Rahasia Baduy Dalam
Mereka beda, mereka bersimphony dengan alam, mereka bebas, mereka damai, mereka kaya, mereka ramah, mereka putih, mereka merona, mereka kuat dan mereka arsitek hebat, bagaimana bisa?
Well, jika biasanya kami ngebackpack alias nggembel kere rame, kali ini sedikit bernyaman ria membawa mobil sendiri dari Jakarta tapi tetap bertemakan dan berlandaskan kehematan sosial bagi seluruh raykat Indonesia *dikira pancasila*. Saya perkenalkan dahulu para odong- odong yang ikut jalan- jalan kali ini diantaranya pemain lama Dodi Mulyana, Reza N Sanusi, Aby Herwendo, Ika Soewandi, Joedy dan saya sendiri sang perajut cinta *ehem*.
Day I, Sabtu 6 Februari 2010
07.00 Meeting point di depan Cricle K Pancoran
Naik ojek dari kos menuju meeting point keluar biaya pertama sebesar Rp. 7rb *cring*. Para odong- odong satu persatu tiba di meeting point tepat waktu, kecuali Aby yang sedikit telat karena sedang memberi warming up untuk mobilnya. Its okey, jam 07.30 kami berangkat dan tak lupa saya pimpin doa terlebih dahulu.
11.00 Tiba di Alun- Alun Lebak, Banten
Route yang kami lewati adalah Jakarta- Tol Tangerang- pintu tol Balaraja Timur belok kiri- Rangkasbitung- Lebak- Aweh- Ciboleger. Singkat dan jelas kan? ya, semoga anda tersesat dengan bahagia. Sepanjang perjalan tersebut di dalam mobil canda dan tawa tumpah, cerita a sampai z. Mulai dari tebak lagu, saling spoileran filem sampai mitos pun ada. Bercadaan yang paling nge hitz adalah mitos jika kita kena sabetan buntut kebo bakalan menjadi bodoh *dyeng, hahaha*. Jam 11.00 tiba di alun- alun kota Lebak Banten mampir di masjid agung Al A’raaf untuk kencing *bukannya sholat, malah buang hajat.. Ya Alloh ampuni teman- temanku ini*. Kenarsisan kami datang begitu saja ketika melihat masjid yang megah dan langit yang biru itu.
Dari pojok atas kiri : patung selamat datang di Ciboleger, Masjid Agung Al A’raaf Lebak, bercengkrama dengan anak Ciboleger, Pak Agus Bule, barang bawaan
13.00 Tiba di Ciboleger
Tiba di Ciboleger kami ditakdirkan dengan bertemu (padahal sudah saya kontak-kontak sebelum keberangkatan) dengan guide yang baik dan hampir semua orang di Ciboleger kenal dengan sosok orang ini, sebut saja Agus Bule sang kuncen Baduy. Di rumah pak Agus Bule numpang makan siang dan minum tapi tetap bayar lah wong makanannya emang di jual, Rp. 15rb *cring* dilanjut sholat dhuzur di masjid sekitar. FYI, saat kami kesana di Baduy dalam sedang ada upacara “kawalu” yaitu upacara semacam puasa di bulan ramadhan dari bulan Februari- April dan mereka tertutup dari dunia luar termasuk menerima tamu/ wisatawan kesana. Lho lho, saya dan kawan- kawan kok bisa masuk kesana saat kawalu? tenang.. tenang, kan kepala sukunya bapak saya *bercanda, hehe*. Supaya bisa masuk Baduy dalam saat kawalu, pak Agus bule mensiasati dengan cara pura- pura sampai sana kemalaman, jadi izin numpang nginap. Selain itu, disiasati juga pura- pura berziarah ke kepala suku (Pu’un). Dan berikut barang- barang aneh yang harus kami bawa per orang saat ziarah tersebut : kain putih, pisau, menyan dan minyak *jiyahahaha, ini mah nyari tuyul*. Barang- barang tersebut dibelikan oleh pak Agus di Ciboleger, jadi gak perlu susah- susah bawa dari Jakarta. At least, gak papa meski bawa barang- barang aneh tersebut yang penting tujuan kami tidak mencari wangsit atau kesaktian, melainkan mencari anaknya kepala suku yang katanya cantik itu *lho*.
