motor Dayat ban-nya bocor dan lepas hahaha. Untung para ojekers sudah mempesiapkan peralatan tambal ban lengkap dengan pompanya yang dibawa dari Ujung Genteng.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/jalan-menuju-pantai-ombak-tujuh.jpg"><img class="size-full wp-image-1268 aligncenter" title="jalan-menuju-pantai-ombak-tujuh" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/jalan-menuju-pantai-ombak-tujuh.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Medan yang sulit, becek dan berlumpur juga melewati semak- semak, hutan, 2 sungai, kuburan, sawah dan perkebunan kelapa mewarnai serunya aksi extream menuju pantai Ombak Tujuh</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika menerobos hutan, suasana hening, rada gelap, dingin, gerimis turun. Lagi- lagi saya bertanya ke mang ojek, &#8221; bagaimana pak? masih jauh?&#8221; dijawab &#8221; masih setengah dek&#8221;. Mampus dah!!! Sudah jam 11 siang, dan harus check out jam 12 siang. Gak peduli, sudah setengah jalan kami tidak menyerah. Melanjutkan perjalanan melewati rumput- rumput ilalang, kaki beset semua. Tiba di penghujung jalan, terdengar debiran ombak. Seketika saya berteriak, &#8221; pak, apa itu pantai? itu pantai kah?&#8221; ternyata benar, kurang 1 Km lagi sampai.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>13.00 Tiba di Pantai Ombak Tujuh, Surganya Peselancar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh perjuangan menuju pantai Ombak Tujuh yang katanya ombaknya tergulung sampai tujuh baris itu terbayar LUNAS. Tak usah banyak cakap, langsung saya pameri foto- fotonya :</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/the-ombak-tujuh-beach.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1280" title="the-ombak-tujuh-beach" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/the-ombak-tujuh-beach.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Meski tidak bergulung- gulung sampai tujuh kali, tapi ombak di pantai ini tergolong besar hingga 4 meter. Turis luar negeri biasanya ke pantai Ombak Tujuh memang tujuannya berselencar di ombak yang menurut tukul, BOMBASTIS!!<br />
</em></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/pantai-ombak-tujuh.jpg"><img class="size-full wp-image-1278 aligncenter" title="pantai-ombak-tujuh" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/pantai-ombak-tujuh.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Dresscode putih, sun glass, selendang pantai dan topi sudah kami siapkan untuk mempersembahkan keindahan pantai Ombak Tujuh.</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>14.30 Pengamalan extream, Rafting di Samudera Hindia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pulang dari pantai Ombak Tujuh kami kapok naik ojek dengan bebek offroadnya dan waktu tidak memungkinkan. Akhirnya disepakati pulang naik perahu motor, ya perahu motor nelayan bisa cuman 1,5 jam sampai Ujung Genteng. Untung ada signal, jadi pimpinan ojeknya nat nit nut sms para nelayan di Ujung Genteng. Perahunya sangat kecil, pas untuk kami bersembilan plus 2 orang nelayannya. Ketika kapal berangkat, apa yang terjadi ???? busyeeeet, ternyata melawan Ombak Tujuh yang 4 meter itu! saya yang duduk di depan sendiri terdiam, berpegangan erat- erat di kapal, ombaknya benar- benar gede dan kenceng. Perahu miring kanan- miring kiri bahkan nge jump ke depan. &#8220;Ya Alloh, saya belum nikah belum apa&#8221;, doa dalam hati diiringi ayat kursi.  Saya mencoba memejamkan mata ketakutan, sesekali mencoba membuka mata eh ombah datang gede dari arah kanan, mak byuuuur&#8230; Baju basah semua, hp juga basah. 1,5 jam terombang- ambing ombak di samudera hindia ini terasa lama sekali, bahkan seperti 1 abad. Masih mending rafting di sungai kalau jatuh masih dangkal, lha ini?? rafting ala samudera hindia tak terlupakan seumur hidup.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>16.00 Tiba di Penginapan Adi, Check Out, Kelaparan<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika perahu berlabuh di pantai Ujung Genteng tepat di depan penginapan hanya 1 kata yang terucap, &#8220;Alhamdulillah&#8221; kami semua selamat. Pantai Ujung Genteng sendiri tidak terlalu bagus, kami hanya menyempatkan foto sekali dua kali dan langsung nyelonong packing. Langsung telp mang Udui selaku sopir angkot yang sudah kami kenal untuk antar ke Surade seharga 7rb/orang *cring*. Setelah check out angkot langsung berangkat dan ternyata seluruh angkutan umum dari Surade yang ke Sukabumi paling terakhir jam 17.30, angkot pun ngebuuut. Kami semua belum sempat mandi dari pagi, belum sempat makan siang bahkan saya belum makan dari pagi, sampai2 masuk angin. Bersyukur masih ada ELF pemberangkatan terakhir seharga 22rb*cring*. Berencana mencari warung makan tapi tidak bisa, ELF sudah mau berangkat. Ketika sudah di dalam ELF saya memohon ke mang kernetnya untuk diturunin sebentar beli makan dan dibungkus. Akhirnya hampir maghrib kami diturunkan di sebuah warung nasi. Sambil berlari ada pisang langsung di telen saking laparnya. Pop mie langsung disedu air, dan beli nasi + ayam Rp. 9rb *cring* semuanya dibungkus dan dimakan di mobil karena gak enak ama penumpang lainnya. Hahaha, kerasa bener backpacker gelandangannya. Oh iya, penderitaan belum berakhir. Sialnya tempat duduk saya tidak ada sandarannya, jadi 4 jam naik ELF punggung serasa bengkong!!!</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>20.00 Tiba Di Sukabumi,  Kehabisan Bus, Box Obat- Obatan Tertinggal</strong></p>
<p style="text-align: justify;">ELF berhenti di terminal Lembur situ dan dilanjut angkot kuning lagi menuju terminal Sukabumi seharga 5rb*cring*. Tiba di terminal Sukabumi, eh ternyata bus ke jakarta sudah habis. Akhirnya kami istirahat sebentar mencari toilet sambil berpeta mulus alias tanya2. Kami beruntung, masih ada angkutan mirip ELF dengan tujuan CIAWI. Okey, langsung naik saja seharga Rp. 15rb *cring* dan ternyata setelah angkot berangkat baru sadar kalau box obat- obatan saya tertinggal di terminal Sukabumi, apes&#8230; apes. Setelah 3 jam perjalanan, tiba di Ciawi. Entah kenapa kami beruntung lagi, ada orang nawarin naik avanza dia diantar ke Depok sampai Bekasi seharga 15rb *cring* murah sekaliii. Tiba di terminal Depok langsung di jemput ayahnya Kiki naik mobil bahkan saya diantar sampai kos- kosan (Mampang), terimakasih banyaaaak. Tiba di kos jam 1 malam dan langsung pingsan&#8230;&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Informasi dan saran ini jangan dilewatkan :</strong></p>
<pre style="text-align: justify;">- Perhitungan waktu :
  * Jakarta- Sukabumi 3 jam,Sukabumi- Surade 4 jam
  * Surade- Ujung Genteng 45 menit, Ujung Genteng- Ombak Tujuh 1,5 Jam (normal)
- <strong>Untuk laporan biaya, saya buatkan halaman khusus yang bisa <a href="http://docs.google.com/View?id=ddbvjjbm_20hnmqwmf3">dibuka disini</a></strong>
- Lebih baik naik bus MGI dari Depok yang langsung ke Surade, jadi tidak
  nyambung menyambung seperti kami via Sukabumi
- Hindari musim hujan, kalau tidak mau mengalami pengalaman extream diatas
- Barang bawaan yang wajib dibawa : Jas hujan, makanan mengenyangkan,
  Pakaian secukupnya, perlengkapan sholat, perlengkapan mandi, obat- obatan
  pribadi, uang sebanyaknya karena tidak ada ATM
- Contact Person :
  * Resort Amanda Ratu,         pak  <span><strong>Donny</strong></span><span> +62 85722111365
  * Penginapan Pondok Adi,      pak  <strong>Adi</strong>   +62 8101155
  * Kalau mau sewa angkot       mang <strong>Udui</strong>  +62 85863388306

