Rahasia Baduy Dalam
Mereka beda, mereka bersimphony dengan alam, mereka bebas, mereka damai, mereka kaya, mereka ramah, mereka putih, mereka merona, mereka kuat dan mereka arsitek hebat, bagaimana bisa?
Well, jika biasanya kami ngebackpack alias nggembel kere rame, kali ini sedikit bernyaman ria membawa mobil sendiri dari Jakarta tapi tetap bertemakan dan berlandaskan kehematan sosial bagi seluruh raykat Indonesia *dikira pancasila*. Saya perkenalkan dahulu para odong- odong yang ikut jalan- jalan kali ini diantaranya pemain lama Dodi Mulyana, Reza N Sanusi, Aby Herwendo, Ika Soewandi, Joedy dan saya sendiri sang perajut cinta *ehem*.
Day I, Sabtu 6 Februari 2010
07.00 Meeting point di depan Cricle K Pancoran
Naik ojek dari kos menuju meeting point keluar biaya pertama sebesar Rp. 7rb *cring*. Para odong- odong satu persatu tiba di meeting point tepat waktu, kecuali Aby yang sedikit telat karena sedang memberi warming up untuk mobilnya. Its okey, jam 07.30 kami berangkat dan tak lupa saya pimpin doa terlebih dahulu.
11.00 Tiba di Alun- Alun Lebak, Banten
Route yang kami lewati adalah Jakarta- Tol Tangerang- pintu tol Balaraja Timur belok kiri- Rangkasbitung- Lebak- Aweh- Ciboleger. Singkat dan jelas kan? ya, semoga anda tersesat dengan bahagia. Sepanjang perjalan tersebut di dalam mobil canda dan tawa tumpah, cerita a sampai z. Mulai dari tebak lagu, saling spoileran filem sampai mitos pun ada. Bercadaan yang paling nge hitz adalah mitos jika kita kena sabetan buntut kebo bakalan menjadi bodoh *dyeng, hahaha*. Jam 11.00 tiba di alun- alun kota Lebak Banten mampir di masjid agung Al A’raaf untuk kencing *bukannya sholat, malah buang hajat.. Ya Alloh ampuni teman- temanku ini*. Kenarsisan kami datang begitu saja ketika melihat masjid yang megah dan langit yang biru itu.
Dari pojok atas kiri : patung selamat datang di Ciboleger, Masjid Agung Al A’raaf Lebak, bercengkrama dengan anak Ciboleger, Pak Agus Bule, barang bawaan
13.00 Tiba di Ciboleger
Tiba di Ciboleger kami ditakdirkan dengan bertemu (padahal sudah saya kontak-kontak sebelum keberangkatan) dengan guide yang baik dan hampir semua orang di Ciboleger kenal dengan sosok orang ini, sebut saja Agus Bule sang kuncen Baduy. Di rumah pak Agus Bule numpang makan siang dan minum tapi tetap bayar lah wong makanannya emang di jual, Rp. 15rb *cring* dilanjut sholat dhuzur di masjid sekitar. FYI, saat kami kesana di Baduy dalam sedang ada upacara “kawalu” yaitu upacara semacam puasa di bulan ramadhan dari bulan Februari- April dan mereka tertutup dari dunia luar termasuk menerima tamu/ wisatawan kesana. Lho lho, saya dan kawan- kawan kok bisa masuk kesana saat kawalu? tenang.. tenang, kan kepala sukunya bapak saya *bercanda, hehe*. Supaya bisa masuk Baduy dalam saat kawalu, pak Agus bule mensiasati dengan cara pura- pura sampai sana kemalaman, jadi izin numpang nginap. Selain itu, disiasati juga pura- pura berziarah ke kepala suku (Pu’un). Dan berikut barang- barang aneh yang harus kami bawa per orang saat ziarah tersebut : kain putih, pisau, menyan dan minyak *jiyahahaha, ini mah nyari tuyul*. Barang- barang tersebut dibelikan oleh pak Agus di Ciboleger, jadi gak perlu susah- susah bawa dari Jakarta. At least, gak papa meski bawa barang- barang aneh tersebut yang penting tujuan kami tidak mencari wangsit atau kesaktian, melainkan mencari anaknya kepala suku yang katanya cantik itu *lho*.