14.30 Tiba di Desa Gazebo, Baduy Luar
Perjalanan 14 Km selama 6 jam dan melintasi 5 bukit itu dimulai *buat anda yang tidak siap, mending latihan dulu jalan Jakarta- Bogor,kekeke*. Jam setengah dua kami bertujuh (termasuk pak Agus) meninggalkan Ciboleger dan mampir dulu di rumah pimpinan dari keseluruhan desa baik Baduy luar maupun dalam yang disebut Jaro untuk daftar dan registrasi alias bayar Rp. 25rb *cring* satu rombongan. Setelah sedikit treking, tibalah kami di desa Gazebo (Baduy luar). Di desa ini belum terlalu primitif, mereka berpakaian warna hitam, bahkan kami sempat mampir di suatu rumah untuk beli teh botol sosro dan lilin senilai 4rb *cring*. Dan di desa inilah untuk pertamakali saya melihat jembatan bambu yang mengagumkan itu.
Jembatan bambu ini melintang dengan kokoh, tanpa paku, terikat oleh ijuk pohon enau merupakan sebuah arsitektur yang menakjubkan. Jembatan serupa dapat ditemukan di beberapa tempat di Baduy luar maupun dalam.
15.30 Tiba di Desa Kaduketer, Kejadian Itu….
Perjalanan dilanjutkan dengan jalur trek yang tergolong ringan. Menurut saya desa Kaduketer memiliki view paling bagus. Dan di desa inilah merupakan desa terakhir dari Baduy luar. Sepanjang perjalanan dari Gazebo sampai desa ini kami masih terheran- heran dengan orang Baduy yang kami temui di jalan, karena mayoritas dari mereka kulitnya putih merona, cantik- cantik dan tampan. Ini masih Baduy luar, bagaimana dengan Baduy dalam? *semakin penasaran*. Menurut spoiler dari rombongan cewek, anak kepala suku di Baduy dalam ada yang mukanya mirip Tora Sudiro tinggal dipoles dikit *omaygat, semoga saja Asmiranda juga ada disana*. Setelah puas berfoto- foto di bawah desa, kami sedikit naik untuk berfoto dari ketinggian dengan gaya andalan gaya loncat. Dan apa yang terjadi pemirsa sekalian…. Ketika saya loncat single sekuat tenaga dan difoto oleh Dodi juga Ika, tiba- tiba terdengar suara “weeek”, huaaaa.. setan giling setan alas, ternyata celana saya sobek selebar 4 jengkal !!!. Seketika semua pada ketawa puas, dan saya balas dengan muka malu *padahal di dalam hati ikutan ngakak*. Mau ganti celana tapi males repack, akhirnya sepanjang perjalanan saya ngumpet paling belakang. Kalau badan masuk angin sih enak ada minyak kayu putih, lha ini yang masuk angin bagian dalam celana, apa yang mau diminyakin? *jangan dibayangin lho*.
Terlihat perempuan suku Baduy sedang menumbuk beras yang mereka simpan di sebuat tempat bernama leuwit. Sebagian desa- desa suku Baduy juga unik, bersembunyi dibalik bukit.
16.00 Perjalanan Sesungguhnya
Dengan semangat 45 rombongan odong- odong meninggalkan Baduy luar, melintasi tanjakan tanah merah, bukit dan hutan. Sesekali kami beristirahat di jalan dan di gubug/ saung. Sekitar jam setengah 6 kami tiba di jembatan bambu yang merupakan batas antara Baduy dalam dan Baduy luar. Selama di Baduy dalam, dilarang menggunakan kamera dengan alasan mereka tidak mau diexpose dunia luar. Saya pun mohon maaf jika tidak ada screenshoot atau gambar bagaimana keindahan Baduy dalam maupun orang- orang Baduy dalam karena kami menghormati pantangan yang ada *serius*.
17.30 Bertemu Anaknya Artis
Setelah melewati jembatan bambu di depan kami menghadang sebuah tanjakan bukit yang sangat tinggi dan merupakan tanjakan paling sulit. Pokoknya capek banget dan ngos- ngosan seperti anjing. Ketika tiba di atas bukit, langit mulai gelap, senja di ujung barat berhamburan keluar. Ingin sekali mengeluarkan kamera dan berfoto- foto bersama sunset, tapi kami takut pantangan daripada besoknya tiba- tiba kelamin saya hilang? *jabang bayik*. Di jalan kami bertemu cucunya kepala suku berusia sekitar 12 tahun yang sedang turun. Jadi di sana ada Pu’un kepala suku, kemudian anaknya (yang katanya mirip Tora Sudiro) dan anaknya Tora Sudiro inilah yang kami temui di jalan. Menurut saya mukanya sangat goodlooking dan berikut obrolan rombongan cewek sepanjang perjalanan “wiiih, ganteng banget.. ganteng ya”, sambil ngeces sana- sini.