- Berpandai- pandailah tawar menawar untuk segala sesuatu dengan bahasa sunda,
  entah angkutan, ojek, makan dll
- Jangan takut masuk Gua Sungging, pokoknya kita niat tidak macam- macam disana
  melainkan menikmati keindahan di dalamnya.
-

</span></pre>
<h3><span>SALAM BACKPACKER ! </span></h3>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lathifulamri.com/backpack-to-ujung-genteng/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Backpack ke Ujung Genteng Part 1</title>
		<link>http://lathifulamri.com/backpack-ke-ujung-genteng</link>
		<comments>http://lathifulamri.com/backpack-ke-ujung-genteng#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 01:16:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lathiful amri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[backpack]]></category>

		<category><![CDATA[amanda ratu]]></category>

		<category><![CDATA[curug cigangsa]]></category>

		<category><![CDATA[curug cikaso]]></category>

		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<category><![CDATA[gua sungging]]></category>

		<category><![CDATA[tanah lot amanda ratu]]></category>

		<category><![CDATA[ujung genteng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lathifulamri.com/?p=1174</guid>
		<description><![CDATA[Ujung Genteng, 1- 3 Januari 2010 sebuah backpacking yang meninggalkan banyak cerita dan pengalaman untuk di share di blog ini. Selain sebagai nirwana pantai selatan, daearah yang ada di Kabupaten Sukabumi bagian selatan ini  tak ubahnya seperti surga traveller yang ditunjang dengan spot- spot wisata lain yang ada di sekitarnya.