14.30 Tiba di Desa Gazebo, Baduy Luar
Perjalanan 14 Km selama 6 jam dan melintasi 5 bukit itu dimulai *buat anda yang tidak siap, mending latihan dulu jalan Jakarta- Bogor,kekeke*. Jam setengah dua kami bertujuh (termasuk pak Agus) meninggalkan Ciboleger dan mampir dulu di rumah pimpinan dari keseluruhan desa baik Baduy luar maupun dalam yang disebut Jaro untuk daftar dan registrasi alias bayar Rp. 25rb *cring* satu rombongan. Setelah sedikit treking, tibalah kami di desa Gazebo (Baduy luar). Di desa ini belum terlalu primitif, mereka berpakaian warna hitam, bahkan kami sempat mampir di suatu rumah untuk beli teh botol sosro dan lilin senilai 4rb *cring*. Dan di desa inilah untuk pertamakali saya melihat jembatan bambu yang mengagumkan itu.
Jembatan bambu ini melintang dengan kokoh, tanpa paku, terikat oleh ijuk pohon enau merupakan sebuah arsitektur yang menakjubkan. Jembatan serupa dapat ditemukan di beberapa tempat di Baduy luar maupun dalam.
15.30 Tiba di Desa Kaduketer, Kejadian Itu….
Perjalanan dilanjutkan dengan jalur trek yang tergolong ringan. Menurut saya desa Kaduketer memiliki view paling bagus. Dan di desa inilah merupakan desa terakhir dari Baduy luar. Sepanjang perjalanan dari Gazebo sampai desa ini kami masih terheran- heran dengan orang Baduy yang kami temui di jalan, karena mayoritas dari mereka kulitnya putih merona, cantik- cantik dan tampan. Ini masih Baduy luar, bagaimana dengan Baduy dalam? *semakin penasaran*. Menurut spoiler dari rombongan cewek, anak kepala suku di Baduy dalam ada yang mukanya mirip Tora Sudiro tinggal dipoles dikit *omaygat, semoga saja Asmiranda juga ada disana*. Setelah puas berfoto- foto di bawah desa, kami sedikit naik untuk berfoto dari ketinggian dengan gaya andalan gaya loncat. Dan apa yang terjadi pemirsa sekalian…. Ketika saya loncat single sekuat tenaga dan difoto oleh Dodi juga Ika, tiba- tiba terdengar suara “weeek”, huaaaa.. setan giling setan alas, ternyata celana saya sobek selebar 4 jengkal !!!. Seketika semua pada ketawa puas, dan saya balas dengan muka malu *padahal di dalam hati ikutan ngakak*. Mau ganti celana tapi males repack, akhirnya sepanjang perjalanan saya ngumpet paling belakang. Kalau badan masuk angin sih enak ada minyak kayu putih, lha ini yang masuk angin bagian dalam celana, apa yang mau diminyakin? *jangan dibayangin lho*.
Terlihat perempuan suku Baduy sedang menumbuk beras yang mereka simpan di sebuat tempat bernama leuwit. Sebagian desa- desa suku Baduy juga unik, bersembunyi dibalik bukit.
16.00 Perjalanan Sesungguhnya
Dengan semangat 45 rombongan odong- odong meninggalkan Baduy luar, melintasi tanjakan tanah merah, bukit dan hutan. Sesekali kami beristirahat di jalan dan di gubug/ saung. Sekitar jam setengah 6 kami tiba di jembatan bambu yang merupakan batas antara Baduy dalam dan Baduy luar. Selama di Baduy dalam, dilarang menggunakan kamera dengan alasan mereka tidak mau diexpose dunia luar. Saya pun mohon maaf jika tidak ada screenshoot atau gambar bagaimana keindahan Baduy dalam maupun orang- orang Baduy dalam karena kami menghormati pantangan yang ada *serius*.