18.30 Durian Yang Sangat Nikmat
Perjalanan terus dilanjutkan menerobos gelapnya malam. Terbesit di depan kami sebuah rumah tanpa tetangga di tengah hutan. Rumah ini milik pak Sarwan beserta istri dan satu anaknya yang masih balita. Dengan bahasa Indonesia yang masih terpatah- patah pak Sarwan menawarkan durian kepada kami. Setelah diterjemahkan oleh pak Agus, ternyata harganya 10rb perbiji. Tanpa ditawar langsung kami iyain. Tiga buah durian kami embat tanpa sisa karena memang sedang kelaparan. Sialnya, gak ada satupun dari rombongan kami yang gak suka*penyesalan terselubung*. Kami juga ditawari pisang beserta minum dengan mangkok sebagai gelasnya. Entah rumah, pak Sarwan dan durian saat gelap sehabis maghrib ini hanyalah sebuah fatamorgana atau halusinasi, tapi yang jelas bau duriannya masih ada kok sampai Baduy dalam *hehe*. Kami pamitan ke pak Sarwan tak lupa bayar upeti durian Rp. 30rb *cring*.
19.30 Tiba di desa Cibeo, Baduy Dalam
Senter dinyalakan, melewati jalanan becek berbatu dan beberapa jembatan bambu. Akhirnya tibalah di desa Cibeo, salah satu dari tiga desa yang ada di Baduy dalam. Rumah di desa Cibeo sangat sederhana, semua terbuat dari bambu, mirip kandang ayam ini mah. Kami menginap di salah satu rumah penduduk bernama pak Jasrif. Setelah menaruh barang bawaan, kami diantar oleh menantunya laki- laki dari Pak Jasrif ke sebuah sungai untuk kencing dan membasuh muka. Oh iya, suku baduy tidak mengenal listrik, jadi selamat datang di dunia kegelapan.
20.00 Makan Malam Yang Harmoni
Kami semua berkumpul bersama keluarga pak Jasfif terdiri istrinya, beberapa anak laki- laki nya yang dewasa dan balita, juga beberapa anak perempuannya yang bersembunyi di balik sekat kamar. Setelah saya lirik- lirik di sekat kamar, saya belum melihat anak perempuannya yang mungkin ada yang asoy *gelap kali ya*. Waktu itu kami menyerahkan mie instant, sarden dan makanan ringan untuk disantap bersama. Kami dibalas dengan suguhan minum dan rambutan. Nasi liwetnya sudah matang, langsung kami santap bersama dengan lahap beserta mie instant dan sarden, enaknya luar biasa *entah lapar atau doyan*. Yang biasanya saya diner malem minggu di Sky Dining Pelangi ataupun di Exelso Kemang, kali ini malming cukup di sebuah rumah bambu ditemani lilin yang semakin redup. Sejenak melupakan hirup pikuk ibukota, klakson mobil karena macet dan gemerlapan panggung hiburan dengan bermalam di Baduy dalam tanpa lampu, tanpa MP3, tanpa sinyal handphone apalagi laptop. Malam itu kami sedikit melakukan perbincangan dengan pak Jasrif yang lumayan fasih berbahasa Indonesia itu. Bahkan mendadak saya terkonclang ketika pak Jasrif tanya “eh.. itu bagaimana tentang kasus bank Century? banknya ada dimana saja”, bwahahaha ini orang gak ada teknologi gak ada tv atau koran kok tau aja kasus bank Century. Malam itu juga kami langsung melontarkan sebuah pertanyaan yang jawabannya sangat kami tunggu- tunggu “Gini lho pak, kami lihat dari Baduy luar maupun dalam kenapa ya kok orang Baduy mayoritas kulitnya putih2, merona pula. Apakah ada rahasianya pak? adakah ramuan atau kiat- kiat khusus?”. Mendadak pak Jasrif ketawa. Dijawab oleh pak Jasrif “hahaha, gak ada.. memang sudah dari sananya”, busyeeet dah jawabannya menohok. Well, bersama terangnya rembulan dan nyanyian jangkrik jam 9 malam kami tidur.