Jalan- jalan bareng Amri kali ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ujung Genteng, 1- 3 Januari 2010 sebuah backpacking yang meninggalkan banyak cerita dan pengalaman untuk di share di blog ini. Selain sebagai nirwana pantai selatan, daearah yang ada di Kabupaten Sukabumi bagian selatan ini  tak ubahnya seperti surga traveller yang ditunjang dengan spot- spot wisata lain yang ada di sekitarnya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/introducing-backpackers-team.jpg"><img class="size-full wp-image-1178 aligncenter" title="introducing-backpackers-team" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/introducing-backpackers-team.jpg" alt="" width="490" height="350" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Jalan- jalan bareng Amri kali ini diikuti 9 orang dari berbagai kalangan diantaranya  dari pojok kiri bawah ke kanan : Novi Muharrami sang wartawan Okezone, Ratu Sya dari blogger Bekasi, Lalas Sulastri sang penikmat backpacking, Kiki Kartini Phsikolog dari UI, Reza N Sanusi (icha) sohib kongkow, Aga Wahyu sohib kongkow, Hidayat Abdullah dari Indobackpacker, Dodi Mulyana sang ketua blogger Depok dan saya sendiri sang <span style="text-decoration: line-through;">penggoda wanita</span>&#8230; tsaaah!!!</p>
<h3><strong>DAY I, 1 Januari 2010</strong></h3>
<p style="text-align: justify;"><strong>08.00 Meeting Point Pertama di Depan Giant Mampang Prapatan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mata sepet akibat shift malam, tak menyurutkan semangat saya berangkat ke Ujung Genteng. Jam 8 pagi ketemu Kiki di depan Giant Mampang kemudian jalan kaki menuju perempatan fly over Kuningan untuk cegat bus P6. Keluarlah biaya pertama untuk bus tersebut Rp.3000 *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> 09.00 Meeting Point Kedua di Depan Alfamart Jalan Baru, Kampung Rambutan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Awal kekompakan tim backpacker yang bagus, seluruh peserta datang tepat waktu jam 9 pas tidak ada yang telat satupun. Sebelum berangkat, saya sempatkan untuk membreafing dan memimpin doa supaya selamat sampai tujuan, sesuai jadwal dan itinerary juga semoga budget tidak membengkak, Amiiin. Setelah berdoa, bus patas tujuan Sukabumi yang kami cegat selama setengah jam tidak kunjung lewat. Yang lewat hanyalah bus ekonomi, itupun penumpangnya penuh dan berdiri.Kami memutuskan naik angkot menuju terminal Kampung Rambutan untuk mencari bus yang masih kosong dengan tarif angkot Rp.2000 *cring*. Masuk terminal ditodong para penjaga terminal untuk dikenai retribusi Rp.500 *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> 10.30 Menuju Sukabumi, Kesialan<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berhubung waktu sudah semakin siang,dan bus patas/AC gak kunjung ada,terpaksa kami memilih bus ekonomi. Untung di Terminal Kampung Rambutan bus masih kosong, jadi kami dapat tempat duduk. &#8220;mak jreb&#8230;&#8221;, hati yang kaget ketika melihat bus tak bermerek ini pintunya mau copot dan diikat tali tambang kedalam badan bus! Fyuuuuh.. Kaca depan bus retak- retak, bahkan kaca samping di tempat duduk saya yang terbuka itu tidak bisa ditutup! Penderitaan di dalam bus bertarif Rp.16.000 *cring* ini semakin lengkap dengan semakin banyaknya penumpang yang dipaksakan naik. Full, panas, sesak dan bau keringat dimana- mana. Berhubung saya duduk di depan sendiri, maka dihadapan saya ada sedikit ruang untuk berdiri penumpang.. Ya, betul selama 2 jam hanya melototi pantat- pantat orang yang berdiri di depan saya, sekali lagi, pantat!!!. Sopirnya sudah tua, ugal- ugalan pula. Sesekali bus berhenti di pom bensin dan ternyata&#8230;. wahai pemirsa sekalian.. ternyata mesin depan bus panas dan harus disiram air 2 ember *paraah!!.. saya dan novi ngikik sembari tepok jidat*.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/public-transportation.jpg"><img class="size-full wp-image-1180 aligncenter" title="public-transportation" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/public-transportation.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> 14.30 Tiba di Terminal Sukabumi, Makan Siang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setibanya di terminal Sukabumi, kami jalan kaki 100 meter meninggalkan terminal dan mendapatkan warung makan ajib dan enyaaak, beli sate ayam Rp.9000 *cring* ditambah jus alpukat seharga Rp.5000 *cring*. Berdasarkan informasi peta mulut (alias tanya2) kami diharuskan naik angkot warna kuning seharga  Rp.5rb *cring* menuju terminal Lembur Situ supaya bisa menuju Surade.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><br />
15.30 Sensasi Naik ELF</strong></p>
<p style="text-align: justify;">ELF, merupakan kendaraan khas daerah Sukabumi semacam angkot tapi duduk menghadap depan. Setiba di terminal Lembur Situ kami langsung disambut calo bak selebritis, diwawancarai ini- itu &#8220;Mau kemana ? Surade? Ujung Genteng? Sini- sini.. ayo naek&#8221;. Kami sempat berantem dengan salah satu calo ELF tersebut, karena ELF yang sudah penuh tinggal 4 orang lagi, kok dipaksain untuk kami yang bersembilan, cih.. dikira kasur bisa dilipet- lipet! Akhirnya kami memilih ELF yang janggol di belakangnya seharga Rp. 27.000  *cring* melewati Surade, bahkan diturunkan langsung di depan resort Amanda Ratu. Di terminal ini saya juga beli rambutan seharga Rp.9rb *cring*. Luaaaar biasa, sepanjang perjalanan sopirnya ugal- ugalan, melewati jalan sempit, naik gunung turun gunung dan berkelok kelok. Saking kencengnya, sesekali bokong bergeser ke kanan dan kiri, badan tergoncang ke atas seperti naik kuda lengkap dengan kepala kejedot di pegangan mobil. Wahana extream DUFAN ? kalaaah.. lebih extream naik ELF ini, pantes di samping mobil tergantung plastik yang disediakan untuk <span style="text-decoration: line-through;">muntah</span>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>20.00  Bermalam di penginapan/ Resort Amanda Ratu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Resort paling bagus dan dibangun di areal perkebunan kelapa ini tempat bermalam kami. Yang namanya backpacker ya tetep backpacker, meski nginap di resort mahal ya tetep disiasati supaya murah. Hahaha, kami menyewa 1 malam dengan villa <a href="http://amandaratu.com/">tipye penyu</a> seharga Rp. 500rb *cring*  dengan 1 kamar tidur, 1 ruang tamu, 1 kamar mandi shower, AC, dan TV kecil. 1 kamar di share bersembilan donk biar murah, untung spring bed dari kasur tersebut double dua, jadi bisa buat tidur <span style="text-decoration: line-through;">rame- rame</span>.Yang lain pada antri mandi, malamnya saya dan dodi berenang di kolam renangnya yang bagus itu. Kemudian jam 21.00 makan malam di restorannya dengan menu nasi goreng ati Rp. 12rb *cring* dan lemon tea Rp. 7rb *cring* itu belum termasuk pajak service 25%.. Semuanya langsung tercengang melihat service tax semahal hotel berbintang 5 itu, ya <span style="text-decoration: line-through;">lupakan sajalah</span>! Jam 11 kami segera tidur dan mengumpulkan tenaga untuk esok hari.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/amanda-ratu-resort.jpg"><img class="size-full wp-image-1188 aligncenter" title="amanda-ratu-resort" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/amanda-ratu-resort.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Saat pagi hari di resort Amanda ratu, kita bisa melihat pemanjat pohon kelapa untuk diambil airnya yang akan di jadikan gula kelapa dan nira. Fasilitas yang disediakan di resort Amanda Ratu diantaranya restaurant, convention hall, karaoke, kolam renang, heli pad dan masjid.</em></p>
<p style="text-align: center;">
<h3><strong><strong>DAY II, 2 Januari 2010</strong></strong></h3>