17.30 Bertemu Anaknya Artis
Setelah melewati jembatan bambu di depan kami menghadang sebuah tanjakan bukit yang sangat tinggi dan merupakan tanjakan paling sulit. Pokoknya capek banget dan ngos- ngosan seperti anjing. Ketika tiba di atas bukit, langit mulai gelap, senja di ujung barat berhamburan keluar. Ingin sekali mengeluarkan kamera dan berfoto- foto bersama sunset, tapi kami takut pantangan daripada besoknya tiba- tiba kelamin saya hilang? *jabang bayik*. Di jalan kami bertemu cucunya kepala suku berusia sekitar 12 tahun yang sedang turun. Jadi di sana ada Pu’un kepala suku, kemudian anaknya (yang katanya mirip Tora Sudiro) dan anaknya Tora Sudiro inilah yang kami temui di jalan. Menurut saya mukanya sangat goodlooking dan berikut obrolan rombongan cewek sepanjang perjalanan “wiiih, ganteng banget.. ganteng ya”, sambil ngeces sana- sini.
18.30 Durian Yang Sangat Nikmat
Perjalanan terus dilanjutkan menerobos gelapnya malam. Terbesit di depan kami sebuah rumah tanpa tetangga di tengah hutan. Rumah ini milik pak Sarwan beserta istri dan satu anaknya yang masih balita. Dengan bahasa Indonesia yang masih terpatah- patah pak Sarwan menawarkan durian kepada kami. Setelah diterjemahkan oleh pak Agus, ternyata harganya 10rb perbiji. Tanpa ditawar langsung kami iyain. Tiga buah durian kami embat tanpa sisa karena memang sedang kelaparan. Sialnya, gak ada satupun dari rombongan kami yang gak suka*penyesalan terselubung*. Kami juga ditawari pisang beserta minum dengan mangkok sebagai gelasnya. Entah rumah, pak Sarwan dan durian saat gelap sehabis maghrib ini hanyalah sebuah fatamorgana atau halusinasi, tapi yang jelas bau duriannya masih ada kok sampai Baduy dalam *hehe*. Kami pamitan ke pak Sarwan tak lupa bayar upeti durian Rp. 30rb *cring*.
19.30 Tiba di desa Cibeo, Baduy Dalam
Senter dinyalakan, melewati jalanan becek berbatu dan beberapa jembatan bambu. Akhirnya tibalah di desa Cibeo, salah satu dari tiga desa yang ada di Baduy dalam. Rumah di desa Cibeo sangat sederhana, semua terbuat dari bambu, mirip kandang ayam ini mah. Kami menginap di salah satu rumah penduduk bernama pak Jasrif. Setelah menaruh barang bawaan, kami diantar oleh menantunya laki- laki dari Pak Jasrif ke sebuah sungai untuk kencing dan membasuh muka. Oh iya, suku baduy tidak mengenal listrik, jadi selamat datang di dunia kegelapan.
20.00 Makan Malam Yang Harmoni
Kami semua berkumpul bersama keluarga pak Jasfif terdiri istrinya, beberapa anak laki- laki nya yang dewasa dan balita, juga beberapa anak perempuannya yang bersembunyi di balik sekat kamar. Setelah saya lirik- lirik di sekat kamar, saya belum melihat anak perempuannya yang mungkin ada yang asoy *gelap kali ya*. Waktu itu kami menyerahkan mie instant, sarden dan makanan ringan untuk disantap bersama. Kami dibalas dengan suguhan minum dan rambutan. Nasi liwetnya sudah matang, langsung kami santap bersama dengan lahap beserta mie instant dan sarden, enaknya luar biasa *entah lapar atau doyan*. Yang biasanya saya diner malem minggu di Sky Dining Pelangi ataupun di Exelso Kemang, kali ini malming cukup di sebuah rumah bambu ditemani lilin yang semakin redup. Sejenak melupakan hirup pikuk ibukota, klakson mobil karena macet dan gemerlapan panggung hiburan dengan bermalam di Baduy dalam tanpa lampu, tanpa MP3, tanpa sinyal handphone apalagi laptop. Malam itu kami sedikit melakukan perbincangan dengan pak Jasrif yang lumayan fasih berbahasa Indonesia itu. Bahkan mendadak saya terkonclang ketika pak Jasrif tanya “eh.. itu bagaimana tentang kasus bank Century? banknya ada dimana saja”, bwahahaha ini orang gak ada teknologi gak ada tv atau koran kok tau aja kasus bank Century. Malam itu juga kami langsung melontarkan sebuah pertanyaan yang jawabannya sangat kami tunggu- tunggu “Gini lho pak, kami lihat dari Baduy luar maupun dalam kenapa ya kok orang Baduy mayoritas kulitnya putih2, merona pula. Apakah ada rahasianya pak? adakah ramuan atau kiat- kiat khusus?”. Mendadak pak Jasrif ketawa. Dijawab oleh pak Jasrif “hahaha, gak ada.. memang sudah dari sananya”, busyeeet dah jawabannya menohok. Well, bersama terangnya rembulan dan nyanyian jangkrik jam 9 malam kami tidur.