Day II, Minggu 7 Februari 2010
06.00 Menghadap Pu’un (Kepala Suku)
Jam 5 pagi saya sudah bangun, pergi ke sungai ambil air wudhu. Setelah sholat, tiba- tiba kepala suku sudah di dalam rumah pak Jasrif. Dan saya mendapat giliran pertama menghadap kepala suku dan saya benar- benar tidak tau mau diapakan. Saya pun ditanya sudah menikah? saya jawab belum dengan nada kalem. Waktu itu masih pagi dan gelap, muka Pu’un kurang jelas, tapi terlihat mulutnya komat- kamit membaca mantra. Mendadak saya terkaget ketika tangan saya dipegang Pu’un dan dikasih sebuah botol menyan bau minyak nyong nyong sambil di mantrain. Astaghifurullah, saya baru sadar ternyata banyak orang kesini sebagian besar minta jampi- jampian Pu’un. Dan ternyata barang bawaan aneh semacam kain putih dan menyan yang kami bawa dari Ciboleger saya kira buat ziarah, ternyata untuk seserahan jampi- jampian. Kalau urusan jejampian ini, saya serahkan pada kepecerayaan masing- masing deh. Karena memang kami kesana hanya bertujuan fun, refreshing, mengetahui budaya dan alam.
Setelah dikorek informasi mengenai anaknya Pu’un yang mirip Tora Sudiro, ternyata doi-nya sedang turun ke Baduy luar, hahahaha pasti yang cewek- cewek langsung stroke.
07.00 Sarapan, Mandi di Sungai, Pamitan
Setelah satu persatu mengahadap Pu’un, saatnya mandi di sungai dengan mengikuti syarat tidak boleh pakai sabun, pasta gigi dll. Airnya suegeeer *sambil berdoa supaya kulit saya bisa putih seperti orang Baduy*. Sehabis mandi eh makanan sudah matang aja, menunya seperti kemarin mie instant dan sarden. Makan pagi kali ini di depan rumah, ditemani puluhan ekor ayam. Dilanjut dengan packing dan berpamitan juga tak lupa memberi uang tip kepada rumah yang kami inapi Rp. 100rb *cring*. Selamat tinggal Baduy dalam, terimakasih pak Jasrif dan keluarga, its a memorable experience.
08.00 Perjalanan kembali ke Ciboleger
Jalur pulang kali ini beda dengan saat berangkat ke Baduy dalam, cuma 5 jam melewati beberapa tanjakan dan hutan juga sih, tapi lebih becek dan berlumpur. Jam 11 siang kami sampai di perbatasan Baduy dalam dan luar, seketika itu langsung mengeluarkan kamera, sinyal hp juga ada *serasa kembali ke peradaban*. Di jalan kami bertemu anak Baduy dalam yang baru saja pulang dari Baduy luar dan kami coba tanya, siapa namanya ? dia menjawab “Aldy” *bwahaha, ternyata orang Baduy dalam namanya sudah keren- keren*.
Caputure anak- anak Baduy. Salah satu anak yang matanya terlihat berkaca- kaca diatas ketakutan ketika saya foto, bahkan sampai menangis kenceng. Mungkin dikira setan, eh.
13.00 Tiba di Ciboleger, Pulang ke Jakarta
Betis rasanya mau copot saking capeknya. Tiba di rumah pak Agus (Ciboleger) langsung minum, makan, mandi, sholat dan pamitan. Tak lupa memberi uang tempel ke Pak Agus Bule sebesar Rp.200rb *cring*. Juga kena biaya parkir mobil semalam di Ciboleger rp. 25rb*cring*. Berhubung masih sore, perjalanan pulang kami buat santai dan mampir di alun- alun Lebak istirahat dan ditraktir makan bakso oleh Aby. Jam 8 tiba di Jakarta dan mampir beli makan di lele Lela Rp. 15rb *cring* dan dilanjut naik ojek sampai kos Rp.7rb *cring*.
Informasi dan saran ini jangan dilewatkan :
* Contact Person : Pak Agus Bule, 085710421217 or 0857161122124
(bilang saja dikasih tau amri, smoga dibantu maksimal)
* Barang bawaan yang paling wajib dibawa : jas hujan, senter, sendal gunung
* Syarat ke baduy dalam :
- bukan WNA (bule), sudah sunat, dilarang memotret
- dilarang menggunakan alat MCK dan bahan kimia
- dilarang membawa gitar, mp3 atau membuat gaduh
- berat badan proposional (dikarenakan jalur treking yang susah)
* Hindari ke baduy dalam saat Kawalu (Februari- April) dan musim hujan
* Jangan lupa bawa lilin untuk penerangan menginap di baduy dalam
* Bawalah makanan untuk dimakan bersama pemilik rumah yang diinapi di
baduy dalam seperti : mie instant, sarden, roti dan makanan ringan
* Orang baduy tidak mengenal sendal, tidak mengenal listrik, tidak mengenal
alat transportasi tapi mereka mengenal rupiah
* Bagaiamana jika kesana ngebackpack alias nyambung menyambung? tenang...