<p style="text-align: left;"><strong>05.30 Berburu Sunrise di Tanah Lot Amanda Ratu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di Amanda Ratu terdapat pulau kecil (pulau Karang) yang mirip Tanah Lot di Bali, yang merupakan ujung dari muara sungai Cikarang.Ya ya ya, meski gak sebagus tanah lot di Bali, setidaknya ketika sunrisenya lumayan bagus :</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/sunrise-amanda-ratu.jpg"><img class="size-full wp-image-1192 aligncenter" title="sunrise-amanda-ratu" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/sunrise-amanda-ratu.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><strong>08.00 Check Out, Menuju Curug Cikaso</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah check out, kami berjalan kaki keluar Amanda Ratu menuju jalan raya yang menghubungkan Ujung Genteng- Amanda Ratu- Surade. Disinilah kami ditakdirkan ketemu dengan sopir angkot yang baik hati bernama mang Udui. Setelah tawar- menawar akhirnya kami sepakat sewa angkot dari pagi sampai sore sesuai rencana trip kami seharian yaitu dari Amanda Ratu- Curug Cikaso- Curug Cigangsa- Goa Sungging- Ujung Genteng seharga Rp.300rb *cring* 1 angkot, kekekeke  murah sekali!!! Angkot kami berangkat diselimuti semangat para penumpangnya yang saling bercanda di dalamnya. Dari Amanda Ratu menuju Surade kemudian belok di pertigaan yang menuju curug Cikaso selama 1,5 Jam. Sebelum masuk curug Cikaso, diwajibkan naik kapal menyeberang sungai selama 5 menit seharga Rp. 6rb/ orang *cring* plus tiket masuk seharga Rp. 2rb/ orang *cring*. Sebenarnya bisa tanpa naik kapal dengan menyusuri tepi sungai melewati pematang sawah, tapi berhubung kami suka yang <span style="text-decoration: line-through;">formal-fomal</span>&#8230; ya naik perahu deh.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/curug-cikaso.jpg"><img class="size-full wp-image-1197 aligncenter" title="curug-cikaso" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/curug-cikaso.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em>Bak Lukisan, Curug Cikaso memang luar biasa. Kombinasi dari hijaunya lumut, putihnya air dan birunya langit membuat curug yang berjejer 3 ini mempesona.</em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>11.00 Menuju Curug Cigangsa</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Belum sarapan pagi maupun makan siang, perjalanan dilanjutkan. Berbagai makanan ringan ternyata masih bisa mengganjal perut yang kosong. Angkot mang Udui segera di starter menuju Curug Cigangsa. Perjalanan Cikaso- Cigangsa sekitar 1 jam melewati jalan makadam berbatu dan berlobang yang merupakan proyek pemerintah yang tak kunjung selesai. Tiba di Cigangsa, angkot dititipkan salah satu rumah penduduk. Dan kami diantar ke curug Cigangsa oleh penduduk sekitar ( semacam guide ) dengan uang tip Rp.25rb *cring* karena saat musim hujan air sungai yang kami seberangi cukup deras, jadi perlu guide. Beberapa orang dari tim kami sempat kepleset, bahkan sandal Novi hanyut disungai terjun bersama air, hahaha justru inilah serunya.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/curug-cigangsa.jpg"><img class="size-full wp-image-1203 aligncenter" title="curug-cigangsa" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/curug-cigangsa.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><em> Curug dengan tinggi sekitar 20 meter ini airnya deras,  licin, dihiasi bebatuan sebagai landasan air mengalir. </em></p>
<p style="text-align: left;"><strong>12.30 Makan Siang </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Puas dengan curug Cigangsa, perjalanan di lanjutkan. Kami berhenti di alfamart surade untuk beli berbagai makanan ringan. DIlanjut makan siang bakso dan teh botol seharga Rp.12rb *cring*. Setelah kenyang, langsung berangkat ke gua Sungging memakan waktu 45 menit dari Surade.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>13.30 Mistis di Gua Gunung Sungging</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Gua Sungging, gua yang katanya ada di gunung Sungging ini ternyata tidak terlalu gunung- gunung amat, wong letaknya aja di sawah- sawah. Angkot di parkir di sekitar rumah penduduk. Oleh mang Udui kami diketemukan dengan juru kunci Gua Sungging kalau gak salah namanya engkong Entab yang turun temurun telah mejaga gua. Busyet marusyeeet, pintu gua tersebut cuman berukuran 1&#215;1 meter dan bisa dikunci pula, seperti almari saja. Bersama 1 buah lampu petromax, rombongan kami menerobos gelapnya gua. Di dalam goa ternyata luas, licin, sedikit kerikil, becek dan berlorong- lorong. Tiba di pemberhentian pertama di lorong gua, pak Entab menunjukkan sebuah patung 2 harimau yang saling berpelukan. Adalah Kiki satu- satunya rombongan kami yang saat di goa Sungging memiliki kepekaan mengenai hal- hal gaib. Ya betul, saat pemberhentian pertama di patung 2 harimau, mendadak kiri berteriak histeris &#8221; mbak.. mbak ada mayat mbak ada mayat&#8221; &#8230;. Hah??? rombongan kami langsung merinding, karena memang selain Kiki, kami memang tidak melihat apa- apa disekitar situ. Menurut Kiki, dia melihat bapak- bapak tidur telentang di bawah patung harimau, grrrr&#8230;Kami mencoba mengalihkan perhatian Kiki supaya tidak panik dan terus melangkah menuju lorong- lorong gua yang lain. Sesekali setiap melewati belokan atau sebuah ruangan di dalam gua, pak Entab membunyikan isyarat &#8221; Ehem, ehem&#8221;.. Astaga, ini ternyata isyarat pak Entab untuk izin kepada <span style="text-decoration: line-through;">sesuatu</span> bahwa rombongan kami lewat, errrr.  Tiba disebuah batu gede mirip lidah kami berfoto- foto :</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/gua-sungging.jpg"><img class="size-full wp-image-1225 aligncenter" title="gua-sungging" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2010/01/gua-sungging.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-family: Trebuchet MS;"><span style="font-size: 10pt;"><em>Ornamen stalaktit dan stalakmit menghiasi Gua Sungging, semakin masuk ke dalam gua udara semakin pengap, keringatpun bercucuran. Gua ini masih asli dan alami, belum ada perubahan/ renovasi dari tangan manusia.</em></span></span></p>
<p style="text-align: justify;">Lampu petromax terus digiring, beberapa teman kami kepalanya kejedot atap gua yang rendah, bahkan si Aga kepleset.. Sepanjang perjalan ternyata Kiki masih dibayang- bayangi penampakan, entah yang berwujud manusia seperti orang- orangan sawah tinggi gede maupun anak kecil mirip tuyul.. Astajiiiim *<em>dilangsir cerita Kiki ketika sudah keluar gua*</em>. Sebenarnya Kiki masih bertahan dan ngotot masih bisa melanjutkan perjalanan padahal dengan kondisi ketakutan dan muka ditutupin topi, tapi kami memutuskan berhenti dan keluar gua melihat kondisi Kiki yang tidak memungkinkan. Akhirnya belum 1/4 dari total trip menelusuri Gua Sungging kami keluar gua dengan prinsip apabila salah satu diantara kami ada yang tidak memungkinkan, jangan dipaksakan dan harus segera keluar demi keselamatan bersama. Ya, inilah terasa kebersamaan kami.. <em>*tsaaah*</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika sudah keluar dari gua, kami berbincang- bincang dengan pak Entab selaku juru kunci sekaligus curhat tentang kejadian- kejadian di dalam gua. Nasehat dari pak  Entab gak usah takut, memang tidak semua orang bisa melihat hal- hal gaib dst&#8230;Okey, kami berpamitan ke pak Entap tanpa ketinggalan uang tips + petromax yang sudah disepakati sebelumnya sebesar Rp.130rb *cring*.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: justify;">Well well, berhubung tulisan diatas sudah terlalu panjang, maka saya bagi kedalam 2 part. Tapi tenang, di postingan yang kedua nanti makin banyak cerita seru, anda akan merasakan  dan mengikuti bagaimana menjadi saksi hidup  pelepasan tukik, mengikuti proses penyu bertelur, perjuangan menuju pantai Ombak Tujuh sampai rafting di samudera hindia dan tak ketinggalan informasi, saran lengkap dengan perhitungan biayanya. Silahkan dibuka :</p>
<h2 class="post-title"><a href="http://lathifulamri.com/backpack-to-ujung-genteng"><blink><span style="cursor: pointer;">Backpack ke Ujung Genteng Part 2</span></blink></a></h2>
<p style="text-align: center;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lathifulamri.com/backpack-ke-ujung-genteng/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Backpack ke Curug Cilember dan Kebun Teh</title>
		<link>http://lathifulamri.com/backpack-ke-curug-cilember-dan-kebun-teh</link>
		<comments>http://lathifulamri.com/backpack-ke-curug-cilember-dan-kebun-teh#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Dec 2009 00:36:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lathiful amri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[backpack]]></category>