Day II, Minggu 7 Februari 2010
06.00 Menghadap Pu’un (Kepala Suku)
Jam 5 pagi saya sudah bangun, pergi ke sungai ambil air wudhu. Setelah sholat, tiba- tiba kepala suku sudah di dalam rumah pak Jasrif. Dan saya mendapat giliran pertama menghadap kepala suku dan saya benar- benar tidak tau mau diapakan. Saya pun ditanya sudah menikah? saya jawab belum dengan nada kalem. Waktu itu masih pagi dan gelap, muka Pu’un kurang jelas, tapi terlihat mulutnya komat- kamit membaca mantra. Mendadak saya terkaget ketika tangan saya dipegang Pu’un dan dikasih sebuah botol menyan bau minyak nyong nyong sambil di mantrain. Astaghifurullah, saya baru sadar ternyata banyak orang kesini sebagian besar minta jampi- jampian Pu’un. Dan ternyata barang bawaan aneh semacam kain putih dan menyan yang kami bawa dari Ciboleger saya kira buat ziarah, ternyata untuk seserahan jampi- jampian. Kalau urusan jejampian ini, saya serahkan pada kepecerayaan masing- masing deh. Karena memang kami kesana hanya bertujuan fun, refreshing, mengetahui budaya dan alam.
Setelah dikorek informasi mengenai anaknya Pu’un yang mirip Tora Sudiro, ternyata doi-nya sedang turun ke Baduy luar, hahahaha pasti yang cewek- cewek langsung stroke.
07.00 Sarapan, Mandi di Sungai, Pamitan
Setelah satu persatu mengahadap Pu’un, saatnya mandi di sungai dengan mengikuti syarat tidak boleh pakai sabun, pasta gigi dll. Airnya suegeeer *sambil berdoa supaya kulit saya bisa putih seperti orang Baduy*. Sehabis mandi eh makanan sudah matang aja, menunya seperti kemarin mie instant dan sarden. Makan pagi kali ini di depan rumah, ditemani puluhan ekor ayam. Dilanjut dengan packing dan berpamitan juga tak lupa memberi uang tip kepada rumah yang kami inapi Rp. 100rb *cring*. Selamat tinggal Baduy dalam, terimakasih pak Jasrif dan keluarga, its a memorable experience.
08.00 Perjalanan kembali ke Ciboleger
Jalur pulang kali ini beda dengan saat berangkat ke Baduy dalam, cuma 5 jam melewati beberapa tanjakan dan hutan juga sih, tapi lebih becek dan berlumpur. Jam 11 siang kami sampai di perbatasan Baduy dalam dan luar, seketika itu langsung mengeluarkan kamera, sinyal hp juga ada *serasa kembali ke peradaban*. Di jalan kami bertemu anak Baduy dalam yang baru saja pulang dari Baduy luar dan kami coba tanya, siapa namanya ? dia menjawab “Aldy” *bwahaha, ternyata orang Baduy dalam namanya sudah keren- keren*.
Caputure anak- anak Baduy. Salah satu anak yang matanya terlihat berkaca- kaca diatas ketakutan ketika saya foto, bahkan sampai menangis kenceng. Mungkin dikira setan, eh.
13.00 Tiba di Ciboleger, Pulang ke Jakarta
Betis rasanya mau copot saking capeknya. Tiba di rumah pak Agus (Ciboleger) langsung minum, makan, mandi, sholat dan pamitan. Tak lupa memberi uang tempel ke Pak Agus Bule sebesar Rp.200rb *cring*. Juga kena biaya parkir mobil semalam di Ciboleger rp. 25rb*cring*. Berhubung masih sore, perjalanan pulang kami buat santai dan mampir di alun- alun Lebak istirahat dan ditraktir makan bakso oleh Aby. Jam 8 tiba di Jakarta dan mampir beli makan di lele Lela Rp. 15rb *cring* dan dilanjut naik ojek sampai kos Rp.7rb *cring*.