Anda bisa membuka link itinerary ngebackpack berikut yang sudah saya buat
* Laporan Biaya (untuk 6 orang)
- Bensin mobil 130rb : @ Rp. 21.000
- Barang Ziarah (kain, menyan) : @ Rp. 35.000
- Biaya lapor Jaro 25rb : @ Rp. 4.000
- Uang nginap di baduy dalam 100rb : @ Rp. 17.000
- Guide ke baduy dalam 200rb : @ Rp. 33.000
- Parkir mobil 1 hari 25rb : @ Rp. 4.000
TOTAL : Rp. 114.000 (belum termasuk makan)
Terimakasih kepada All team atas kebersamaannya. Bersyukur juga selama perjalanan treking ke Baduy dalam baik berangkat maupun saat pulang tidak turun hujan.
Lho, trus rahasianya apa ? rahasia supaya putih merona? berikut rahasianya: tinggalah bersama orang baduy sampai beberapa bulan. Hidup di tengah hutan tanpa listrik, bersimbiosis dengan alam, tanpa hiburan, tanpa facebook, tanpa sendal, tanpa alat transportasi, tanpa polusi, hidup sederhana, tanpa bahan kimia. Apakah kisanak mau ?





Wew, mantap.. Minta info soal bensin bos, masa cm hbs 130???
[Reply]
kok bule ga boleh bos.padahal mw ajak bule nih
[Reply]
gan,,,
kalao mau jalan kemana aja boleh dunks saya daftarrrr
[Reply]
Search Engine Secrets
[Reply]
emang perjalanan k baduy tuh nyenengin banget………..
gag cukup sekali untuk berkunjung kesana,,,..
heheh….
[Reply]
makasii infonya
bsk mw kesana ni buat penelitian tugas akhir klas 12
btw jalannya itu jauh bgd ya???anak sma klas 3 kuat ga tuh kira2??
[Reply]
iyo Mas, emang oky bgt touring en travelling ke sana model backpacker-an. Kmaren bru j liburan, muter2 Jakarta Bandung mpe duo minggu, eh mampir juga ke Ciboleger. Yg nge’guide ank situ tp msh muda jd cmn diajak muter-muter mpe pegel, gx ada interview sgla mcm pdhl niat’y mo riset bikin buku kcl2an. yo wi lah, nti klo ksono lg tak ngajak si juru kunci. thnx abis ma info’y.
[Reply]
Amazing banged …. upami ngadain lage, ikuuuttt …
[Reply]
Mulai mau masuk ke perkampungan baduy luar setelah pertabatasan Ciboleger, suasananya sangat nyaman, tentram anak2nya tak banyak beringkah.
Mereka melihat tamu ato org asing bagi mereka tak banyak memandangkan mata, seolah sudah biasa ketemu wanoja (gadis) cantik putih alami bersih mukanya bercahaya.
Berpakaian putih bawahan hitam kata kang Agus Bule “itu tandanya gadis baduy dalam”
Trima kasih. Sukses penjelajahannya bung…
[Reply]
pokona mah muantap dah.!!!
[Reply]
Assalamualaikum
subhanallah ceritanya
sangat menarik dan saya sangat tertarik untuk berkunjung kesana
boleh tanya
disana mayoritas agamanya apa ya?
ada masjid ga disana?
Mohon pencerahannya
Salam hangat
cecep setiawan
[Reply]
klo tanya masalah agama orng baduy ..oarng baduy alias rawayan (klo orang banten nyebutnya) agamanya animisme dan dinamisme sunda wiwitan..
ada juga klo bduy luar yang islam….
[Reply]
mantab infonya,
pernah denger ada trayek lain selain lewat cibolegar.???
[Reply]
Wuaaaaah, tertarik sekali ke baduy…
Terima kasih informasi nya…
[Reply]
nuhun kang infonya,sangat berguna.,berhubung saya jg mau back pack-an kesoo.,hehe,boleh ajak2 kalau travelling lg.,hehe :p
[Reply]