		<category><![CDATA[Curug Cilember]]></category>

		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<category><![CDATA[kebun teh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lathifulamri.com/?p=996</guid>
		<description><![CDATA[Tepat di hari ulang tahun saya, 12 Desember 2009 menjadi acara backpacking khusus bahkan plus -plus. Objek yang dipilih kali ini yaitu mengunjungi Curug Cilember , naik kuda di kebun teh Gunung Mas, dilanjut juga ke masjid Atta&#8217;awun Puncak. Keseluruhan tempat ada di kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Well well well, seperti biasa.. Saya perkenalkan dulu rekan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tepat di hari ulang tahun saya, 12 Desember 2009 menjadi acara backpacking khusus bahkan plus -plus. Objek yang dipilih kali ini yaitu mengunjungi Curug Cilember , naik kuda di kebun teh Gunung Mas, dilanjut juga ke masjid Atta&#8217;awun Puncak. Keseluruhan tempat ada di kabupaten Bogor, Jawa Barat.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Well well well, seperti biasa.. Saya perkenalkan dulu rekan yang ikut di jalan- jalan bareng Amri kali ini. Diantaranya  Esti Sari teman dari telkom, <a href="http://www.cipuceb.blogspot.com/">Cipu Suaib Wittoeng</a> sang blogger traveller, <a href="http://dhodie.com">Dodi Mulyana</a> sang ketua blogger Depok, , <a href="http://aciteritory.co.cc/">A</a><a href="http://aciteritory.co.cc/">stri Diniyati</a> sang photografer handal, dan saya sendiri sang <span style="text-decoration: line-through;">perayu wanita</span>, jiyahaha.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/start-horse.jpg"><img class="size-full wp-image-1021 aligncenter" title="start-horse" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/start-horse.jpg" alt="" width="392" height="278" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">
<h3 style="text-align: justify;"><strong>Sabtu, 12 Desember 2009</strong></h3>
<p><strong>Jam 06.00 Meeting point pertama di depan Giant Mampang Prapatan<br />
</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu Jakarta cerah, saya dan Cipu janjian ketemu di depan Giant Mampang Prapatan. Sarapan bubur ayam Mampang sebelum berangkat, di sinilah keluar biaya pertama Rp. 6500 *cring*. Lalu berjalan kaki menuju perempatan flyover Kuningan untuk naik bis P6 Jurusan Grogol- Kampung Rambutan seharga Rp. 2rb *cring* dan berhenti di halte bus stasiun Cawang untuk bertemu Dodi dan Esti, yang mana mereka berdua berangkat dari Depok naik KRL. Then disambung naik bis 46 dari halte bus stasiun Cawang menuju daerah jalan baru di depan terminal Kampung Rambutan. Keluarlah duwit Rp. 2rb *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 8.30 Tiba di Jalan Baru, terminal Kampung Rambutan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Daripada lama nunggu bus- bus yang selalu ngetem di terminal Kampung Rambutan, kami memilih tempat meeting point selanjutnya di depan Alfamart Jalan Baru untuk cegat bus. Astri Diniyati atau kerap dipanggil achie sudah sejak pagi menunggu di Jalan Baru, kita pun cengir- cengir gegara telat. At least , jam 8.45 bus patas AC tujuan Cianjur via puncak yang kita tumpangi seharga Rp. 20 rb *cring* dengan tempat duduk 2-2 itu lumayan pewe dan nyaman.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 10.30 Masuk di area Mega Mendung</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saya sendiri kurang tau tepatnya harus turun dimana, intinya bilang dulu saja ke pak sopir  bus kalau mau ke Curung Cilember, nanti akan diturunkan di sekitar pintu masuk Mega Mendung. Setelah turun dari bis, gak usah kawatir, karena langsung disambut oleh ojek sepeda motor, dan mereka sudah tau kalau kita mau ke Cilember. Setelah proses tawar- menawar sengit, sepakat ngojek naik ke Curug Cilember seharga Rp. 15rb *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 10.45 Tiba di Curug Cilember</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kami berpikiran untuk beli nasi bungkus sederhana yang warungnya jualan di depan pintu masuk dengan rupiah 12rb *cring* dan dimakan saat naik ke Curug Cilember. Selain itu terkucur biaya lagi untuk tiket masuk seharga Rp. 10rb *cring*. Rasa penasaran terbayar LUNAS setelah memasuki kawasan Curung Cilember. Visualisasi pesona taman wisata Curug cilember yang dihiasi jajaran pohon pinus dan cemara yang menjulang tinggi sungguh luar biasa. Lalu, apa yang kami lakukan? gak usah ditanya, yang pasti langsung foto- foto :</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/curug-cilember-very-green.jpg"><img class="size-full wp-image-1032 aligncenter" title="curug-cilember-very-green" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/curug-cilember-very-green.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 11.00 Cibang- cibung dan makan siang di curug 7 dan curug 5</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Perlu diketahui, total curug yang ada di Cilember ada 7 tingkat. Tingkat paling bawah diberi nama curug 7, semakin  naik tingkat, kita juga harus mendaki untuk sampai di curug paling atas ( curug 1).  Tinggal naik sedikit kita sampai ke curug 7, juga langsung naik ke curug 5 ( curug 6 terlewatkan).  Curug 7-5 ini tergolong curug bawah, gampang untuk dituju buat anda yang gak kuat hiking, juga disekitar curug tersebut masih banyak warung- warung berjejeran jualan makanan. Dan ..tereng &#8230;tereng &#8230;.reng, tiba di curug langsung cibang- cibung serayu berjerit di dalam hati &#8221; emaaaak, anakmu main di kali lagi&#8221; bwahahaha..</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/curug-cilember-5-dan-7.jpg"><img class="size-full wp-image-1036 aligncenter" title="curug-cilember-5-dan-7" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/curug-cilember-5-dan-7.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 12.15 Mendaki ke Curug 2</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kenyang makan siang dengan nuansa alam, kami mencoba hiking menuju curug selanjutnya. Jalannya susah, sudah tidak ada orang lain yang mencoba naik selain kami berllima. selangkah demi selangkah mendaki melalui jalan setapak, berpegangan dengan akar, juga merunduk dan menerobos disela- sela pepohonan yang telah tumbang. Achie yang sedang tidak fit pun masih bertahan untuk memanjat, satu sama lain saling menyemangati. Kira- kira sudah 1,5 jam kita mendaki, belum juga ketemu yang namanya curug. Sesekali terdengar gemercik air pertanda sudah dekat, ternyata itu cuman fatamorgana. Juga tidak sedikit ditemui jalan setapak yang memiliki kemiringan hampir 70°.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/hiking-cilember.jpg"><img class="size-full wp-image-1043 aligncenter" title="hiking-cilember" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/hiking-cilember.jpg" alt="" width="290" height="337" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 15.15 Turun mencari curug terdekat ( curug 3 )</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Putus asa, bisa dikatakan begitu. Selain waktu sudah semakin sore, pun tim kami yang cewek nampaknya sudah sangat lelah dan gak kuat lagi. akhirnya di putuskan turun. Ketika turun kita menjumpai pertigaan yang satu mengarah kembali ke curug 5-7, yang jalan satunya jika ke kiri terdengar suara percikan air. Kami mencoba belok kiri menuju suara itu. Oh ternyata, kami menemukan sebuah curug. Awalnya kami tidak tau ini curug berapa, tapi setelah dikorek informasi ternyata curug yang ada bambu dan semak- semaknya ini adalah curug 3. Okey okey, saatnya mengeluarkan properti untuk foto- foto ( *mumpung gak ada orang, p<span style="text-decoration: line-through;">roperti payung</span> pun dikeluarkan tanpa rasa malu*).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/fotosessioncurug3.jpg"><img class="size-full wp-image-1046 aligncenter" title="fotosessioncurug3" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/fotosessioncurug3.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Paceeet, hati- hati banyak pacet kecil- kecil di sini. Curug 3 sampai dengan curug 1 memang sarangnya pacet, jadi harus serba hati- hati dan disarankan membawa korek api untuk membakar pacet tersebut ketika menghisap darah kita. ada yang ukuran kecil sekecil cacing, ada yang seukuran jempol tangan yang mana telah menggigit kaki achie, hahaha.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 16.30 ISOMA secepat mungkin</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Puas foto session di curug 3, kami langsung turun lagi ke curug 7 yang masih ada warung- warung. Di sini kami gunakan untuk bersih- bersih, sholat, juga beli bakso dan air mineral Rp. 15rb *cring*. Saat mandi, ternyata di pusar saya ada pacet yang masih nempel dan menggigit.. jiyahahaha, ngeri juga oi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 17.15 Naik ojek menuju kebun teh Gunung Mas</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah proses tawar menawar ala pasar induk, akhirnya jebol kesepakan naik ojek seharga Rp. 20rb per orang  *cring* menuju Gunung Mas. Jalanan menuju Gunung Mas/ Puncak macet cet&#8230; Untung kami memilih ojek daripada public transportation ( angkot ) jadi sedikit bisa lebih cepat menuju Gunung Mas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> Jam 17.35 Berkuda- kudaan di Kebun Teh</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Meski hampir petang, semangat terus digeber. TIba di wana wisata Gunung Mas yang memiliki hamparan kebun teh terbentang luas lengkap dengan  keperawanan alamnya. Masuk Gunung Mas seharga Rp. 4rb *cring. Hasrat tak bisa dibendung ketika melihat kuda yang memang disewakan kepada pengunjung untuk ditunggangi mengelilingi kebun teh. Naik kuda keliling kebun teh kena tarif Rp. 20rb *cring*.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/gunung-mas.jpg"><img class="size-full wp-image-1055 aligncenter" title="gunung-mas" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/12/gunung-mas.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 18.15 Nebeng mobil pic up menuju masjid Atta&#8217;awun</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Meninggalkan Gunung Mas dengan perasaan puas, kami melanjutkan perjalanan menuju masjid Atta&#8217;awun, Puncak. Petang itu jalanan macet, sistem buka tutup diterapkan di jalur puncak. Jadi hanya jalur turun kebawah yang boleh lewat. Berhubung gak ada angkot yang lewat,  mendadak terplesit sebuah mobil pic up di depan kami. Tanpa pikir panjang,kami langsung nebeng dan nylonong naek, hahahaha. Sepanjang perjalanan kita malah foto- foto di mobil pic up, ini merupakan backpacker yang berkesan bagi saya. Eiiits, meski nebeng, kena tarif Rp. 2rb *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 18.45 ISOMA di Sekitar Masjid Atta&#8217;awun</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di masjid Atta&#8217;awun kami langsung sholat dan gosok- gosok minyak kayu putih biar tidak masuk angin. Kemudian makan malam di depan masjid Attaawun makan jagung bakar, nasi goreng, minum bandrek dan lain- lain. Berhubung di sini dalam rangka ulang tahun, jadi saya yang nraktir dan tidak ada perhitungan cring- cring. Eh, temen- temen pada menyanyi selamat ulang tahun!! terimakasih semuanya&#8230;..</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 21.15 Balik Ke Jakarta</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kami naek bis bisnis AC tak bermerek dengan tujuan Cianjur - Kampung Rambutan dengan tarif Rp. 15rb *cring*. Jalur puncak masih macet, tiba di terminal Kampung Rambutan pukul 23.45. Turun dari  bis, kaki saya sulit digerakan, sakit dibagian lutut akibat salah posisi duduk saat naek pic up. Akhirnya saya paksakan naik angkot menuju perempatan pasar rebo seharga Rp.2rb *cring*, sedangkan dhodie, achie, esti tetap naek angkot tersebut menuju Depok. Berhubung kakli saya sakit, dan sangat riskan jika tengah malam naik bis kota, saya dan cipu memutuskan naik taxi menuju kuningan seharga Rp. 40rb berdua *cring*. Saya turun duluan di Mampang Prapatan dan langsung cegat ojek seharga Rp.10rrb* cring* menuju kos- kosan.  Tiba di kos jam 1 dini hari, badan pegel semua tapi puas dengan perjalanannya. Besok paginya saya berteriak- teriak karena kaki diurut.. hahahahaha</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Informasi dan saran ini jangan dilewatkan :</strong></p>
<pre style="text-align: justify;">- Kalau mau ke Cilember/Puncak, cegat bis nya di daerah Jalan Baru saja, biar gak
  Menunggu lama bis- bis yang ngetem.
- Jika fisik tidak kuat, mending bermain di curug 7 sampai 5 saja, karena untuk
  menuju curug yang lain, medan hikingnya lumayan sulit + bawalah giude
- Berhati- hatilah banyak pacet di curug 3 sampai curug 1.Digigit pacet? jangan
  langsung dicabut, tapi bakar dulu pacetnya dengan korek api
- Jika terlanjur digigit pacet dan keluar darah, segera tempelkan hansaplas
  atau abu rokok untuk menghambat darah yang terus keluar
- Laporan keuangan :
  * Sarapan bubur ayam                                     : Rp.  6.500
  * Bis P6 ( ke cawang) dan bis 46 menuju Kampung Rambutan : Rp.  4.000
  * Bis Patas AC jurusan Kampung Rambutan - Cianjur        : Rp. 20.000
  * Ojek dari Mega Mendung- Cilember                       : Rp. 15.000
  * Makan siang ( ayam goreng )                            : Rp. 12.000
  * Tiket masuk Cilember                                   : Rp. 10.000
  * Makan bakso dan minuman                                : Rp. 12.000
  * Ojek Cilember - Gunung Mas                             : Rp. 20.000
  * Tiket masuk Gunung Mas                                 : Rp.  4.000
  * Sewa naik kuda                                         : Rp. 20.000
  * Nebeng mobil pic up menuju attaawun                    : Rp.  2.000
  * Bis Jurusan Cianjur - Kampung Rambutan (dari Attaawun) : Rp. 15.000
  * Angkot Kampung Rambutan - Pasar Rebo                   : Rp.  2.000
  * Taxi dari Pasar Rebo - Mampang Prapatan                : Rp. 20.000
  * Ojek dari Mampang Prapatan - kos                       : Rp. 10.000
                 TOTAL                                     : <span style="text-decoration: line-through;">RP. 172.500