Informasi dan saran ini jangan dilewatkan :
* Contact Person : Pak Agus Bule, 085710421217 or 0857161122124
(bilang saja dikasih tau amri, smoga dibantu maksimal)
* Barang bawaan yang paling wajib dibawa : jas hujan, senter, sendal gunung
* Syarat ke baduy dalam :
- bukan WNA (bule), sudah sunat, dilarang memotret
- dilarang menggunakan alat MCK dan bahan kimia
- dilarang membawa gitar, mp3 atau membuat gaduh
- berat badan proposional (dikarenakan jalur treking yang susah)
* Hindari ke baduy dalam saat Kawalu (Februari- April) dan musim hujan
* Jangan lupa bawa lilin untuk penerangan menginap di baduy dalam
* Bawalah makanan untuk dimakan bersama pemilik rumah yang diinapi di
baduy dalam seperti : mie instant, sarden, roti dan makanan ringan
* Orang baduy tidak mengenal sendal, tidak mengenal listrik, tidak mengenal
alat transportasi tapi mereka mengenal rupiah
* Bagaiamana jika kesana ngebackpack alias nyambung menyambung? tenang...
Anda bisa membuka link itinerary ngebackpack berikut yang sudah saya buat
* Laporan Biaya (untuk 6 orang)
- Bensin mobil 130rb : @ Rp. 21.000
- Barang Ziarah (kain, menyan) : @ Rp. 35.000
- Biaya lapor Jaro 25rb : @ Rp. 4.000
- Uang nginap di baduy dalam 100rb : @ Rp. 17.000
- Guide ke baduy dalam 200rb : @ Rp. 33.000
- Parkir mobil 1 hari 25rb : @ Rp. 4.000
TOTAL : Rp. 114.000 (belum termasuk makan)
Terimakasih kepada All team atas kebersamaannya. Bersyukur juga selama perjalanan treking ke Baduy dalam baik berangkat maupun saat pulang tidak turun hujan.
Lho, trus rahasianya apa ? rahasia supaya putih merona? berikut rahasianya: tinggalah bersama orang baduy sampai beberapa bulan. Hidup di tengah hutan tanpa listrik, bersimbiosis dengan alam, tanpa hiburan, tanpa facebook, tanpa sendal, tanpa alat transportasi, tanpa polusi, hidup sederhana, tanpa bahan kimia. Apakah kisanak mau ?





pertamax gan!! heheh
btw kok gak ngajak ngajak sihh..
seru banget ceritanya..ampe ada laporan keuangannya segala..wakakak
ditunggu kunjungan baliknya yah
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 5:51 pm
Next time ikut ya, terimakasih banyak
[Reply]
keren ya mereka masi mempertahankan adatnya biarpun di jaman moderen ini kayaknya gak mampu hidup tanpa listrik, bahan kimia… untung cowoknya ganteng-ganteng *eh*
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 5:52 pm
hm, kalau di baduy dalam lebih yahuud lho cowoknya *mempengaruhi*
[Reply]
wah.. jadi tertarik untuk berkenalan dengan mereka…
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 5:53 pm
mereka siapa nih? anaknya kepala suku? ckckck
[Reply]
what a wonderful adventure….
kerennnnn….
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 5:54 pm
tengkyu mbak mayasari (cozy)
[Reply]
wooggghhh mereka lebih bagus kulitnya karena tidak terkontaminasi sama polusi udara, gag stress mikirin kerjaan juga, bubu tepat waktu…..aaaahhh pengen idup di desa
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 5:55 pm
iya chie, keknya mereka gak kepikiran besok ada kerjaan numpuk di kantor. Damai dan santai keknya hidup di sana
[Reply]
Gw baru inget yang namanya Aldy.. Etapi gw gak ada waktu buka-buka file fotonya, jadinya lupa
Petualangan yang lain dari yang lain, well done!
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 5:57 pm
sempet kaget kan kemarin pas ditanya kok namannya aldy :))
Nice adventure with you and all
[Reply]
GUa: Halo Pak Agus Bule
Pak Agus: Iyah dengan sapa yah??