</span></pre>
<p>Terimakasih kepada semua rekan- rekan yang ikut kali ini, ada yang mau ikut backpack lagi bulan januari?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lathifulamri.com/backpack-ke-curug-cilember-dan-kebun-teh/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Snorkeling, Sunset, Sunrise dan Trekking di Pulau Tidung</title>
		<link>http://lathifulamri.com/snorkeling-sunset-sunrise-dan-trekking-di-pulau-tidung</link>
		<comments>http://lathifulamri.com/snorkeling-sunset-sunrise-dan-trekking-di-pulau-tidung#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 08:43:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lathiful amri</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Road the Trip]]></category>

		<category><![CDATA[Features]]></category>

		<category><![CDATA[kepulauan seribu]]></category>

		<category><![CDATA[pulau tidung]]></category>

		<category><![CDATA[snorkeling]]></category>

		<category><![CDATA[sunrise]]></category>

		<category><![CDATA[sunset]]></category>

		<category><![CDATA[trekking]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lathifulamri.com/?p=880</guid>
		<description><![CDATA[New Paradise, begitulah beberapa traveller menyebut pulau Tidung yang katanya sih bakal menjadi destinasi favorit atau island hoppers. Nah, setelah saya buktikan kesana tanggal 10-11 Oktober 2009 kemarin, ternyata memang betul pulau terbesar di kota madya Kepulauan Seribu ini bagus dan eksotis untuk dijadikan wisata andalan.