GUa: Ini saya pak, temennya Amri….
Pak Agus: Amri yang mana yah???
GUa : itu lo pak yang ke BADUI dalam beberapa waktu lalu
Pak Agus: Mas salah sambung kali
KLIK
telepon diputus
Wakakakakak
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 5:58 pm
heh apa- apaan ini? ngarang abiz
[Reply]
Wuihh keren banget catatan perjalanan lo bro… gua ngiri abess. sayangnya gua harus ke Solo pas kalian ke tempat ini huhuhuhuhu.
Anyway, you are a good story teller mri. mulai rancang2 nulis buku aja, gua yakin banyak yang bakal beli. tapi asmiranda mungkin nggak bakal beli
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 6:19 pm
Wow, bikin buku ya cip? kalaua begitu gue pengen judulnya hantu puncak datang matahari, atau hantu kuningan kebelet PUP berkesinambungan.. :))
hehe. Ntar deh kapan- kapan
[Reply]
setelah gegap gempita gosip bakal beredar kapan, akhirnya posting juga.
Baduy ini potret kesederhanaan hidup ya, bagemana mereka bertahan untuk tidak terpengaruh dengan perkembangan dunia luar, salut…
itu ga mw pake listrik juga keinginan mereka ato gimana?
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 6:21 pm
ya memang sudah adat mereka. Mungkin mereka takut kalau ada listrik bakal teknologi masuk ke kehidupan suku baduy
[Reply]
disabet buntut kerbau bego ade ade aja (rofl)
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 6:21 pm
*lirk- lirik tersangka*
[Reply]
saya jadi tertarik untuk kesana (yahooo) , amri yg mirip agmon ada ga ya..?
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 6:23 pm
ya cepetan kesana lah bro. Agmon? siapa itu?
[Reply]
neo Reply:
February 16th, 2010 at 11:37 pm
ya ilah.. agnes monica lah… (lol)
[Reply]
dhodie Reply:
February 18th, 2010 at 1:31 pm
dikira Pokemon kali, yan :lmao:
Berarti menurut poin ke 3 syarat ke-4 kaga bisa kesono donk gua (lonely)
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 6:23 pm
heh, emang lo belum disunat mon?
[Reply]
Montoq Reply:
February 18th, 2010 at 3:54 pm
dudul…
poin ke 3 syarat ke 4
“berat badan proposional (dikarenakan jalur treking yang susah)”
(taser) amri
klo sunat menyunat sih duluan gua drpd elo
[Reply]
eh cumi cumi ikan tenggiri, gue kagak ngeceeesssss…cmn bilang ganteng doank (doh) sayang doi gk boleh dipoto… (cry)
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 6:24 pm
iya elo gak ngeces, tapi ngileeer ..ckckckkck
[Reply]
putih merona sih mau, tp klo ternyata syaratnya seperti itu. hmmmm … kok kayaknya ga bakalan tahan ya :p
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 6:25 pm
Jiyahaha, sudah terbiasa di kota soalnya. Susah memang merubah habitat
[Reply]
setuju masbro.. pantangan itu mesti dihormati. kalo nggak pasti ada aja yang terjadi.
btw, kemarin kan saya ke sade rambitan. abis itu kamera saya hilang… apa di rumah sasak ada pantangan gak boleh foto-foto ya? masalahnya saya foto-foto dalem rumah sasak, di bale tani itu.. hehe..
[Reply]
lathiful amri Reply:
February 16th, 2010 at 6:26 pm
Baru dari Sade Lombok? wah kemarin pas saya kesana gak ada kejadian apa- apa tuh. Foto- foto juga oke saja. Situ gak izin dulu kali?
[Reply]
morishige Reply:
February 16th, 2010 at 6:45 pm
izin kok bro..
emang udah nasib kali kamera saya hilang di lombok. haha.. 