Well, jalan- jalan bareng Amri kali ini diikuti teman- teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">New Paradise, begitulah beberapa traveller menyebut pulau Tidung yang katanya sih bakal menjadi destinasi favorit atau island hoppers. Nah, setelah saya buktikan kesana tanggal 10-11 Oktober 2009 kemarin, ternyata memang betul pulau terbesar di kota madya Kepulauan Seribu ini bagus dan eksotis untuk dijadikan wisata andalan.</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;">Well, jalan- jalan bareng Amri kali ini diikuti teman- teman kantor only sebanyak 7 ekor,+ 1 ekor teman saya yaitu salah satu maestro blogger wisata, sebut saja <a href="http://jengjeng.matriphe.com/">Muhammad Zamroni</a> yang juga telah menyelesaikan postingannya di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html">sini</a>. Jadi jumlah rombongan kami sebanyak 8 ekor, terdiri dari 4 cowok dan 4 cewek.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa ngoceh panjang yang pasti mengurangi quota bandwidth, langsung saja saya jabarkan cerita perjalanannya lengkap dengan itinerary nya sebagai berikut :</p>
<h2 style="text-align: justify;">DAY I ( Sabtu, 10 Oktober 2009)</h2>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 06.00 Meeting Point di Gedung Cyber</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berhubung pesertanya teman- teman kantor, jadi meeting point saya buat di depan kantor yaitu di gedung Cyber Kuningan Barat. Kecuali si Zamroni yang langsung menyusul di pelabuhan Muara Angke. Dari gedung cyber menuju pelabuhan muara angke order 2 taxi untuk 7 orang, keluar uang pertama rp. 20.000 per orang *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 06.45 Tiba di Muara Angke</strong></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Pelabuhan apaan nih, baunya kok amis dan enek dimana- mana&#8221;, gerutuan dalam hati. Ya, buat anda yang belum pernah kesini, saya sarankan tutup hidung deh.. Entah yang salah warga sekitarnya atau pemerintahnya, intinya daerah ini benar- benar bau dan lautnya hitam penuh dengan sampah. Dari Muara Angke ke pulau Tidung menggunakan kapal motor dan memakan waktu 3 jam dengan biaya rp. 33.000 *cring*. Jam 07.15  tepat kapal berangkat dengan penumpang sekitar 25 orang. Untuk menghindari mati gaya, sepanjang perjalanan kami bermain kartu UNO dari jepang itu.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/penginapan2.jpg"><img class="size-full wp-image-925 aligncenter" title="penginapan" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/penginapan2.jpg" alt="" width="500" height="173" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 10.20 Tiba di Pulau Tidung</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pulaunya kecil memanjang dari ujung timur ke ujung barat, pulaunya sepi dan tenang, ada dermaganya, pantainya hijau, ada sekolah, puskesmas dll. Pulau Tidung sendiri didiami lebih dari 6000 penduduk.<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 11.00- 13.00 Tiba di Penginapan, Istirahat dan Makan Siang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penginapan Lima Bersaudara, begitulah pak Haji Abdul Hamid sang pemilik memberi nama. Penginapan satu- satunya yang ada di pulau Tidung ini ada 2 variasi kamar. Ada yang seharga rp. 200rb perkamar lengkap dengan 2 kasur, kulkas, kipas angin, ruang tamu dan kamar mandi dalam tapi dengan limitasi 6 orang perkamar. Pak Aji Mid ( nama popoler pak Abdul Hamid di pulau Tidung) juga menyewakan variasi berupa sewa rumah sederhana seharga rp. 300rb dengan 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, kipas angin, ruang tamu dan diperbolehkan untuk jumlah orang unlimited. Oke, berhubung kami ingin <span style="text-decoration: line-through;">berhemat</span>, kami menyewa yang 300rb-an *cring*. Selain itu, kami mempunyai kenalan orang sana bernama pak Wardi, yang menyediakan makan, sewa sepeda, perlengkapan snorkeling, barbeque, ikan dan <span style="text-decoration: line-through;">semuanya deh</span> <img src='http://lathifulamri.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Untuk makan sendiri rp. 15rb per porsi *cring*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 13.00 - 14.30 Bersepda keliling Pulau dan Menyeberangi Jembatan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sewa sepeda yang dulunya 10rb-an per hari, sekarang naik jadi 15rb per hari *cring*. Dan kami pun star biking dari penginapan melintasi perkampungan penduduk, puskemas Tidung, polsek Tidung, SMK dan berakhir di ujung jembatan yakni jembatan penghubung antara pulau Tidung besar dan pulau Tidung kecil. Lama sekali tak bersepeda santai, saya pun meendapatkan feel dalam bersepeda tersebut, apalagi pemandangan kanan kiri pohon kelapa dan pantainya yang masih hijau, top markotop deh. Tiba di ujung jembatan, eh ternyata jembatannya rusak  parah ( under construction) tidak bisa dilewati sepeda dan hanya bisa dilewati setapak demi setapak kaki. Ujung Jembatan yang masih perbaikan sekitar 50 meter kami namai &#8220;Shirotol Mustakim&#8221; karena memang sulit untuk melewatinya. 2 Cewek dari 8 rombongan kami gugur tidak berani menyeberang. Sebenarnya ada sampan kecil untuk menyeberangi jembatan yang rusak tersebut seharga 5rb rupiah, tapi cewek- ceweknya bandel tidak berani katanya.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/bersepeda.jpg"><img class="size-full wp-image-927 aligncenter" title="bersepeda" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/bersepeda.jpg" alt="" width="500" height="176" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Akhirnya  6 orang dari kami berhasil menyeberang jembatan, dan saatnya foto session. Waw, selain jembatannya yang mempunyai spot yang bagus, laut di bawah jembatan ini dangkal dan karang dan ikan- ikan kecil kelihatan dari atas jembatan. &#8220;its awesome&#8221;, hati yang memuji.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/tindung-foto-action.jpg"><img class="size-full wp-image-965 aligncenter" title="tindung-foto-action" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/tindung-foto-action.jpg" alt="" width="374" height="280" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/show-time.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-932" title="show-time" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/show-time.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 14.30 - 15.00 Trekking di pulau Tidung Kecil</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Wusssh&#8230; pulau Tidung kecil keren, sepi tidak berpenghuni tapi menakjubkan. Untuk menuju pantainya yang bagus di ujung timur, kita harus melakukan jalan trekking yang awalnya jalannya masih oke dengan kiri- kanan disertai pohon pete yang menggugurkan daunnya ( kalau di Jepang pohon sakura, kalau Tidung mah pohon pete bwahaha). Kemudian jalur trekking menyusuri jalan setapak dengan membelah semak- semak,ilalang dan rumput gajah.  Di tengah jalur trekking, kami menjumpai sebuah makam lengkap dengan musholla dan juru kuncennya yang agak serem. Makam tersebut adalah makam Panglima Hitam yang menurut cerita dia adalah penakhluk pembajak laut dari melayu kemudian singgah dan menetap di Tidung kecil. Hm.. Suasa mistis dan agak merinding saat di area makam ini, apalagi disambut kucing yang mempunyai taring panjang banget itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak mau berlama- lama dalam suasana mistis, kami melanjutkan jalur trekking yang kurang sedikit lagi. Dag dig dung hati sedikit berdebar ketika melihat gubuk disertai pohon cemara yang dilihat dari sudut pandang manapun memiliki spot yang romantis *tsaaah*.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 15.00 - 16.30 Cibang - Cibung di Pantai Pulau Tidung Kecil</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tepat di belakang pohon romantis yang saya ceritakan diatas, langsung terlentang pantai berpasir putih yang sangat indah. Peggi dan zamroni langsung nyelem saja, saya mah foto- foto saja. Puas foto- foto dan cibang- cibung di pantai tersebut, kami langsung ngebut untuk balik ke penginapan (pulau Tidung besar) dan mengejar suset yang ada di sebelah barat pulau.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/cibang-cibung-di-tidung.jpg"><img class="size-full wp-image-959 aligncenter" title="cibang-cibung-di-tidung" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/cibang-cibung-di-tidung.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 17.00- 18.00 Mengejar Sunset</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sepeda terus dikayuh, nafas ngos- ngosan demi mengejar sunset yang lokasinya jauh di ujung barat pulau dan jalannya susah pula. jam 17.30 tiba di bibir pantai ujung barat dan langsung menyambar kesempatan tersebut untuk jepret sana- jepret sini. Wonderfull sunset i say.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/sunset-di-tidung.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-961" title="sunset-di-tidung" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/sunset-di-tidung.jpg" alt="" width="500" height="271" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 18.00- 21.00 Balik ke Penginapan, Mandi, Makan malam, Bercandaan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Puas mengejar sunset, naik sepeda menuju penginapan. Oh suasana petang tapi belum gelap saat menuju penginapan sangat tenang, dengan kiri- kanan pohon kelapa. Yang saya dapatkan dalam trip ini benar- benar suasana damai dan tenang, hilang sudah penat urusan kerjaan. Tiba di penginapan mandi dan makan malam. Menu makan malamnya beda tipis alias sama dengan makan siang yakni tongkol dan tongkol lagi. At least, gak papa tapi enak juga karena murah lengkap dengan buah semangka dan minumnya. Setelah makan malam dilanjut sedikit senda gurau terutama ngomongin pak polisi yang ngajakin nginap di kapolsek yang sepi&#8230; wew..  sekitar jam 11 malam, kami bakar- bakar i(barbeque) ikan ekor kuning oi. kita sudah pesan ke pak Wardi untuk segala perlengkapannya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<h2 style="text-align: justify;">DAY II ( Minggu, 11 Oktober 2009)</h2>
<p><strong>Jam 05.00 - 06.00 Bangun pagi, Berharap Sunrise</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Meski masih capek, dan yang cewek pun gak mau diajak berburu sunrise karena alasan masih ngantuk ZzzzzZz, kami cowok- cowok berempat tetap semangat mengayuh sepeda sehabis bangun tidur untuk menuju area sunrise di ujung timur pulau Tidung besar (dekat jembatan yang rusak). Sedikit kecewa karena sang matahari enggan menampakkan wajahnya yang masih malu tertutup mendung di ujung timur sana. Ahsudahlah, kami balik ke penginapan packing dan checkout.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 06.30 - 70.30 Mandi, Makan pagi, Check out Penginapan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak usah ditebak, menu pagi pasti sama lagi&#8230; ya betul tongkol lagi. Tapi lumayan lah, kali ini buahnya ganti melon. Perlu diketahui, setelah check out kami melanjutkan itinerary inti yaitu snorkeling. Snorkeling ini sendiri tidak di pulau Tidung, tapi di pulau Karangberas dan pulau Air yang ada di dekat pulau Pramuka. Malamnya, saya nego harga dulu dengan penyedia kapal. Untung kami punya ide untuk sewa kapal bersama dengan rombongan lain ( rombongan mas dony dari coach diving indonesia) yang juga menginap di penginapannya pak aji Mid. Biaya sewa kapal yang awalnya 350rb per trip, sekarang lebih murah menjadi 500rb per trip untuk 2 rombongan, jadi akumulasinya rp. 25rb per rombongan *cring*.<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 08.00- 11.00 SNORKELING TIME !!!!!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tiba diacara inti yaitu snorkeling, kami menyewa alat snorkeling rp.20rb per set *cring* meski tanpa kaki katak kami tetap semangat. Sayang rasa disayang sayang, kami tidak punya kamera underwater untuk dokumentasi dan kemarin mau sewa pun sudah kehabisan stok. Well, no problemo tetep mengagumkan alam bawah laut ternyata. Terumbu karang masih tertata apik lengkap dengan biota lautnya. Snorkeling ini kami mengambil 2 titik, yaitu di pulau Karangberas dan pulau Air. In addition, meski lutut saya berdarah tergores karena tabrakan dengan karang, tapi pengalaman pertama snorkeling ini sungguh berkesan. You can tray it bro.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/snorkeling-di-pulau-karang-beras-dan-pramuka.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-963" title="snorkeling-di-pulau-karang-beras-dan-pramuka" src="http://lathifulamri.com/wp-content/uploads/2009/10/snorkeling-di-pulau-karang-beras-dan-pramuka.jpg" alt="" width="500" height="285" /></a></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 11.00- 11.30 Makan Siang di Pulau Air.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Puas snorkeling, rombongan berlabuh sebentar untuk makan siang di pulau air dengan menu tongkol lagi. Menu makan siang ini sudah dibawa sejak berangkat dari pulau Tidung.<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 11.30- 12.30 Tiba di Pulau Pramuka, Mandi dan Naik kapal balik ke Muara Angke</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Numpang mandi di sebuah warung di pulau Pramuka seharga rp. 2rb *cring* badan lengket sehabis snorkeling di laut lumayan berkurang. Sekitar jam jam 12.30 kapal sudah siap untuk mengantar kami balik ke Ibukota dengan biaya rp. 30rb *cring*. Penumpang kapalnya full, posisi tidak pw, tidur pun setengah- setengah. Meski berdesak- desakan, kami tetep eksis ceria dengan bermain kartu UNO.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jam 16.00 Tiba di Muara Angke</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mendekati pelabuhan Muara Angke, ombak lumayan gede. Selain itu, perut jadi mual karena awalnya melihat pantai yang bersih sekarang tiba di pesisir yang kotor dan bau amis :-&amp; . Okey, dari Muara Angke menuju Grogol naek angkot merah rp. 2rb *cring* dan disambung naek taxi menuju gedung Cyber lagi rp. 20rb *cring*. And then wellcome back Jakarta!!!!</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Info dan Saran Ini Jangan Dilewatkan :</strong></p>
<pre style="text-align: justify;">- Kapal dari Muara angke ke pulau tidung hanya 1 kali itupun pagi sekali jam 7,
  jadi harus berangkat extra pagi juga.
- Bawalah obat anti mabok dll, karena naek kapal ke pulau Tidung 3 jam.
- Bawalah kartu UNO dan kartu- kartu lain untuk mengusir mati gaya selama 3 jam
  di kapal.
- Contact Person :
  * Pemilik Penginapan ( Pak Haji Abdul Hamid/alias aji Mid) : 085888742129
  * Pak Wardi, yang menyediakan makan, alat snorkeling, penyewaan kapal, sepeda,
    perlengkapan barbeque, beli ikan, pokoknya apa saja bisa minta tolong ke pak
    Wardi dengan nomor telp : 085693565464
- Laporan Biaya ( per orang) :
  * Taxi Kuningan - Muara Angke              : Rp. 20.000
  * Kapal Muara Angke - Tidung PP            : Rp. 33.000
  * Penginapan (300rb / 8 orang)             : Rp. 37.500
  * Sewa sepeda ( dihitung 1 hari)           : Rp. 15.000
  * 4 kali makan (@15rb)                     : Rp. 60.000
  * 3 Kg ikan + perlengkapan barbeque        : Rp. 12.500/orang,total rp 100.000
  * Sewa kapal untuk snorkeling(untuk 2 grup): Rp. 31.250/orang,total 250.000
  * Alat snorkeling                          : Rp. 20.000
  * Kapal dari P. Pramuka - Muara Angke      : Rp. 30.000
  * Angkot dan taxi Muara Angke- Kuningan    : Rp. 22.000
  **TOTAL                                    = <strong>Rp. 281.250</strong>
  * tanpa taxi : rp. 250.000 ( pembulatan).
- Jangan naik taxi dari muara angke, karena tidak pakai argo,jadi naik angkot
  dulu saja menuju tempat yang ada taxi umum seperti Pluit atau Grogol.</pre>
<p style="text-align: justify;">*ps, saat ini sudah ada kapal cepat dari pelabuhan marina seharga 30rb. Pulang dari pulau tidung sendiri ada kapal yang agak siang ( jam 11-an ) tapi hanya sabtu-minggu saja. Untuk mencari alternatif penginapan lain, bisa menghubungi <strong>pak Wardi 085693565464</strong>. Maaf responnya gak bisa dibalas semua, PM saja ada add facebook saya di lathifulamri@gmail.com. Thanks</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lathifulamri.com/snorkeling-sunset-sunrise-dan-trekking-di-pulau-tidung/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