[Reply]
pengen kesana,,
minta guide amri ajah..boleh kan
[Reply]
annosmile Reply:
February 17th, 2010 at 2:42 am
sayang nggak boleh ambil foto
[Reply]
mantabs…menunggu trip berikutnya…kekekeke
[Reply]
mau donk di ajak2 klo mo jalan2..
hehehee ^_^
[Reply]
haha… what an amazing adventure…!!! Saia penasaran pengen lonjak2 di jembatan bambu itu :p Yang bikin saya geli adalah, mereka tidak kenal listrik, alas kaki, miskin akses informasi, tapi kenal rupiah! wakakakak (lmao)
[Reply]
Perjalanan yang muantebb pisan Mri. Baduy yang masih belum terjamah kepongahan kota.
Ditunggu jejalan selanjutnya ya
[Reply]
Menghibur banget mas ceritanya
Salut juga sama warga Baduy dan pas liat foto2 diatas percaya deh klo mereka bening-bening. Mungkin kesederhanaan yg bikin mereka bisa seperti itu ya
[Reply]
Halo salam kenal… boleh tuker link ya. soalnya aku seneng banget travelling.
[Reply]
wow… keren abis… jadi pengen… thanks ya wat info nya..
[Reply]
gaya nulisnya asik…
kpan klo k badui lagee kbar-kbari yaa..
pengen gabung ma team adong2 eeyyy…
[Reply]
Petualangan ini menarik karena diceritakan dengan menarik juga, great job!! Seru banget yah, jadi makin pengen kesana deh ^^
[Reply]
Amri,
sumpah seru abis perjalanan ke baduy itu…, walaupun baru kenal dan pergi mendadak buat gw,….tp team baduy ini kompak banget deh..
pengen lg jalan bareng hehehe…
kapan ya mri….
[Reply]
wuihhhhhhhhhh keren abis broooooooooow… gua ngiri abis baca catatan perjalanan lo…. wah moga aja gua bisa kesana hehehehe…. sumpah keren abis… eh lo bisa motret tuh… padahal ga boleh bawa kamera… kamera hp kali ye…hheheheheheh
[Reply]
sebelumnya salam kenal. Menarik sekali perjalanan anda dan dalam mengamasnya manjadi sebuah cerita juga keRen bganGeeeeddd….
saya mau nanya sekaligus minta saran nich. niatnya bulan mei ini kelompok saya berencana untuk membuat film dokumenter tentang suku baduy sebagai tugas kampus. dan menurut jadwal yang kami buat sendiri “yaiyalah masa dosennya yang bikinin jadwal untuk produksi hehe” kami akan melakukan riset sabtu n minggu ini. dan seperti apa yang saya baca diatas kalau pas bulan2 ini adalah pas puasa mereka. menurut anda saya dan kelompok saya harus bagaimana ??? mohon bantuannya… terima kasih.
[Reply]
amri Reply:
April 13th, 2010 at 12:10 am
Halo, salam kenal juga..
Kalau ingin membuat filem dokumenter mungkin bisa direncanakan jauh- jauh hari secara matang mulai latar, siapa narasumbernya dll. Kalau bulan April bisa kok, mungkin langsung kontak pak Agus Bule saja untuk koordinasi dan kerjasama. Thanks
[Reply]
yaya Reply:
April 13th, 2010 at 9:41 am
Terima kasih udah bales….
Untuk rencana latar ataupun narasumber sih kita belum begitu matang soalnya kan lum tau juga daerah sana, paling cuma bisa ngarang2 tentang settingnya. Kami mau ngambil tentang puasanya mereka sekaligus jika nanti ada acara nikah atau upacara lainnya kita mau dokumentasikan itu. Sedangkan narasumber kami mau wawancara pu’unnya, jaro, perwakilan masyarakat baduy dalam sama baduy luar. Oya mau nanya kalau untuk baduy dalam sama sekali gag bisa di dokumentasikan ya ? kira2 kalau kami mau coba secara baik2 buat minta izin, masih ada kemungkinan dibolehin gag ??
Boleh minta saran juga gag, tentang apa yang musti kita ambil gambar nantinya atau tentang narasumber yang cocok. Sebelumnya kami ucapkan terima kasih dan
maaf kalau ngerepotin…
[Reply]
amri Reply:
April 16th, 2010 at 1:12 pm
Kalau saran saya, mohon tidak mengekspose orang Baduy Dalam berupa gambar/ kamera. Mari kita hormati kebudayaan leluhur mereka, karena kalau mereka mempelajari teknologi modern, hilang sudah harmonisasi kehidupan mereka yang masih natural dan asli. Jika mau ambil narasumber, biasanya salah satu orang baduy dalam turun dari bukit menuju baduy luar. Nah, kalau sudah diluar area baduy dalam silahkan saja di interview. Mungkin mengenai hal ini bisa kerjasama dengan pak Agus Bule. Thanks
yaya Reply:
April 21st, 2010 at 5:34 am
ok. terimakasih buat informasinya sangat membentu kami dalam pembuaan dokumenter ini. kami akan menghormati kebudayaan mereka.
pengen deh ke baduy
[Reply]
If you’re in uncomfortable position and have no cash to go out from that point, you will need to take the loan. Because it would help you definitely. I take short term loan every single year and feel good because of it.
[Reply]
[...] di Cibom dan yang menjaga adalah anak buah pak Marwoto. Jalur trekkingnya gampang, tidak sesusah di Baduy. Dan ini dia foto- foto bukti jika pantai Ciramea memang benar- benar bagus [...]
hahahhaaaaa seruu..
amri bagi no hp lo dong.. or FB???? blas ke email gw yah…
[Reply]
Salam kenal, aq suka banget dengan perjalanannya di suku baduy dalam. jadi mau kesana…….. kelihatan nyaman dan damai bersentuhan dengan alam……… kalo mau kesana lagi jangan lupa ngajak2 ya…
[Reply]
Infonya manteps Boss, gue barusan kontak Pa AGUS…. katanya dia dah ganti nama jadi PATRICK……
pokoknya beliau siap memandu gue dan genk minggu depan…
thanks Boss AMRI infonya…
[Reply]
Duh mau ke sana nih…pasti seru ya……pengen ngersain suku baduy asli tuh kya pa ya…..pasti semuanya serba alami….
[Reply]
Wah….kayaknya Baduy the right place to hide buat orang2 yg lagi patah hati or dikhianati suami………., sambil menulis true story disitu, sapa tau bisa jadi novel laris maniz……spt…..badai pasti berlalui (baduy pasti berlalu kaleeee……)
[Reply]
apakah baduy luar juga bisa untuk menginap? dan apakah baduy luar bisa dikunjungi wisatawan mancanegara?
[Reply]
amri Reply:
July 25th, 2010 at 10:31 pm
bisa, dan juga boleh untuk wisatawan mancanegara kalau di baduy luar
[Reply]
tErharu banget liat anak-anak, orang orang badui masih kecil udah harus kerja…..pasti mereka lelah…skli..sbR lah sayang…..
[Reply]
salam kenal…
[Reply]
bukanya ini fto2 suku baduy luar.cz untuk ke baduy dalam dr baduy luar butuh waktu 6 jam lg kan??
[Reply]
amri Reply:
July 25th, 2010 at 10:32 pm
iya, keseluruhan foto ini diambil dari baduy luar
[Reply]
Wah…sayang bgt,suami aku bule,jadi kami gak bisa ke baduy dalam ya??gak da rahasia bwt siasatinya?
[Reply]
amri Reply:
July 25th, 2010 at 10:33 pm
iya, kalau bule tidak bisa masuk baduy dalam, maaf gak ada rahasianya.. Lebih baik kita ikuti aturan yang ada
[Reply]
I have been looking everywhere for this info. The search is finally over, great post!
[Reply]
Sampurasun dulur-dulur! saya mau ngasih bewara! tgl 3-9 agustus di lanmark braga bandung ada pameran buku. kebetulan saya dengan urang badui asli jualan asesoris ada baju, iket, songket. kesempatan pameran ini tidak akan datang dua kali. silahkan datang! masuk pameran gratis. hubungi saya di facebook; didintulus@ymail.com.
[Reply]
Wow this definitely takes me back, are you on twitter?
[Reply]
amri Reply:
August 20th, 2010 at 1:57 am
just follow me @lathifulamri or facebook account : lathifulamri@gmail.com thanks
[Reply]
hey hey hey you all, i’m really listless on the internet so you all should mail me if you are too, strike up a convo :). or possibly myspace, my name on there is brittany magyar
[Reply]
Wew, mantap.. Minta info soal bensin bos, masa cm hbs 130???
[Reply]